
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh., semoga blog ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang sudah mampir., sebelum melanjutkan tekan ctrl+d untuk mem-Bookmark page ini. Trims. Wassalam."
Sabtu, 12 Desember 2009
Rahasia Bulan Muharram

Sabtu, 05 Desember 2009
Munculnya Aliran Sempalan
Contoh kasus tentang aliran sesat ”Inkar Sunnah” yang sudah jelas-jelas telah dilarang dengan adanya Fatwa M U I (Majelis Ulama Indonesia) tanggal 27 Juni 1983 dan Surat Keputusan Jaksa Agung RI. Nomor : Kep-085/J-A/9/1985. Aliran yang secara formal pernah berkembang di Indonesia dengan tokoh intelektualnya Nazwar Samsu dan Dailami Lubis ( buku-bukunya juga sudah dilarang beredar di seluruh Indonesia ini).
Sekedar mengingatkan saja, bahwa sebagian ajaran pokok aliran Inkar Sunnah yang dianggap sesat adalah : mereka tidak percaya kepada semua sunnah/hadits Nabi saw; Dasar hukum Islam hanya Al-Qur’an saja, Mereka tidak wajib puasa Ramadlan kalau tidak melihat langsung tanggal satu/hilal (yang wajib hanya yang melihat saja) dll. Aliran semacam ini sekalipun sudah dilarang secara formal, tapi secara praktek di lapangan tidak menutup kemungkinan akan muncul dalam bentuk lain dan nama lain.
Peran Penyuluh Agama
Penyuluh Agama merupakan salah satu organ dari Departemen Agama yang dipandang sebagai wajah paling depan, karena tugas utamanya berhadapan langsung dengan masyarakat (wilayah publik). Oleh karena itu tampilan para penyuluh itu bisa menentukan citra baik atau buruknya Depag. di mata masyarakat luas. Penyuluh tidak hanya sekedar memberi ceramah di Majelis Taklim atau Khutbah jum’at di masjid. Tapi mereka juga ditunut lebih jauh dari itu, harus mampu dekat dengan umat dan mengambil hati masyarakat di sekitarnya. Pencitraan Depag. bisa dilakukan oleh para penyuluh, jika mereka memang capable dan mumpuni.
Untuk itu peran penyuluh agama sebagai penerang masyarakat juga sebagai guru yang bisa menyuarakan program-program Depag. Melalui edukasi publik. Terlebih Depag. mengemban amanat menjaga akidah dan moral umat. Paling tidak, dapat berperan sebagai pendamping umat dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahan dan keumatan secara bersamaan.
Peran penyelamatan akidah umat misalnya dapat dilakukan dengan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari melalui bimbingan dan pemantauan kegiatan ibadah. Baik di pusat-pusat peribadatan seperti mushalla, masjid atau majelis taklim. Bahkan kegiatan-kegiatan ibadah di padepokan-padepokan atau dari rumah ke rumah yang kini marak di lakukan di kota-kota.
Diteksi Dini
Untuk mencegah terjadinya aliran-aliran sempalan yang meresahkan masyarakat, maka perlu ada hal-hal yang harus dilakukan. Pertama, Pihak Depag, khususnya Penamas, hendaknya merekrut para penyuluh Agama yang memenuhi persyaratan minimal sebagai penyuluh di samping punya moral yang baik di depan masyarakat. Kedua, Pembekalan dengan juklak yang rinci yang dikeluarkan oleh Depag dan disosialisasikan secara berkesinambungan. Ketiga, Penyuluh Non PNS hendaknya dibekali dengan pembekalan yang sama dengan penyuluh PNS, agar dapat berjalan seiring dan saling memperkuat.
