"Welcome to LENTERA ISLAM" Semoga bermanfaat Happy Reading
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Puasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Desember 2015

PUASA MERUPAKAN RIYADLAH RUHANIYAH

Oleh : K. H. A. Mahfudz Anwar
Ketika seseorang ingin menuju ma’rifah ( mengetahui Allah dengan hati), maka ia harus melalui fase-fase tertentu yang disebut Riyadlah Ruhaniyah (olah jiwa). Sama halnya kalau seseorang ingin mempunyai fisik yang kuat dia harus melalui fase olah raga (sering menggerakkan bagian-bagian badannya). Sering melatih tangannya, agar memiliki tangan/lengan yang kuat misalnya. Melatih perutnya agar perutnya suspec (kencang dan kuat). Dan latihan gerak tubuh yang disebut olah raga.
Demikian halnya Ibadah puasa merupakan bagian dari maqam di antara maqamat. Setiap hamba yang muslim memiliki tingkatan-tingkatan tertentu sesuai dengan kekuatan olah jiwanya . Misalnya maqam Sabar, bisa ditempuh dengan jalan berpuasa. Sebagaimana penafsiran kata sabar dalam ayat “wasta’inu bis shabri was shalah : dan hendaklah minta tolong kepada Allah dengan (jalan) sabar (puasa) dan shalat.”
Read More..

MAKMURKAN MASJID DI BULAN MAGHFIRAH


Tidak ada seorang pun manusia di muka bumi ini yang mengharapkan kepedihan.  Artinya kita semua pasti berharap kebahagiaan. Baik kebahagiaan jangka pendek maupun jangka panjang. Inginnya di dunia bisa senang dan enjoy dan di akhirat juga bahagia masuk surga. Dan seperti itulah Rasulullah saw mengajarkannya.
Ramadlan dikatakan sebagai bulan berkah dan bulan maghfirah. Dikatakan berkah karena dilipat gandakannya pahala. Disebut bulan maghfirah karena Allah siap menerima ampunan dari semua hamba yang bertaubat. Bahkan janji Rasul saw. bahwa jarak antara Ramadlan yang lalu dengan Ramadlan sekarang (berdurasi 11 bulan) merupakan ampunan bagi setiap insan yang mengisi Ramadlan dengan Ibadah wajib maupun sunat. Bayangkan waktu satu bulan bisa menandingi waktu sebelas bulan. Ini adalah semata-mata kasih sayang Allah swt terhadap hambanya yang ta’at.
Persoalannya adalah “mampukah kita memanfa’atkan momentum yang baik ini dengan benar?”. 
Read More..

Rabu, 02 Desember 2015

PUASA DAN PERLINDUNGAN KAUM BURUH


Salah satu hikmah berpuasa adalah bisa merasakan  kepedihan lapar. Sebagaimana orang-orang miskin yang  sulit memenuhi kebutuhan hidupnya lantaran kekurangan harta. Secara ekonomi banyak orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Dan dalam Islam biasa disebut “ Fuqara’ wal masakin”. Yakni kelompor marginal yang kalah bersaing –secara ekonomi- dalam pranata kehidupan ini.
Momentum Ramadlan yang diperintahkan berpuasa bagi setiap orang Islam adalah sa’at yang tepat untuk memberi kesempatan kepada setiap individu merenungkan diri masing-masing. Bagi kaum pinggiran ditempa untuk semakin sabar dalam menjalani hidup yang serba kurang, dengan ikhtiar yang jujur dan menghindarkan diri dari cara-cara yang haram dalam memperoleh rizeki. Sedangkan bagi orang-orang yang berkecukupan ataupun berlebih kekayaannya ditempa untuk meningkatkan Empati-nya. Untuk menaikkan suhu kontempelasi sehingga dapat mencapai rasa lapar yang sesungguhnya. Jadi bukan sekedar memindahkan waktu makan saja, dari siang ke waktu malam. Tapi memang benar-benar mengurangi porsi makan sehari-hari.
Read More..

KHUSYU' BERIBADAH DENGAN RESEP "Qul, Innie shaaimun"


Secara tekstual Ibadah Puasa dipahami sebagai ibadah mahdlah. Yaitu Ibadah yang bersifat Vertikal, hubungan langsung antara manusia dengan Tuhannya, Allah swt.  Sehingga Allah swt langsung yang menyatakan dalam Hadits Qudsi “wa ana ajzi bihi; “Dan Aku yang akan membalas (pahala)nya.” Namun demikian bukan berarti Ibadah puasa tidak ada hubungannya dengan sosial. Ternyata Allah sangat erat menghubungkan puasa dengan tatanan sosial.
Coba perhatikan firman-Nya : ” wa ‘ala llazina yuthiequunahu fidyatun tha’amu miskien.”Dan bagi orang-orang (tua) yang sudah tidak mampu berpuasa, maka membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin. Jadi kalau ada orang yang sudah lanjut usia, sehingga dalam usia lanjutnya itu menyebabkan tidak kuat untuk berpuasa, maka boleh tidak berpuasa, tapi dengan resiko mengganti puasanya dengan membayar fidyah. Yaitu memberi makanan (beras) satu liter /perhari puasa yang ditinggalkan.
Read More..

