"Welcome to LENTERA ISLAM" Semoga bermanfaat Happy Reading
Tampilkan postingan dengan label IPNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPNU. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2015

PEMBEKALAN SANTRI XII MA

SILABUS  MATERI
Pembekalan Santri XII MA-2015

I. MATERI DASAR
1. Mukaddimah Qanun Asasi, li jaam’iyah Nahdlatul Ulama’.
a. Dasar Pemikiran Qanun Asasai
1. Ayat=ayat Al-Qur’an.
2. Hadits-hadits Nabi saw.
b. Ahlus sunnah wal jama’ah = ahli mazaahibil A’immah al- arba’ah.
2. Ke-NU-an dan Kebangsaan.
a. Alasan mengapa saya masuk NU.
b. Latar belakang berdirinya NU.
c. Ulama’ulama pendiri NU dan tokoh-tokoh NU.
d. Perjuangan NU dari dulu sampai sekarang.
e. Peran NU dalam pembangunan kenegaraan/kebangsaan.
f. Perbedaan NU dengan organisasi lainnya.
3. Ke-PMII-an
a. Alasan mengapa saya masuk PMII.
b. Latar belakang berdirinya PMII dan tokoh-tokohnya.
c. Perjuangan PMII dari berdiri sampai sekarang.
d. Perbedaan PMII dengan organisasi kemahasiswaan lainnya.
4. Nilai-nilai ke-Pesantrenan
a. Penyempurnaan hablum minallah (ibadah).
b. Berusaha menjadi Khaira ummah.
c.  Berkepribadian yang terpuji.
d. Berkepribadian yang tangguh.
e. mampu memecahkan masalah yang dihadapi.
f. Berusaha melestarikan nilai-nilai kepesantrenan.
5. Ilmu Kepemimpinan.
a. Mengenal Pemimpin Muslim yang sukses.
b. Berusaha menjadi Pemimpin Ummat yang baik, adil dan jujur.
c.  Selalu berusaha menjadi Pemimpin di setiap tingkatan/komunitasnya.
6. Strategi Dakwah
a. Berusaha dakwah bil-lisan dan bil–kitabah.
b. Mengenal dan Mencontoh para da’i yang sukses.
c. Berdakwah di setiap komunitasnya.
II. MUAMALAH
1. Kitab Uqudullujjain (target hatam). Mempersiapkan Etika berrumah tangga.
2. Kitab Ushfuriyah (target hatam). Kisah-kisah perilaku kariemah.
III. DO’A-DO’A
-          Do’a-do’a harian, berdasar kitab Azkar Nawawi.

IV. Amaliyah Harian
  1.  Menjadi Protokol yang handal.
  2.  Ceramah yang baik dan benar.(Pr)
  3. Khutbah Jum’at.(Lk).


                                                  

                                                                      Depok, 1 April 2015


Read More..

Sabtu, 05 Desember 2009

Munculnya Aliran Sempalan

Di Indonesia pada umumnya dan Jawa Barat khususnya hingga hari ini masih sering dikagetkan berita munculnya aliran sempalan (sesat). Seperti sering munculnya Nabi-nabi palsu yang sangat menyesatkan dan menyita perhatian banyak orang. Dan beberapa aliran sesat lainnya yang mengatas namakan agama yang paling benar. Dan hal ini menjadikan citra Departeman Agama (Depag.) yang selalu disorot paling duluan. Misalnya dengan kata-kata sinis sebagian masyarakat :”Ngapain aja sih kerjaan Depag ?” atau ”Di mana sih peran Depag ?”. Hal demikian boleh saja membuat telinga kita merah, tapi tidak boleh terpancing marah. Introspeksi adalah salah satu langkah yang terbaik untuk dijadikan sebagai landasan penyusunan program yang lebih baik lagi.

