"Welcome to LENTERA ISLAM" Semoga bermanfaat Happy Reading
Tampilkan postingan dengan label berkas-berkas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berkas-berkas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2015

LP MA'ARIF NU - Konsisten Pada Pendidikan Akhlakul Karimah

 
http://www.nu.or.id/onefiles/nu_or_id/dinamic/mid/1372809801.JPG 



LP.Ma’arif NU Konsisten Pada Pendidikan Akhlakul Karimah

Fakta di lapangan menunjukkan betapa rawannya Pendidikan bangsa kita ini sedang di ambang batas ketidak sempurnaan. Banyaknya aksi kejahatan, aksi amoral yang terjadi di mana-mana mengingatkan kita pada masa-masa awal kemunculan Islam yang dihadapkan pada masyarakat Jahiliyah. Kini muncul Jahiliyah modern yang menjadi penghambat pembangunan manusia modern. Maka PB NU ( Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) melalui Badan otonomnya, L P. Ma’arif telah berpuluh-puluh tahun berjuang mendandani Pendidikan bangsa Indonesia. Bukan hanya melalui Pondok-Pondok Pesantren saja, tapi juga sekolah-sekolah umum yang di bawah naungan binaannya yang tersebar luas di penjuru Indonesia.
Berikut ini petikan wawancara Reporter Warta Al-Hamidiyah bersama Ketua LP Ma’arif Pusat K. H. Arifin Djunaidi, di suatu acara di kediaman Prof.Dr. K.H. Agil Siradj, MA, Ciganjur beberapa waktu lalu. 
Read More..

PEMBEKALAN SANTRI XII MA

SILABUS  MATERI
Pembekalan Santri XII MA-2015

I. MATERI DASAR
1. Mukaddimah Qanun Asasi, li jaam’iyah Nahdlatul Ulama’.
a. Dasar Pemikiran Qanun Asasai
1. Ayat=ayat Al-Qur’an.
2. Hadits-hadits Nabi saw.
b. Ahlus sunnah wal jama’ah = ahli mazaahibil A’immah al- arba’ah.
2. Ke-NU-an dan Kebangsaan.
a. Alasan mengapa saya masuk NU.
b. Latar belakang berdirinya NU.
c. Ulama’ulama pendiri NU dan tokoh-tokoh NU.
d. Perjuangan NU dari dulu sampai sekarang.
e. Peran NU dalam pembangunan kenegaraan/kebangsaan.
f. Perbedaan NU dengan organisasi lainnya.
3. Ke-PMII-an
a. Alasan mengapa saya masuk PMII.
b. Latar belakang berdirinya PMII dan tokoh-tokohnya.
c. Perjuangan PMII dari berdiri sampai sekarang.
d. Perbedaan PMII dengan organisasi kemahasiswaan lainnya.
4. Nilai-nilai ke-Pesantrenan
a. Penyempurnaan hablum minallah (ibadah).
b. Berusaha menjadi Khaira ummah.
c.  Berkepribadian yang terpuji.
d. Berkepribadian yang tangguh.
e. mampu memecahkan masalah yang dihadapi.
f. Berusaha melestarikan nilai-nilai kepesantrenan.
5. Ilmu Kepemimpinan.
a. Mengenal Pemimpin Muslim yang sukses.
b. Berusaha menjadi Pemimpin Ummat yang baik, adil dan jujur.
c.  Selalu berusaha menjadi Pemimpin di setiap tingkatan/komunitasnya.
6. Strategi Dakwah
a. Berusaha dakwah bil-lisan dan bil–kitabah.
b. Mengenal dan Mencontoh para da’i yang sukses.
c. Berdakwah di setiap komunitasnya.
II. MUAMALAH
1. Kitab Uqudullujjain (target hatam). Mempersiapkan Etika berrumah tangga.
2. Kitab Ushfuriyah (target hatam). Kisah-kisah perilaku kariemah.
III. DO’A-DO’A
-          Do’a-do’a harian, berdasar kitab Azkar Nawawi.

IV. Amaliyah Harian
  1.  Menjadi Protokol yang handal.
  2.  Ceramah yang baik dan benar.(Pr)
  3. Khutbah Jum’at.(Lk).


                                                  

                                                                      Depok, 1 April 2015


Read More..