PUASA DAN KECERDASAN EMOSIONAL


http://aditgalihilustration.deviantart.com/
       Huda Dorge adalah seorang perempuan California, Amerika yang lahir di lingkungan keluarga Katolik dan protestan. Ia dibesarkan dalam kehidupan gereja yang fanatic, karena Ibunya seorang aktifis gereja. Tapi akhirnya masuk Islam karena melihat tatacara kehidupan orang-orang Islam yang menyenangkan hatinya. Dan dari pergaulan itu akhirnya ia memperoleh pelajaran berharga. Bahwa Tuhannya orang Islam (Allah ) itu mempunyai Sembilan puluh Sembilan nama. Dan selama ini ia diajari bahwa dalam suatu bangsa memiliki beberapa kata untuk menyebut sesuatu yang dianggap penting atau terpenting. (Buku Akhirnya  mereka memilih Islam, hal. 122)
Read More..

HARAM PUASA PERDUKUNAN


Banyak orang berpuasa karena perdukunan. Ada yang berpuasa tiga hari-tiga malam tidak makan dan tidak minum sama sekali. Dan ada yang beberapa hari puasa ngebleng (sama sekali tidak makan dan tidak minum). Bahkan ada yang tanpa tidur sama sekali. Hal ini sangat bertentangan dengan Islam dan bertentangan pula dengan kodrat manusia itu sendiri.
Mengapa puasa ngebleng itu dilarang dalam Islam ? Sebab Islam pada dasarnya tidak pernah mempersulit umatnya. Islam mengajarkan puasa bukan untuk menyiksa diri. Tapi justru untuk memperkuat diri dengan cara-cara yang meringankan. Orang bisa berubah lebih baik, tapi dengan cara yang baik pula.
Dalam Islam puasa ngebleng itu disebut puasa wishal.
Read More..

TAKJIL AJANG SILATURRAHMI

Hampir dapat dipastikan sekarang ini di setiap masjid-masjid besar selalu menyediakan takjil. Yakni makanan ringan sebagai pembuka puasa. Bahkan di masjid istiqlal disediakan makanan (kurma dan nasi box) berbuka dengan jumlah ribuan. Banyak orang-orang Islam yang berdatangan ke masjid Istiqlal menjelang maghrib. Ada yang datang untuk berburu takjil lanjut shalat jama’ah maghrib. Dan ada juga yang berburu takjil, lalu pulang lagi tanpa shalat jama’ah. Wal-hasil mereka berburu takjil di masjid-masjid besar tersebut.
Fenomena semacam ini tidak hanya terjadi di Negara Indonesia saja, tapi di hampir seluruh penjuru dunia. Di Masjidil Haram Mekah, di Masjid Nabawi Madinah al-Muawwarah, bahkan di Eropa dan Amerika sekalipun. Banyak aghniya’ (orang-orang kaya) yang dengan suka rela menyediakan takjil pada setiap bulan Ramadlan. Bahkan ada yang memang memprogramkan kegiatan ini setiap tahun dan menjadi kegiatan tahunan yang terprogram sebagaimana kegiatan resmi lainnya.
Read More..

TUTUP PUASA DENGAN I'TIKAF

aslibumiayu.wordpress.com

“Jama’ah Shalat Terawihnya semakin maju”, kata seorang pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) masjid di sebuah kompleks perumahan. Jangan keburu senang atau keliru persepsi. Yang dimaksud maju oleh Bapak DKM tersebut bukan semakin hebat jama’ahnya, tapi sebaliknya justru semakin berkurang. Coba bayangkan, pada waktu minggu-minggu pertama bulan Ramadlan hampir semua masjid atau mushalla penuh sesak jama’ah yang shalat Terawih. Tapi begitu memasuki pertengahan bulan puasa jama’ah mulai berkurang.
Memang bisa saja orang beralasan. Ada yang bilang : mungkin disebabkan Ibu-ibu banyak yang datang bulan (uzur syar’i). Ada yang mengatakan mungkin Ibu-ibu mulai sibuk bikin kuwe lebaran. Benar saja, itu bagi Ibu-ibu. Tapi kenyataannya bukan hanya ibu-ibu yang tidak datang ke masjid, tapi juga bapak-bapak. Lantas ada yang bilang, “Oo mungkin karena sudah banyak yang pulang kampung”. Yang jelas banyak sekali alasan yang dikemukakan atas bentuk kemajuan shaf (barisan) jama’ah shalat terawih.
Read More..