Di samping ketiga hal tersebut masih banyak hal yang harus dilakukan, misalnya berkoordinasi dengan pihak-pihak lain. Penyuluh di desa atau kelurahan hendaknya dikoordinasikan dengan program-program yang ada di kelurahan tersebut (tempat tugas/domisili Penyuluh). Program peningkatan mutu SDM (Sumber daya Manusia) bagi Penyuluh dilakukan secara berkelanjutan dan bisa bekerjasama dengan instansi terkait lainnya. Misalnya saja bekerja sama dengan Kejaksaan Negeri setempat dalam kaitan informasi tentang aliran-aliran sesat dari kacamata hukum. Juga bekerjasama dengan Kepolisian dalam kaitan informasi penyalah gunaan Narkotika/obat-obatan terlarang, penanganan/pencegahan prostitusi, penanggulangan traficking, KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), aborsi dan pelanggaran-pelanggaran susila lainnya.
Sinergi antara penyuluh Agama/Depag dengan pihak-pihak terkait lainnya, selain memudahkan beban tugas para penyuluh (karena adanya informasi yang akurat ), juga dapat meningkatkan confident (percaya diri) para penyuluh dan meningkatkan citra positif Departemen Agama di tengah-tengah masyarakat. Sekian . Wallahu a’lam.
H. A. Mahfudz Anwar
(Penyuluh Agama Non PNS, Kota Depok)
Selasa, 13 Oktober 2009
Tutup Puasa dengan I'tikaf
“Jama’ah Shalat Terawihnya semakin maju”, kata seorang pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) masjid di sebuah kompleks perumahan. Jangan keburu senang atau keliru persepsi. Yang dimaksud maju oleh Bapak DKM tersebut bukan semakin hebat jama’ahnya, tapi sebaliknya justru semakin berkurang. Coba bayangkan, pada waktu minggu-minggu pertama bulan Ramadlan hampir semua masjid atau mushalla penuh sesak jama’ah yang shalat Terawih. Tapi begitu memasuki pertengahan bulan puasa jama’ah mulai berkurang.
Memang bisa saja orang beralasan. Ada yang bilang : mungkin disebabkan Ibu-ibu banyak yang datang bulan (uzur syar’i). Ada yang mengatakan mungkin Ibu-ibu mulai sibuk bikin kuwe lebaran. Benar saja, itu bagi Ibu-ibu. Tapi kenyataannya bukan hanya ibu-ibu yang tidak datang ke masjid, tapi juga bapak-bapak. Lantas ada yang bilang, “Oo mungkin karena sudah banyak yang pulang kampong”. Yang jelas banyak sekali alas an yang dikemukakan atas bentuk kemajuan shaf (barisab) jama’ah shalat terawih.
Persoalannya, sebenarnya tidak terletak pada semua alasan tersebut. Persoalan yang sesungguhnya, adalah minimnya pengetahuan (keagamaan) tentang urgensi shalat malam atau terawih bagi shaimin dan shaimat. Bukankah semakin akhir Ramadlan justru semakin besar pahalanya.? Semakin bernilai transenden ? Ibaratnya orang pertandingan sepak bola, punya urutan yang lazim. Pertama disebut babak penyisihan, urutan kedua; babak semi final. Dan yang paling berat adalah babak final. Di mana semua peserta lomba harus meningkatkan stamina dan kemampuan bertandingnya. Demikian juga dalam menghadapi detik-detik ramadlan yang merambat menuju tangga terakhir (likuran, jw.)
Kontemplasi
Rasulullah saw. mengajarkan kepada para isterinya, sahabat-sahabatnya dan juga kita semua, bahwa menutup Ramadlan hendaknya semakin dekat dengan Allah. Semakin memperbanyak ihyau layali (melek malam). Semakin sering berada di masjid. Kalau biasanya banyak kerja di kantor atau tempat kerja, maka semakin akhir hendaknya sesering mungkin berada di masjid. Maka Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk ber-I’tikaf di masjid. Bahkan Nabi saw. bukan hanya semalam atau dua malam, tapi sepuluh malam terakhir bulan Ramadlan.