Serpihan Cinta di Bandara "KING ABDUL AZIZ"

Kisah ini saya tulis di Makkah, Oktober 2014
 Oleh :  A. M. Anwar

Awan putih bergulung-gulung. Seakan berkejaran satu sama lain. Berlari ke arah barat. Dari arah Syi’ib Amir menyeberangi Ka’bah menuju arah Aziziyah. Sesekali terlihat burung dara Fatimah berwarna megan melayang-layang di atas pusaran Ka’bah. Menambah cantiknya pemandangan Kota Mekah manakala Maghrib menjelang. Manusia berpakaian serba putih berbondong-bondong  memadati jalan raya dan gang-gang sempit di pasar Seng maupun pasar Halabi sekitar Masjidil Haram. Arahnya hanya satu, yaitu menuju masjid besar Kota Suci Mekah, Baitul Atiq.
Sementara di sekitar Ka’bah sudah dipadati lautan manusia berputar-putar mengelilingi Ka’bah. Kalau saja dilihat dari atas, maka akan tampak seperti kue bundar yang ditaburi susu kental putih melingkar. Atau seperti hamparan sajadah putih melingkupi Masjidil Haram. Begitu kumandang azan mengalun, tak lama kemudian solat Maghrib dimulai. Suara Imam besar Syekh Abdur Rahman Atsubaiti terdengar mengimami shalat yang terdengar di seantero Mekah.
Read More..

Rabu, 10 Juli 2013

Makan sahur, agar tetap produktif


Puasa itu memang lapar dan haus. Karena menahan diri dari makan dan minum. Dan dampak dari itu maka orang yang berpuasa terasa lemas dan kurang bertenaga. Sehingga banyak orang Islam yang enggan berpuasa dengan alasan bekerja yang memang membutuhkan tenaga. Tapi di samping itu juga banyak orang yang mampu berpuasa walaupun mereka bekerja keras, baik kerja fisik maupun non fisik.
Pertanyaannya “mengapa ada orang yang kuat berpuasa dan ada yang tidak mampu berpuasa ?” Jawabnya terletak pada batin masing-masing orang. Orang yang tidak kuat berpuasa dengan alasan bekerja sebenarnya sah-sah saja. Tapi bukankah dari dulu orang sudah bekerja dan bisa berpuasa.? Tentu saja hal ini sangat tergantung pada sejauh mana kesetiaan seorang muslim kepada Tuhan dan Rasul-Nya.
Syari’at puasa bukan untuk memperberat beban mukallaf (Orang Islam, dewasa dan berakal sehat), tapi syari’at puasa sebenarnya merupakan proses penguatan psikis seseorang yang berpuasa. Karena dengan berpuasa itu seseorang dapat berlatih mengendalikan diri (nafs). Logikanya kalau makan dan minum yang halal saja dia mampu menahan diri, apalagi makan dan minum yang haram. Pasti dia akan lebih mampu menahan diri. Sebagaimana Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an :”Yuridullahu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul ‘usra  : Allah swt. (dengan berpuasa) menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan.”
Maka Rasulullah swt juga mengajarkan agar dalam berpuasa itu tidak meninggalkan sahur. Arti sahur adalah makan menjelang subuh/pagi. Mengapa orang berpuasa disuruh makan menjelang pagi ? Hal ini untuk meringankan beban ketika di siang hari. Karena sudah ada persiapan tenaga. Jika seseorang bekerja fisik, maka sahurnya banyak karbohidratnya, sedangkan orang yang bekerja non fisik, banyak makan proteinnya. Dengan demikian di siang hari walau berpuasa tetap kuat dan segar.
Dalam Hadits Sohih Bukhari-Muslim, Rasulullah saw. bersabda : “Tasahharuu  fainna fis sahuuri barakatan, bersahurlah kamu sekalian, karena sesungguhnya di dalam (makan) sahur itu terdapat barakah.”  Hadits ini jelas mengajarkan kepada kita agar makan sahur menjelang waktu fajar. Di mana waktu tersebut adalah waktu yang sangat mulia untuk ibadah. Dengan makan sahur, seseorang bisa bangun di akhir malam dan bisa melanjutkan kegiatan sahurnya dengan solat-solat sunnat, zikir, istighfar atau membaca Al-Qur’an. Seandainya tidak sahur, maka dimungkinkan tidak bisa beribadah di akhir malam tersebut.
Sungguh indah ajaran Islam. Berpuasa, tapi disuruh makan sahur. Maka walaupun siangnya tidak makan dan tidak minum, tapi shaim (orang yang berpuasa) tetap bisa bekerja dan produktif. Jadi sangat naïf, jika orang Islam tidak berpuasa di bulan Ramadlan ini dengan alasan takut tidak kuat bekerja. Dan sebaliknya, sungguh mulia orang Islam yang berpuasa walau kerjaan numpuk segudang. Perut boleh lapar, tenggorokan boleh haus, tapi jiwa tetap semangat. Insya Allah pahala akhirat didapat dan keuntungan dunia juga diperoleh. Dan itulah harapan kita semua, untung di dunia dan sukses di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang senang dengan ibadah puasa yang dijanjikan surga  oleh Allah swt. Amien.
Read More..