Contoh kasus tentang aliran sesat ”Inkar Sunnah” yang sudah jelas-jelas telah dilarang dengan adanya Fatwa M U I (Majelis Ulama Indonesia) tanggal 27 Juni 1983 dan Surat Keputusan Jaksa Agung RI. Nomor : Kep-085/J-A/9/1985. Aliran yang secara formal pernah berkembang di Indonesia dengan tokoh intelektualnya Nazwar Samsu dan Dailami Lubis ( buku-bukunya juga sudah dilarang beredar di seluruh Indonesia ini).
Sekedar mengingatkan saja, bahwa sebagian ajaran pokok aliran Inkar Sunnah yang dianggap sesat adalah : mereka tidak percaya kepada semua sunnah/hadits Nabi saw; Dasar hukum Islam hanya Al-Qur’an saja, Mereka tidak wajib puasa Ramadlan kalau tidak melihat langsung tanggal satu/hilal (yang wajib hanya yang melihat saja) dll. Aliran semacam ini sekalipun sudah dilarang secara formal, tapi secara praktek di lapangan tidak menutup kemungkinan akan muncul dalam bentuk lain dan nama lain.

Peran Penyuluh Agama

Penyuluh Agama merupakan salah satu organ dari Departemen Agama yang dipandang sebagai wajah paling depan, karena tugas utamanya berhadapan langsung dengan masyarakat (wilayah publik). Oleh karena itu tampilan para penyuluh itu bisa menentukan citra baik atau buruknya Depag. di mata masyarakat luas. Penyuluh tidak hanya sekedar memberi ceramah di Majelis Taklim atau Khutbah jum’at di masjid. Tapi mereka juga ditunut lebih jauh dari itu, harus mampu dekat dengan umat dan mengambil hati masyarakat di sekitarnya. Pencitraan Depag. bisa dilakukan oleh para penyuluh, jika mereka memang capable dan mumpuni.

Untuk itu peran penyuluh agama sebagai penerang masyarakat juga sebagai guru yang bisa menyuarakan program-program Depag. Melalui edukasi publik. Terlebih Depag. mengemban amanat menjaga akidah dan moral umat. Paling tidak, dapat berperan sebagai pendamping umat dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahan dan keumatan secara bersamaan.
Peran penyelamatan akidah umat misalnya dapat dilakukan dengan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari melalui bimbingan dan pemantauan kegiatan ibadah. Baik di pusat-pusat peribadatan seperti mushalla, masjid atau majelis taklim. Bahkan kegiatan-kegiatan ibadah di padepokan-padepokan atau dari rumah ke rumah yang kini marak di lakukan di kota-kota.

Diteksi Dini

Untuk mencegah terjadinya aliran-aliran sempalan yang meresahkan masyarakat, maka perlu ada hal-hal yang harus dilakukan. Pertama, Pihak Depag, khususnya Penamas, hendaknya merekrut para penyuluh Agama yang memenuhi persyaratan minimal sebagai penyuluh di samping punya moral yang baik di depan masyarakat. Kedua, Pembekalan dengan juklak yang rinci yang dikeluarkan oleh Depag dan disosialisasikan secara berkesinambungan. Ketiga, Penyuluh Non PNS hendaknya dibekali dengan pembekalan yang sama dengan penyuluh PNS, agar dapat berjalan seiring dan saling memperkuat.
Di samping ketiga hal tersebut masih banyak hal yang harus dilakukan, misalnya berkoordinasi dengan pihak-pihak lain. Penyuluh di desa atau kelurahan hendaknya dikoordinasikan dengan program-program yang ada di kelurahan tersebut (tempat tugas/domisili Penyuluh). Program peningkatan mutu SDM (Sumber daya Manusia) bagi Penyuluh dilakukan secara berkelanjutan dan bisa bekerjasama dengan instansi terkait lainnya. Misalnya saja bekerja sama dengan Kejaksaan Negeri setempat dalam kaitan informasi tentang aliran-aliran sesat dari kacamata hukum. Juga bekerjasama dengan Kepolisian dalam kaitan informasi penyalah gunaan Narkotika/obat-obatan terlarang, penanganan/pencegahan prostitusi, penanggulangan traficking, KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), aborsi dan pelanggaran-pelanggaran susila lainnya.

Sinergi antara penyuluh Agama/Depag dengan pihak-pihak terkait lainnya, selain memudahkan beban tugas para penyuluh (karena adanya informasi yang akurat ), juga dapat meningkatkan confident (percaya diri) para penyuluh dan meningkatkan citra positif Departemen Agama di tengah-tengah masyarakat. Sekian . Wallahu a’lam.




H. A. Mahfudz Anwar
(Penyuluh Agama Non PNS, Kota Depok)

Read More..