Apa itu I’tikaf ? I’tikaf itu ya berdiam diri di masjid. Berdiam saja, nggak ngapa-ngapain. Lalu mungkin ada yang bertanya; untuk apa berdiam diri di dalam masjid.? Tentu saja pertanyaan semacam itu logis saja bagi manusia. Apa lagi manusia modern yang sibuk dengan aktifitas duniawi seperti sekarang ini. Kok buang-buang waktu saja, begitu gerutunya. Pada hal kalau mau tahu, yang namanya I’tikaf itu merupakan kontemplasi tingkat tinggi. Di mana seseorang butuh satu waktu untuk berdiam diri secara fisik. Tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh tidak banyak bergerak. Bila perlu duduk bersimpuh. Untuk ber-munajat kepada Sang Pencipta; Allah Rabbul jalali.
Dengan berdiam diri itulah, sa’at yang tepat untuk merenung, introspeksi dan koreksi atas perbuatan kita selama satu tahun yang telah lampau. Plus-minusnya dari tindakan kita. Apakah sudah sesuai perjalanan kita dengan tuntunan Tuhan atau masih jauh dari tatanan dan tuntunan kosmic dan syar’i. Hukum alam (sunnatullah) atau syari’at-Nya. Kalau belum, di bagian mana yang kurang. Kalau masih banyak penyimpangan yang mana yang harus dikembalikan pada rel yang benar. Lalu rencana ke depan, apa yang harus kita kerjakan. Masa depan di dunia, juga masa depan di akhirat. Firman-Nya “wal-tandzur nafsum maa qaddamat lighad”. Semua orang hendaknya mau melihat pekerjaan yang sudah untuk melangkah ke depan.
Toleran
Dengan puasa yang penuh ketekunan dan keikhlasan memungkinkan manusia untuk melakukan penghayatan spiritual. Melakukan perenungan yang salah satunya bersedia menyisihkan sebagian waktunya untuk ber-I’tikaf di masjid. Sebab dengan I’tikaf itulah seseorang dapat keheningan dan kebeningan hati. Suara hati akan terdengar nyaring oleh pemilik telinga.
Dengan begitu setiap tarikan nafas orang yang melakukan I’tikaf akan dapat merasakan bahwa manusia itu kecil di hadapan Tuhannya. Merasa tak berdaya dibanding dengan kebesaran Tuhan yang mencipta dan mengatur kosmos semesta ini. Jadi yang besar itu hanya Tuhan. Bukan manusia, sekalipun berpangkat maupun berharta atau berlimpah dunia. Mengapademikian ? Karena ia mengetahui jika penya jabatan, itu hanyalah titipan Tuhan yang sebentar lagi akan diambil kembali oleh yang menitipkannya. Kalau ia punya harta kekayaan, maka ia sadar bahwa harta itu juga titipan. Pemilik yang hakiki adalah Yang Maha pemberi adan Maha Pemurah, yaitu Allah swt. Lantas bagaimana dengan hak manusia ?
Hak manusia hanya berhak memanfa’atkan. Berhak menikmati tanpa harus merusak. Maka Allah swt. juga memberi tahu kepada kita bahwa kepemilikan harta dunia itu hanya kamuflase. “Wamal-hayatud dun ya illa mata’ul ghuruur”, tiadalah kehidupan dunia itu kecuali hanya tipuan belaka.” Artinya kesengan dunia hanya sesa’at, tidak abadi. Maka dari pemahaman itulah seseorang yang lulus dalam I’tikafnya akan merasa senasib dan sepenanggungan dengan orang-orang lain yang ada di sekitarnya. Karena pemahaman inilah , maka ia hormat pada orang lain. Bisa memahami keberadaan orang lain dan bisa bekerja dengan orang lain. “Lita’arafuu”, untuk saling kenal dan “ta’awun”, saling Bantu membantu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi semakin toleran terhadap orang lain. Karena merasa saling menyangi dan disayangi.