Membumikan Amalan Puasa

Ada tiga macam Ibadah dalam Islam. Pertama Ibadah dengan jiwa, kedua Ibadah dengan tenaga dan jiwa, ketiga ibadah dengan tenaga, jiwa dan harta. Berpikir positif adalah Ibadah dengan jiwa. Puasa dan shalat merupakan contoh ibadah dengan tenaga dan jiwa. Dan Ibadah haji/Umrah adalah Ibadah dengan tenaga, jiwa dan harta.
Orang puasa tidak membutuhkan harta. Karena puasa malah menahan agar tidak makan dan minum. Sedangkan berbuka dan sahur adalah pindahan dari kebiasaan makan saja. Dari siang dipindah ke malam hari. Jadi praktis orang yang berpuasa tidak membutuhkan modal sebagaimana Ibadah zakat ataupun haji.
Namun demikian syari’at tentang puasa bisa berdampak social yang tinggi. Betapa tidak, orang yang batal puasa karena hubungan suami-istri di siang hari misalnya, ia harus didenda membayar 60 mud (dibulatkan 60 liter) beras undtuk diberikan kepada fakir-miskin. Seorang Ibu yang tidak berpuasa karena hamil atau menyusui, kena denda membayar mud juga (atau seliter beras per hari). Seorang kakek yang sudah lanjut usia boleh tidak berpuasa dengan cara mengganti bayar mud seperti Ibu hamil tersebut.
Seperti dalam kisah Hadits Rasulullah riwayat Muslim, bahwa pernah ada seorang sahabat yang melapor kejadian di siang hari Ramadlan. Ia telah berhubungan suami-istri di siang hari, lantaran tidak tahan. Maka Rasulullah bertanya, al : Fa hal tajidu ma tut’imu sittina miskinan ? (Apakah kamu mempunyai makanan untuk diberikan kepada 60 orang miskin). Jadi orang tersebut dikenakan sanksi karena membatalkan puasanya dengan berhubungan suami – istri.
Pertanyaannya, apa hubungannya batal puasa dengan memberi makan orang miskin ? Hal ini seakan tidak nyambung. Tapi kalau kita renungkan lebih dalam, maka akan kita dapati bahwa puasa sasaran akhirnya adalah membentuk manusia-manusia yang tidak egois. Yaitu manusia yang mempunyai rasa empati terhadap kemiskinan atau kesusahan orang lain.
Dan hal ini sangat cocok dengan kondisi zaman sekarang. Betapa pincangnya antara kehidupan orang-orang kaya dengan orang miskin. Di samping gedung-gedung yang mewah dan menjulang, di sekelilingnya masih terdapat ribuan rumah-rumah reyot yang dihuni para fakir-miskin. Kehidupan yang amat timpang dari segi ekonomi. Semakin tak terkendalinya laju pertumbuhan kaya dan si miskin, seakan balapan. Si miskin bertambah miskin dan si kaya bertambah kaya.
Dan ibadah puasa inilah yang sebenarnya salah satu upaya dari Islam untuk menjembatani gep antara si kaya dan si miskin. Jadi Ibadah puasa bukan semata-mata ajaran langit, tapi juga ajaran bumi. Maksudnya Allah mengajak manusia agar mau hidup tolong-menolong di antara sesamanya. Al-Qur’an mengajarkan “Wa ta’awanuu alal birri wat taqwa.” Dan saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa.
Sikap saling tolong-menolong bisa tumbuh manakala seseorang telah merasakannya. Seperti puasa mengajarkan menahan lapar dan haus, sehingga mengajarkan rasa simpati kepada orang miskin yang lapar karena kurang makan. Dan orang yang mempunyai kelebihan makanan/harta  bisa berbagi kepada yang lebih miskin. Rasa simpatik dan empati inilah yang diharapkan tumbuh dalam setiap diri umat Islam yang berpuasa dengan benar. Dengan cara berbagi kail bukan berbagi ikan.
Selanjutnya orang-orang borjuis dapat berbagi permodalan kepada yang di bawah. Sehingga tata ekonomi kita bisa tumbuh bersama. Tidak hanya di kalangan si kaya saja, tapi juga kaum lemah bisa meningkat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Dan itulah yang sebenarnya diajarkan dalam ekonomi syari’ah. Yaitu pemberdayaan ekonomi umat dengan cara saling menopang, saling menguntungkan, bukan dengan cara menindas seperti renteneer. Dan kini telah tiba waktunya umat Islam untuk bangkit merakit persaudaan ekonomi. Di samping persaudaraan tauhid.
Ibadah puasa Ramadlan ini  hendaknya menjadi inspirasi bagi para aghniya’ (pengusaha) untuk meningkatkan kerjasama permodalannya kepada pelaku usaha kelas kecil dan menengah. Sehingga melahirkan manusia-manusia yang kuat ekonominya dan kuat Imannya. Amien.