Selasa, 02 Juni 2009

IPNU tergantung GREEN-LIGHT NU
















Cikal bakal NU diawali dari pertemuan-pertem
uan anak-anak muda terpelajar yang mempunyai ghirah yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bermula dari Hadratus Syekh K.H.Abdul Wahab Chasbullah yang baru saja pulang dari studinya di Makkatul Mukarramah. Beliau bersama-sama dengan anak-anak muda muslim di Surabaya berkumpul untuk mendiskusikan berbagai persoalan umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Tepatnya pada tahun 1914 M. didirikanlah suatu perkumpulan majelis munadzarah yang diberi nama “Tashwirul Afkar”, artinya potret pemikiran. Tashwirul Afkar yang berawal dari pemikiran ilmiah keagamaan murni, akhirnya semakin lama semakin berkembang sesuai dengan tuntutan zaman pada sa’at itu. Di mana Bangsa Indonesia masih berada dalam cengkeraman penjajah Belanda yang konon beragama Nasrani dan Yahudi.
Dalam perkembangan selanjutnya diskusi-diskusi itu semakin menarik para cerdik cendekia muslim untuk membahas perkembangan perjuangan Syari’at Islam. Membahas bagaimana idealnya syari’at Islam bisa berjalan dengan baik sekalipun Negara berada dalam kungkungan penjajah.
Maka dengan kesepakatan mereka, Tashwirul Afkar dirubah menjadi Jam’iyah Nahdlatul Wathan.
Dari nama yang diberikannya, maka bisa dilihat bahwa bermula dari kumpulan pengajian hingga menjadi perkumpulan atau organisasi yang menjurus politik Dan pada tahun 1916 M organisasi Nahdlatul Wathan ini baru mendapat pengesahan dari Pemerintah Belanda. Jam’iyah artinya : organisasi, al-Nahdlah artinya : kebangkitan, dan Wathan berarti : Tanah air. Jadi Jam’iyah Nahdlatul Wathan berarti : Organisasi Kebangkitan Tanah Air. Dari nama inilah dapat dipastikan bahwa kesadaran berpolitik kaum santri telah resmi menjadi perjoangan yang terorganisir untuk membela bangsa yang tertindas. Dan salah satu sikap tegasnya adalah penentangan terhadap “Guru Ordonantie” yang dibuat oleh Pemerintah Belanda. Yaitu suatu peraturan pembatasan kegiatan pengajaran Agama (Islam). Dan IPNU/IPPNU adalah salah satu Badan otonom dalam NU.
IPNU/IPPNU
IPNU (Ikatan Putera Nahdlatul Ulama dan IPPNU (Ikatan Puteri-Puteri Nahdlatul Ulama), merupakan organisasi tempat berhimpun generasi muda pelajar yang berada dalam kibaran panji jam’iyah Nahdlatul Ulama. IPNU/IPPNU yang berawal dari organisasi pelajar setingkat SLTP dan SLTA ini berfungsi sebagai wadah penempaan jatidiri, interaksi sosial, kejuangan dengan sandaran nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan (ke-Indonesiaan). Secara kelembagaan IPNU/IPPNU memiliki kedudukan strategis sebagai wahana kaderisasi putera/puteri NU sekaligus alat perjuangan NU dalam pembinaan generasi muda. Agar menjadi generasi masa depan yang tangguh dalam memperjuangkan ajaran agamanya dan nilai-nilai kebangsaann-nya. Niali-nilai keagamaan yang diperjuangkan adalah nilai-nilai ajaran Islam Ahlus Sunnah wal-Jama’ah seperti yang diperjuangkan oleh Ulama-Ulama NU. Maka para pemuda/pemudi yang tergabung dalam IPNU/IPPNU berproses dalam kaderisasi formal maupun informal. Kegiatan informal ini sangat penting, karena mereka dihadapkan pada realitas sosial yang selalu berkembang dari waktu ke-waktu. Agar para kader IPNU/IPPNU terlibat langsung dalam segala aktifitas, sekaligus menjadi team work yang baik. Maka dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus NU selalu melibatkan kader-kader muda barisan IPNU/IPPNU. Hal ini dilakukan sebagai sosialisasi antara teori yang dikembangkan dalam pengkaderan formal juga diteruskan pada kehidupan