Semoga puasa yang kita lakukan selama Ramadlan kali ini dapat mendorong kita untuk mengakhirinya dengan ber-T’ikaf di masjid-masjid. Guna menyempurnakan ibadah kita, sehingga meraih derajat taqwa yang sebenar-benarnya. Wallahu a’lam bis shawab.
Read More..
Kamis, 01 Oktober 2009
Tawakal Cinta

Coba perhatikan perilaku manusia yang baik terhadap anaknya. Dengan rasa cintanya, seorang tua akan memberi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh anak-anak nya. Dan pemberian itu disesuaikan dengan kebutuhan anaknya. Anak yang masih kecil dibelikan susu botol. Anak remajanya diberi uang untuk beli jajanan bakso, anak yang hampir menikah dibelikan baju pengantin dan begitu seterusnya. Jadi ukuran pemberian orang tua kepada anak disesuaikan dengan kebutuhan anak. Tidak disesuaikan dengan kebutuhan orang tua. Begitulah logika sederhana perhatian Tuhan terhadap manusia sebagai hamba-Nya yang dicinta. Tak ada alasan bagi –Nya untuk tidak memberi kebutuhan hamba-Nya yang bergantung kepada-Nya. Allah semakin senang, jika hamba-Nya semakin mendekati-Nya. Semakin cengeng kepada Tuhan, maka Ia akan merasa Iba dan kasihan kepadanya. Sehingga Allah tak segan-segan memberi apa saja yang mereka minta kepada-Nya. Hanya Kepada Allah.
Orang yang tidak berserah diri kepada Allah adalah orang yang masih dihinggapi sifat sombong. Sebab ia merasa bisa melakukan segala sesuatu tanpa bantuan Allah. Padahal semua pekerjaan kita tak ada satupun yang lepas dari bantuan Allah. Misal orang berdagang ada yang laku laris, ada yang laku sedang-sedang saja dan ada pula yang tidak laku sama sekali. Mengapa demikian ? Sebab usaha manusia hanya merupakan sebab atau wasilah dari suatu keberhasilan. Hanya perantara saja. Sedangkan hasil atau tidaknya tergantung pada keputusan Allah swt. Orang yang bergantung kepada keputusan Allah adalah sebagai tanda rasa cintanya kepada Tuhannya. Dan inilah yang menjadi tuntutan setiap manusia yang bertuhan. Kenapa manusia harus bergantung kepada Kekuatan Tuhan, sebab selain Tuhan tidak ada yang mempunyai kekuatan seperti kekuatan Tuhan Yang luar biasa dahsyatnya. Demikian juga makhluk selain Tuhan, mereka juga butuh hidup seperti kita juga. Mereka butuh hidup, butuh pertolongan dan butuh gantungan. Maka aneh jika ada manusia yang dalam hidupnya tidak mau bergantung kepada Tuhan. Bukankah Tuhan Allah Yang Maha Mulia dan Perkasa ?
Mencari backing kepada makhluk tak ubahnya mencari perlindungan di balik rumah laba-laba (ankabut). Tertiup angin sedikit saja bisa rusak. Apa lagi percaya bahwa kekuatan manusia mampu menghasilkan kekuatan energi yang mampu mendorong manusia untuk berhasil. Sama sekali tidak demikian. Sebab keberhasilan manusia hanya tergantung pada Allah semata. Maka rizki yang kita cari bukan dari orang lain. Tapi dari Allah swt. yang kita mohon agar menggetarkan orang lain buat pemenuhan kebutuhan kita. Itulah fungsi do’a di hadapan Allah swt. Maka dalam ibadah puasa sebenarnya adalah membersihkan akidah tauhid setiap manusia yang beriman. Puasa bukannya menjadikan gila kerja, tapi puasa mengantarkan manusia menyeimbangkan kerja. Seimbang antara kebutuhan manusia dan iradah Allah. Seimbang antara kebutuhan duniawi dan kebutuhan ukhrawi. Ibarat kata : siang jadi tentara, malam jadi malaikat.