Read More..

Jumat, 24 Mei 2013

Program Utama Islamic Value

Ada tiga program utama Islamic Value yang dapat dikembangkan, yang meliputi : 
1. Aplikasi Ibadah Diharapkan anak didik terbiasa menjalankan Ibadah mahdloh maupun ghair mahdloh, wajib maupun sunnah. Misal dengan pembiasaan shalat berjama’ah Dzuhur dengan para Guru. Shalat Dluha bersama-sama dengan para pembimbing/pendamping. 
2. Terampil membaca Al-Qur’an Diharapkan out put peserta didik mampu membaca Al-Qur’an ( 30 juz ) dengan baik dan benar sesuai dengan kaedah Tajwid. Dan mampu hafal dengan baik, sehingga dapat ditargetkan selama tiga tahun (sekurang-kurangnya) bisa menyelesaikan 37 surat – surat pendek (juz 30) dari tiga tahap (An-Naas s/d An-Naba’). 
3. Integrasi silabus Mata pelajaran 

     Diharapkan peserta didik mampu memahami dan mengaplikasikan setiap pelajaran dengan dua sisi, dari segi materi keilmuan ansich maupun dari sisi kaedah-kaedah Agama. Sehingga Guru mampu menjelaskan nilai-nilia ke Islaman dalam setiap materi pembelajaran yang ada pada silabus. Misalnya tema pembelajaran tentang/bab Ekonomi (mata pencaharian), maka nilai ke islamannya adalah mencari ekonomi (rizqi ) yang halal dan barakah. Ketika Pelajaran Bahasa Inggris, Tema tentang pertemuan, maka ucapan salam ala Islam “Assalamu alaikum wr. Wb.” di samping Good morning dsb. juga dijelaskan oleh Guru bersangkutan. 
       Disertai dalil Al-Qur’an or al-Hadits. Integrasi silabus tak terpisahkan dengan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Di mana dua langkah utama harus dilakukan. Pertama dengan mengoreksi ideologi sekuler yang bertentangan dengan Islam, yang kedua menyerap unsur-unsur utama Islam (Al-Qur’an dan al-Hadits). Di samping konsep dasar Islam seperti Konsep Tauhid, Syari’ah/Fiqih, dan syirah Nabawiyah (Akhlakul Kariemah). Juga hendaknya dikembangkan konsep universal seperti al-adalah ( adil ), al-musawah (egaliter), dll Dalam pengembangannya Kurikulum Islamic Value hendaknya berpijak pada konsep yang dikembangkan oleh Islam Ahlus sunnah wal jama’ah yang mengedepankan asas “Rahmatan lil ‘Alamin” pembawa rahmat bagi semua orang atau kebaikan untuk semua, tanpa membedakan (secara materi) tingkat dan kedudukan perseorangan. Yang akhirnya menjadi Muslim yang intelek dan Intelek yang muslim. Wallahu a’lam bis shawab.
Read More..

Menanamkan Islamic Value di Sekolah

     Tidak dipungkiri lagi bahwa fakta di masyarakat telah terjadi pergeseran nilai-nilai ke-Islaman yang sudah sangat menghawatirkan atas masa depan suatu bangsa. Bahkan nilai-nilai kemanusiaan secara Universal pun mulai tergerus oleh suatu budaya Gelobal yang tak mengenal batas. Sehingga batas antara norma-norma positif dengan norma-norma negatif tidak tampak jelas. Akhirnya masyarakat sulit membedakan antara kebenaran hakiki dengan kebenaran semu. Maka terjadilah kerancuan pandangan dan orientasi hidup atau disorientasi. Berangkat dari fakta itulah maka tokoh-tokoh muslim yang peduli akan dunia pendidikan mengambil peran penting untuk menyelamatkan umat dari tragedi kemanusiaan yang terlepas dari dasar-dasar keimanan dan keislaman. 
   Gagasan tersebut adalah mimpi besar yang tentunya memerlukan tenaga-tenaga yang terampil dan mampu mengimplementasikan dalam pengembangan silabus yang terprogram dan pola-pola hidup keseharian selama di sekolah, mulai dari jam 07.00 sampai dengan jam 15.00 WIB. Karena pembentukan karakter anak didik akan dihabiskan waktunya selama ia berada di lingkungan sekolah, sehingga kehidupan rumah hanyalah sebagai pendukung atas program-progarm sekolah. Jadi keberhasilan dan ketercapaian kognitif dan afektif sangat ditentukan oleh pihak/lingkungan sekolah. Sehingga kalau itu berhasil, maka sekolah-lah yang layak mendapatkan acungan jempol.