nyata. Untuk itu para anggota IPNU/IPPNU yang secara optimal melibatkan diri dalam proses-proses kegiatan ke-NU-an, baik dalam bentuk kegiatan pengajian keagamaan maupun kegiatan sosial mabarrat akan menjadi kader yang militant. Tapi sebaliknya , anggota IPNU/IPPNU yang hanya mengikuti kegiatan pengkaderan formal saja, akan kering makna. Hanya tahu teoritis, tapi tidak kenal watak NU secara utuh. Sehingga character building dalam ke-IPNU-an kurang dapat dirasakan. Maka dari itu IPNU/IPPNU harus bergerak sesuai dengan green light dari Petinggi-petinggi NU. Dan maju mundurnya IPNU/IPPNU tergantung maju dan mundurnya para petinggi NU. Selanjutnya, tujuan IPNU/IPPNU selain memperjuangkan dan mempertahankan ajaran Islam menurut faham Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, juga membentuk kader-kader bangsa yang berilmu dan berwawasan nasional (NKRI). Dan yang lebih penting lagi adalah terbentuknya kader-kader yang mempunyai kemandirian dan pemberdayaan ekonomi. Jadi jelaskan bahwa IPNU/IPPNU merupakan organisasi kader yang bertugas mengantarkan anggotanya menjadi manusia-manusia yang memiliki karakter yang jelas sesuai dengan karakter yang dibangun oleh NU.
Orientasi Ekonomi
Seperti diketahui bahwa pengkaderan IPNU/IPPNU yang disebutkan di atas adalah mengharuskan kepada aktifis/pengurus IPNU/IPPNU untuk memahami karakter dirinya baik secara kelembagaan maupun secara individu. Terutama untuk mengembangkan organisasi baik kuantitas maupun kualitas. Dari segi kuantitas, diharapkan setiap pelajar yang berjiwa Ahlus Sunnah wal-jama’ah dapat ter-rekrut menjadi anggota IPNU/IPPNU secara sadar. Sedangkan dari segi kualitas, mampu melahirkan kader-kader mandiri, loyal dan militant. Dan yang lebih penting lagi mampu mengimplementasikan konsep Tawazun (keseimbangan), Tasamuh (toleran), I’tidal dan amar ma’ruf-nahi munkar yang dikembangkan oleh Syuriah NU. Dengan paradigma yang terpateri dalam konsep tawazun dan sebagainya itu diharapkan IPNU/IPPNU mampu menjadi kader-kader generasi muda ke depan yang mampu ambil bagian dalam membangun bangsa, menuju pada kehidupan sejahtera lahir dan batin. Dan persoalan bangsa yang paling mendasar pada dekade terakhir ini adalah persoalan ekonomi. Betapa setruktur masyarakat muslim banyak mengalami perubahan dari komunitas pengajian, menjadi komunitas ekonomi, bahkan komunitas politik. Hal ini merupakan salah satu dampak dari sistem pendidikan yang berkembang di sekolah maupun madrasah pada akhir-akhir ini. Kini kaum santri terpelajar tidak hanya bergerak dalam dakwah bil-lisan (pengajian dan zikir lisan), tapi juga merambah pada perjuangan ekonomi syari’ah. Yaitu perjuangan melawan hegemoni Barat yang secara tidak sadar menjajah ekonomi bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia ini. Maka dengan sadar kader IPNU/IPPNU mulai menyelesaikan tugas-tugas team work yang mengarah pada pengembangan ekonomi ke-umatan. Baik melalui koperasi bersekala kecil maupun Baitul mal wat tamwil yang sedikit demi sedikit mulai menterapkan sistem syari’ah. Bahkan tidak sedikit kini Perguruan Tinggi di negeri ini yang mengembangkan kurikulum berbasis ekonomi syari’ah. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para Aktifis IPNU/IPPNU. Sehubungan dengan pelantikan Pengurus Cabang IPNU/IPPNU kota Depok pada hari : Ahad, 31 Mei 2009 oleh Wakil Walikota Depok; diharapkan terjadi penyegaran pada Pengurus, juga terjadi perubahan pengkaderan yang signifikan dalam menghadapi tantangan generasi muda yang semakin komplek dan melelahkan. Selamat dan sukses.Amien.
Read More..