Bukan Cinta ButaMencintai Allah bukan berarti membabi buta. Siang dan malam hanya untuk shalat saja - misalnya. Tapi cinta kepada Allah adalah jika kita mampu memberikan cinta yang sesuai dengan porsinya. Itulah sebabnya Nabi saw. mengajarkan : ”bahwa Allah punya hak yang harus kita tunaikan, kita juga punya hak yang harus kita berikan, istri kita juga punya hak yang wajib kita berikan. Dan begitu juga semua manusia yang ada di sekitar kita memiliki hak yang harus kita berikan kepadanya”.
Maka orang muslim yang berakhlak mulia adalah orang yang mampu memberikan hak kepada setiap yang memiliki haknya. Tidak berani ngembat milik orang lain. Apalagi ngembat milik Tuhan. Penyembahan kepada Tuhan adalah hak Allah yang harus kita tunaikan. Jika kita tidak berpuasa Ramadlan-misalnya itu artinya sama saja dengan ngembat milik Tuhan. Jika kita berani mengatakan kita mencintai-Nya, maka kita harus berani berkurban untuk-Nya. Berpuasa dengan lapar dan haus adalah sebagian dari pengurbanan kita. Dan tiada pengurbanan tanpa ada imbalan. Setiap pengurbanan pasti akan mendatangkan imbalan yang setimpal. ”Al-Ujratu bi-qadrit-ta’ab: imbalan itu seimbang dengan kepayahannya.” Maka semakin maksimal usaha seseorang, maka semakin maksimal pula ganjarannya.
Semoga di bulan yang suci ini kita termasuk orang yang mencintai Allah dengan setulus hati. Dan termasuk orang yang mampu membuktikan rasa cinta itu di hadapan Sang Khalik Yang Maha Rahiem. Tidak sekedar di hadapan sesama manusia. Wallahu a’lam bis shawab.
Selasa, 29 September 2009
Tawakkal Bukan Putus Asa
Tawakal sering disalah artikan oleh banyak orang. “Ah, saya tawakal saja”, begitu gumamnya ketika malas bekerja dalam kemiskinannya. Pada hal yang sesungguhnya tawakal itu “berserah diri kepada Allah swt”. Menggantungkan usahanya kepada Allah swt. setelah berusaha maksimal. Dan menyandarkan kekuatannya kepada kekuatan Tuhan Yang Maha Kuat.
Ketika seseorang menyatakan dirinya bertawakal kepada Allah swt, maka orang tersebut semestinya memperoleh kekuatan baru, kekuatan yang datang dari Allah swt. Sebab orang yang tawakal itu tidak mengenal putus asa dalam hidupnya. Mengapa demikian ? Karena tawakal kepada Allah swt. itu merasa dibantu oleh Tuhan yang Maha Hidup dan tak pernah mati. Artinya sebagai tempat bergantung yang tak ada batas akhirnya. Berbeda halnya jika bergantung kepada selain Allah (makhluk); pasti ada batasnya. Ada akhirnya, bisa usang, bisa lapuk, bahkan bisa lenyap dari muka bumi ini.
Karena itu orang yang tawakal merasa tenang dalam menghadapi kehidupan ini. Apa pun persoalannya, kecil maupun besar dihadapi dengan tenang dan tidak emosional. Ia yakin bahwa usahanya tidak akan sia-sia. Setiap apa yang dikerjakan ia yakini membawa dampak. Apa lagi perbuatan baik, pasti berakhir baik pula. Jadi ia yakin bahwa janji Allah itu pasti kan datang kepadanya.