Read More..

Hati

     


Seorang anak yang akan pergi berpamitan kepada kedua orang tuanya, maka dikatakan “Hati-hati, di jalan”. Seorang karyawan junior yang akan melakasanakan tugas baru di sebuah cabang perusahaan, dikatakan oleh seniornya : “Hati-hati di tempat barumu”. Seorang suami yang akan berangkat tugas jauh, dikatakan oleh istrinya :”Hati-hati ya Mas..”. Semua orang mengatakan hati-hati. Tidak mengatakan pikir-pikir –misalnya- atau mengatakan “kaki-kaki ya”, karena berjalan pakai kaki. Padahal setiap melangkah harus menggunakan akal pikirannya. Dan kalau berjalan kakinya yang harus waspada, agar tidak tersandung. Dan seterusnya. Mengapa Hati yang disebut-sebut? Karena hati adalah pusat segala kehidupan.
        Manusia bisa selamat juga karena hati. Orang bisa tersesat juga karena hati. Orang bisa sukses memimpin dunia juga karena hati. Ibu berhasil mendidik anaknya juga karena dengan hati. Seorang pemuda berhasil memikat seorang Gadis, juga karena hati. Wal-hasil semua bisa diraih, dengan hati. Maka itulah mengapa Rasulullah saw. bisa berhasil dalam berdakwah? Karena beliau mendidik manusia dengan hati. Sebaliknya, jika seorang Penguasa ingin menundukkan hati rakyatnya dengan kekerasan (diktator), maka hasilnya akan menimpa balik pada dirinya sendiri. Jika seorang Ibu atau Bapak mendidik anak-anaknya dengan kekerasan, maka akan lahir anak-anak yang beringas. Jika seorang Guru mendidik anak muridnya dengan kekerasan, maka akan lahir murid-murid yang galak dan pemalak. Bila seorang suster merawat pasiennya dengan galak, maka bukannya sembuh, tapi semakin kambuh. 

Read More..

Kamis, 11 Februari 2010

Pendidikan Pesantren berbasis Kiyai



          Dalam suatu diskusi S2 (Pasca Sarjana), Prof. Mastuhu mengatakan bahwa “Suatu saat Pemerintah (RI) akan mengadopsi system pendidikan Pondok Pesantren.” Hal ini didasarkan atas penelitiannya di beberapa pondok pesantren salaf (salafiyah) di Pulau Jawa. Sebagai seorang peneliti kawakan, ia merasa sangat tertarik dan kagum setelah terlibat langsung dalam (ketika meneliti) proses kehidupan santri bersama para ustadz dan Kiai mereka.

Read More..

Sabtu, 12 Desember 2009

Rahasia Bulan Muharram



Bulan Muharram adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah swt. dan umat Islam. Dalam Al-Qur’an disebutkan : di dalam bulan Haram yang ada empat dan salah satunya terdapat bulan Muharram, agar umat Islam tidak berbuat aniaya (dzalim). Tapi sebaliknya, justru agar kita menghormatinya. Dan kini kita jumpai berbagai macam cara dilakukan oleh orang untuk menghormati bulan Muharram. Ada yang wajar dan ada yang tidak wajar, artinya ada yang benar dan ada yang menyimpang dari ajaran Islam. Lalu bagaimana yang sebenarnya ?
Read More..

Sabtu, 05 Desember 2009

Munculnya Aliran Sempalan

Di Indonesia pada umumnya dan Jawa Barat khususnya hingga hari ini masih sering dikagetkan berita munculnya aliran sempalan (sesat). Seperti sering munculnya Nabi-nabi palsu yang sangat menyesatkan dan menyita perhatian banyak orang. Dan beberapa aliran sesat lainnya yang mengatas namakan agama yang paling benar. Dan hal ini menjadikan citra Departeman Agama (Depag.) yang selalu disorot paling duluan. Misalnya dengan kata-kata sinis sebagian masyarakat :”Ngapain aja sih kerjaan Depag ?” atau ”Di mana sih peran Depag ?”. Hal demikian boleh saja membuat telinga kita merah, tapi tidak boleh terpancing marah. Introspeksi adalah salah satu langkah yang terbaik untuk dijadikan sebagai landasan penyusunan program yang lebih baik lagi.

Contoh kasus tentang aliran sesat ”Inkar Sunnah” yang sudah jelas-jelas telah dilarang dengan adanya Fatwa M U I (Majelis Ulama Indonesia) tanggal 27 Juni 1983 dan Surat Keputusan Jaksa Agung RI. Nomor : Kep-085/J-A/9/1985. Aliran yang secara formal pernah berkembang di Indonesia dengan tokoh intelektualnya Nazwar Samsu dan Dailami Lubis ( buku-bukunya juga sudah dilarang beredar di seluruh Indonesia ini).
Sekedar mengingatkan saja, bahwa sebagian ajaran pokok aliran Inkar Sunnah yang dianggap sesat adalah : mereka tidak percaya kepada semua sunnah/hadits Nabi saw; Dasar hukum Islam hanya Al-Qur’an saja, Mereka tidak wajib puasa Ramadlan kalau tidak melihat langsung tanggal satu/hilal (yang wajib hanya yang melihat saja) dll. Aliran semacam ini sekalipun sudah dilarang secara formal, tapi secara praktek di lapangan tidak menutup kemungkinan akan muncul dalam bentuk lain dan nama lain.

Peran Penyuluh Agama

Penyuluh Agama merupakan salah satu organ dari Departemen Agama yang dipandang sebagai wajah paling depan, karena tugas utamanya berhadapan langsung dengan masyarakat (wilayah publik). Oleh karena itu tampilan para penyuluh itu bisa menentukan citra baik atau buruknya Depag. di mata masyarakat luas. Penyuluh tidak hanya sekedar memberi ceramah di Majelis Taklim atau Khutbah jum’at di masjid. Tapi mereka juga ditunut lebih jauh dari itu, harus mampu dekat dengan umat dan mengambil hati masyarakat di sekitarnya. Pencitraan Depag. bisa dilakukan oleh para penyuluh, jika mereka memang capable dan mumpuni.

Untuk itu peran penyuluh agama sebagai penerang masyarakat juga sebagai guru yang bisa menyuarakan program-program Depag. Melalui edukasi publik. Terlebih Depag. mengemban amanat menjaga akidah dan moral umat. Paling tidak, dapat berperan sebagai pendamping umat dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahan dan keumatan secara bersamaan.
Peran penyelamatan akidah umat misalnya dapat dilakukan dengan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari melalui bimbingan dan pemantauan kegiatan ibadah. Baik di pusat-pusat peribadatan seperti mushalla, masjid atau majelis taklim. Bahkan kegiatan-kegiatan ibadah di padepokan-padepokan atau dari rumah ke rumah yang kini marak di lakukan di kota-kota.

Diteksi Dini

Untuk mencegah terjadinya aliran-aliran sempalan yang meresahkan masyarakat, maka perlu ada hal-hal yang harus dilakukan. Pertama, Pihak Depag, khususnya Penamas, hendaknya merekrut para penyuluh Agama yang memenuhi persyaratan minimal sebagai penyuluh di samping punya moral yang baik di depan masyarakat. Kedua, Pembekalan dengan juklak yang rinci yang dikeluarkan oleh Depag dan disosialisasikan secara berkesinambungan. Ketiga, Penyuluh Non PNS hendaknya dibekali dengan pembekalan yang sama dengan penyuluh PNS, agar dapat berjalan seiring dan saling memperkuat.
Di samping ketiga hal tersebut masih banyak hal yang harus dilakukan, misalnya berkoordinasi dengan pihak-pihak lain. Penyuluh di desa atau kelurahan hendaknya dikoordinasikan dengan program-program yang ada di kelurahan tersebut (tempat tugas/domisili Penyuluh). Program peningkatan mutu SDM (Sumber daya Manusia) bagi Penyuluh dilakukan secara berkelanjutan dan bisa bekerjasama dengan instansi terkait lainnya. Misalnya saja bekerja sama dengan Kejaksaan Negeri setempat dalam kaitan informasi tentang aliran-aliran sesat dari kacamata hukum. Juga bekerjasama dengan Kepolisian dalam kaitan informasi penyalah gunaan Narkotika/obat-obatan terlarang, penanganan/pencegahan prostitusi, penanggulangan traficking, KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), aborsi dan pelanggaran-pelanggaran susila lainnya.