Tidak Gentar
Dalam sejarah Islam dituturkan, ketika umat Islam diprofokasi oleh orang-orang munafik agar memboikot instruksi Nabi saw. tentang perang Badar. Mereka mengatakan “Hasbunallah wa nikmal wakiel”, cukup Allah Yang melindungi kami, karena Dia-lah sebaik-baik Pelindung. Jadi sa’at itu umat Islam (yang diprofokasi) bukannya patah semangat, tapi sebaliknya justru berkobar-kobar semangat joangnya. Segala kemampuan mereka kerahkan untuk jihad melawan musuh. Harta dan jiwanya mereka curahkan sepenuhnya untuk kepentingan jihad itu.
Pada hal mereka tahu bahwa kekuatan fisik maupun ketersediaan logistik musuh jauh lebih hebat dari pada persiapan kaum muslimin. Dengan modal pas-pasan, tapi semangat maksimal akhirnya mereka tidak gentar sedikitpun menghadapi musuh yang jauh lebih kuat. Mereka yakin bahwa mereka bekerja dalam bimbingan Tuhannya, maka Tuhan pun menolongnya. Dan akhirnya mereka peroleh kemenangan gemilang berkat Fadlal dan Rahmat-Nya, tanpa ada hambatan yang berarti.
Dalam menggambarkan keberhasilan mereka, Allah swt. menandaskan dalam firman-Nya : “Betapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang lebih besar.” Hal ini meyakinkan kepada kita bahwa orang yang tawakal itu tidak gentar menghadapi apa pun. Asal dia berjalan dan bergerak dalam aturan Allah. Karena aturan Allah dibuat bukan untuk memberatkan manusia, tapi justru sebaliknya membuat kemudahan dalam hidup ini. Maka sebenarnya dalam keterpurukan ekonomi bangsa
Produktifitas tinggi
Nabi saw. Mencontohkan tawakal itu seperti perilaku burung. Sabdanya : “ Burung itu kalau pagi perutnya kosong, lalu terbang ke
Oleh karena itu orang yang tawakal tidak pernah stress apa lagi gila. Baik gila harta, gila jabatan, apa lagi gila beneran. Bagaimana mungkin ? Orang tawakal itu berfikirnya pas, sesuai dengan takaran. Dan bekerja pun sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Tidak ngoyo, tidak memaksakan diri, tidak melampaui batas. Kerja kerasnya terukur. Kerja terus, tapi di sa’at azan, ia pun shalat. Dan targetnya juga terukur, tidak mau melampaui batas kemampuan yang bisa jadi menyebabkan korupsi dsb. Jika targetnya tidak tercapai, dikembalikan kepada Allah swt. Keyakinannya terhadap kehendak (Iradah) Allah menjadikan peran dirinya dalam hidup ini hanya sebatas kemampuan yang diberi Allah.
Maka orang yang tawakal selalu sadar bahwa tidak selalu modal kecil untung kecil, modal besar untung besar. Bisa saja terjadi sebaliknya. Karena hanya Allah yang mampu memberi keuntungan atau kerugian. Yang penting bagi dirinya adalah kerja keras dan tidak melanggar aturan. Logikanya semakin tepat dengan aturan , maka semakin mendekati keberhasilan. Wal-hasil dunia tidak dikejar, tapi dunia yang akan mengejar. Sebab setiap prestasi akan mendatangkan bonus tersendiri. Dan setiap pelanggaran akan mendatangkan kerugian. Maka (seperti dalam sejarah) wajar kalau Nabi Musa alaihis salam sukses berjuang dan selamat dari ancaman Fir’aun, karena ia mengatakan :”wa ufawwidlu amri ilallah,” dan aku serahkan sepenuhnya urusanku kepada Allah. Dalam hal itu ia katakan setelah berjuang keras, baru menyatakan berserah diri kepada Allah.
Kalau kita belajar dari kisah perjalanan sukses Nabi Musa tersebut, maka Fir’aunisme yang sekarang merajalela tidak menjadi penghalang dalam optimisme hidup ini. Semoga akan muncul Musa - Musa abad modern yang mampu menyelamatkan umat ini dari keterpurukan dan kehancuran. Wallahu a’lam bis shawab.