Sinergi antara penyuluh Agama/Depag dengan pihak-pihak terkait lainnya, selain memudahkan beban tugas para penyuluh (karena adanya informasi yang akurat ), juga dapat meningkatkan confident (percaya diri) para penyuluh dan meningkatkan citra positif Departemen Agama di tengah-tengah masyarakat. Sekian . Wallahu a’lam.




H. A. Mahfudz Anwar
(Penyuluh Agama Non PNS, Kota Depok)

Read More..

Selasa, 02 Juni 2009

IPNU tergantung GREEN-LIGHT NU
















Cikal bakal NU diawali dari pertemuan-pertem
uan anak-anak muda terpelajar yang mempunyai ghirah yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bermula dari Hadratus Syekh K.H.Abdul Wahab Chasbullah yang baru saja pulang dari studinya di Makkatul Mukarramah. Beliau bersama-sama dengan anak-anak muda muslim di Surabaya berkumpul untuk mendiskusikan berbagai persoalan umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Tepatnya pada tahun 1914 M. didirikanlah suatu perkumpulan majelis munadzarah yang diberi nama “Tashwirul Afkar”, artinya potret pemikiran. Tashwirul Afkar yang berawal dari pemikiran ilmiah keagamaan murni, akhirnya semakin lama semakin berkembang sesuai dengan tuntutan zaman pada sa’at itu. Di mana Bangsa Indonesia masih berada dalam cengkeraman penjajah Belanda yang konon beragama Nasrani dan Yahudi.
Dalam perkembangan selanjutnya diskusi-diskusi itu semakin menarik para cerdik cendekia muslim untuk membahas perkembangan perjuangan Syari’at Islam. Membahas bagaimana idealnya syari’at Islam bisa berjalan dengan baik sekalipun Negara berada dalam kungkungan penjajah.
Maka dengan kesepakatan mereka, Tashwirul Afkar dirubah menjadi Jam’iyah Nahdlatul Wathan.
Dari nama yang diberikannya, maka bisa dilihat bahwa bermula dari kumpulan pengajian hingga menjadi perkumpulan atau organisasi yang menjurus politik Dan pada tahun 1916 M organisasi Nahdlatul Wathan ini baru mendapat pengesahan dari Pemerintah Belanda. Jam’iyah artinya : organisasi, al-Nahdlah artinya : kebangkitan, dan Wathan berarti : Tanah air. Jadi Jam’iyah Nahdlatul Wathan berarti : Organisasi Kebangkitan Tanah Air. Dari nama inilah dapat dipastikan bahwa kesadaran berpolitik kaum santri telah resmi menjadi perjoangan yang terorganisir untuk membela bangsa yang tertindas. Dan salah satu sikap tegasnya adalah penentangan terhadap “Guru Ordonantie” yang dibuat oleh Pemerintah Belanda. Yaitu suatu peraturan pembatasan kegiatan pengajaran Agama (Islam). Dan IPNU/IPPNU adalah salah satu Badan otonom dalam NU.
IPNU/IPPNU
IPNU (Ikatan Putera Nahdlatul Ulama dan IPPNU (Ikatan Puteri-Puteri Nahdlatul Ulama), merupakan organisasi tempat berhimpun generasi muda pelajar yang berada dalam kibaran panji jam’iyah Nahdlatul Ulama. IPNU/IPPNU yang berawal dari organisasi pelajar setingkat SLTP dan SLTA ini berfungsi sebagai wadah penempaan jatidiri, interaksi sosial, kejuangan dengan sandaran nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan (ke-Indonesiaan). Secara kelembagaan IPNU/IPPNU memiliki kedudukan strategis sebagai wahana kaderisasi putera/puteri NU sekaligus alat perjuangan NU dalam pembinaan generasi muda. Agar menjadi generasi masa depan yang tangguh dalam memperjuangkan ajaran agamanya dan nilai-nilai kebangsaann-nya. Niali-nilai keagamaan yang diperjuangkan adalah nilai-nilai ajaran Islam Ahlus Sunnah wal-Jama’ah seperti yang diperjuangkan oleh Ulama-Ulama NU. Maka para pemuda/pemudi yang tergabung dalam IPNU/IPPNU berproses dalam kaderisasi formal maupun informal. Kegiatan informal ini sangat penting, karena mereka dihadapkan pada realitas sosial yang selalu berkembang dari waktu ke-waktu. Agar para kader IPNU/IPPNU terlibat langsung dalam segala aktifitas, sekaligus menjadi team work yang baik. Maka dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus NU selalu melibatkan kader-kader muda barisan IPNU/IPPNU. Hal ini dilakukan sebagai sosialisasi antara teori yang dikembangkan dalam pengkaderan formal juga diteruskan pada kehidupan nyata. Untuk itu para anggota IPNU/IPPNU yang secara optimal melibatkan diri dalam proses-proses kegiatan ke-NU-an, baik dalam bentuk kegiatan pengajian keagamaan maupun kegiatan sosial mabarrat akan menjadi kader yang militant. Tapi sebaliknya , anggota IPNU/IPPNU yang hanya mengikuti kegiatan pengkaderan formal saja, akan kering makna. Hanya tahu teoritis, tapi tidak kenal watak NU secara utuh. Sehingga character building dalam ke-IPNU-an kurang dapat dirasakan. Maka dari itu IPNU/IPPNU harus bergerak sesuai dengan green light dari Petinggi-petinggi NU. Dan maju mundurnya IPNU/IPPNU tergantung maju dan mundurnya para petinggi NU. Selanjutnya, tujuan IPNU/IPPNU selain memperjuangkan dan mempertahankan ajaran Islam menurut faham Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, juga membentuk kader-kader bangsa yang berilmu dan berwawasan nasional (NKRI). Dan yang lebih penting lagi adalah terbentuknya kader-kader yang mempunyai kemandirian dan pemberdayaan ekonomi. Jadi jelaskan bahwa IPNU/IPPNU merupakan organisasi kader yang bertugas mengantarkan anggotanya menjadi manusia-manusia yang memiliki karakter yang jelas sesuai dengan karakter yang dibangun oleh NU.
Orientasi Ekonomi
Seperti diketahui bahwa pengkaderan IPNU/IPPNU yang disebutkan di atas adalah mengharuskan kepada aktifis/pengurus IPNU/IPPNU untuk memahami karakter dirinya baik secara kelembagaan maupun secara individu. Terutama untuk mengembangkan organisasi baik kuantitas maupun kualitas. Dari segi kuantitas, diharapkan setiap pelajar yang berjiwa Ahlus Sunnah wal-jama’ah dapat ter-rekrut menjadi anggota IPNU/IPPNU secara sadar. Sedangkan dari segi kualitas, mampu melahirkan kader-kader mandiri, loyal dan militant. Dan yang lebih penting lagi mampu mengimplementasikan konsep Tawazun (keseimbangan), Tasamuh (toleran), I’tidal dan amar ma’ruf-nahi munkar yang dikembangkan oleh Syuriah NU. Dengan paradigma yang terpateri dalam konsep tawazun dan sebagainya itu diharapkan IPNU/IPPNU mampu menjadi kader-kader generasi muda ke depan yang mampu ambil bagian dalam membangun bangsa, menuju pada kehidupan sejahtera lahir dan batin. Dan persoalan bangsa yang paling mendasar pada dekade terakhir ini adalah persoalan ekonomi. Betapa setruktur masyarakat muslim banyak mengalami perubahan dari komunitas pengajian, menjadi komunitas ekonomi, bahkan komunitas politik. Hal ini merupakan salah satu dampak dari sistem pendidikan yang berkembang di sekolah maupun madrasah pada akhir-akhir ini. Kini kaum santri terpelajar tidak hanya bergerak dalam dakwah bil-lisan (pengajian dan zikir lisan), tapi juga merambah pada perjuangan ekonomi syari’ah. Yaitu perjuangan melawan hegemoni Barat yang secara tidak sadar menjajah ekonomi bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia ini. Maka dengan sadar kader IPNU/IPPNU mulai menyelesaikan tugas-tugas team work yang mengarah pada pengembangan ekonomi ke-umatan. Baik melalui koperasi bersekala kecil maupun Baitul mal wat tamwil yang sedikit demi sedikit mulai menterapkan sistem syari’ah. Bahkan tidak sedikit kini Perguruan Tinggi di negeri ini yang mengembangkan kurikulum berbasis ekonomi syari’ah. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para Aktifis IPNU/IPPNU. Sehubungan dengan pelantikan Pengurus Cabang IPNU/IPPNU kota Depok pada hari : Ahad, 31 Mei 2009 oleh Wakil Walikota Depok; diharapkan terjadi penyegaran pada Pengurus, juga terjadi perubahan pengkaderan yang signifikan dalam menghadapi tantangan generasi muda yang semakin komplek dan melelahkan. Selamat dan sukses.Amien.
Read More..