PUASA TEPAT, SARAT MANFA'AT


“Ada anak bertanya pada Bapaknya : Buat apa berlapar-lapar puasa.” Lapar mengajakmu rendah hati selalu.” Penggalan syair ini sangatlah familier di telinga kita. Rasanya tak ada seorang muslim-pun (Indonesia) yang tidak mengetahui tentang lagu ini. Ya betul, dialah Bimbo Sang maestro lagu-lagu Rohani berhaluan Pop. Nyanyian yang riang dan ringan, namun sarat dengan makna.
Lalu apa sih sebenarnya Puasa menurut Islam.?  Dalam kitab “Ibaanatul Ahkaam” disebutkan  :     “ Puasa menurut Bahasa adalah : Menahan, secara mutlak”. Dan menurut Syara’ : Menahannya orang mukallaf (Islam, baligh, berakal) dari syahwat perut dan syahwat kemaluan dari sejak terbit fajar shadieq sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.” Dan puasa ini diwajibkan (fardlu ain) pertama kali pada tahun kedua Hijrah, beberapa tahun kemudian setelah perintah shalat. 
Read More..

PUASA SEBAGAI PENENTU DO'A

Banyak orang merasa do’anya tidak terkabul. Mereka memohon-mohon kepada Allah swt. tapi tidak juga dikabulkan. Akhirnya banyak orang yang putus asa dan tidak mau berdo’a lagi. Hidupnya terasa hampa, tak punya sandaran, tak ada lagi tempat mengadu atau sekedar tempat curhat ( curahan hati). Pada hal Islam mengajarkan banyak cara untuk terkabulnya do’a. Salah satunya dengan wasilah berpuasa.
Memang faktanya puasa itu tidak mudah. Karena tugas puasa adalah meninggalkan sesuatu yang sudah biasa menjadi kebiasaan manusia. Seperti kebiasaan makan kenyang di siang hari. Minum dengan banyak, sampai tidak haus. Berhubungan sex (suami-istri) kapan saja mau, bisa dilakukan dengan mudah. Apa lagi bagi pengantin baru yang sedang hot-hotnya. Untuk menghentikan aktifitas yang semacam itu terasa amat berat bagi sebagian besar orang. Maka Islam tidak memerintahkan puasa sepanjang hari (siang-malam), tapi cukup di siang hari saja ( sejak terbit fajar sampai dengan terbenam matahari). Sedangkan di malam hari halal melakukan segala larangan makan, minum dan menyalurkan nafsu biologisnya.
Read More..

PUASA DAN KEKUASAAN


Puasa merupakan salah satu cara untuk melatih diri. Melatih kekuatan yang ada di dalam diri manusia. Potensi yang ada di dalam diri manusia akan muncul, manakala sering dilatih. Misalnya otot yang kuat bisa muncul kalau sering dilatih dengan berolah raga. Lengan yang kuat bisa muncul jika sering dilatih dengan mengangkat beban. Olah Ragawan badannya kekar, karena sering berolah raga.
Demikian juga puasa. Orang yang sering berpuasa akan memiliki kekuatan batin lebih baik dibanding dengan orang yang tidak pernah berpuasa. Tradisi masyarakat tertentu, misalnya orang Jawa  biasa melakukan ”Tirakat” atau ”Tarak”. Ibu-ibu yang sedang hamil tidak mau banyak minum air Es, dengan tujuan agar bayinya tidak terlalu besar, sehingga lahirnya gampang. Orang yang takut Gemuk, mengurangi makan nasi (karbohidrat), dll. Itu semua disebut ”Tarak”.
Read More..

Rabu, 11 November 2015

PUASA MELAWAN HEDONISME


Oleh : K. H. A. Mahfudz Anwar

Puasa pada dasarnya adalah menahan diri dari segala bentuk kenikmatan dan kelezatan. Misalnya menahan makan dan minum (kelezatan perut), menahan nafsu syahwat (kenikmatan libido). Pokoknya segala bentuk kegiatan yang bersifat menahan diri bisa disebut Puasa. Dalam bahasa Arab “Shaum” disebut imsak (menahan). Maka biasanya sepuluh menit menjelang subuh dikumandangkan dari pengeras suara masjid kata “Imsaak, imsaak...” artinya di sa’at itu sudah harus menahan diri untuk tidak makan, minum dan berhubungan sebadan.
Dalam tradisi Jawa ada istilah “Tarak”. Yaitu kegiatan tidak makan (pantang) makanan tertentu. Bagi wanita hamil – misalnya- disuruh tarak oleh mertuanya tidak boleh makan ini dan itu agar kelak kalau melahirkan bisa lancar. Dan kata tarak sebenarnya berasal dari Bahasa Arab “Taroka”; artinya meninggalkan. Jadi tarak bagi tradisi Jawa adalah meninggalkan sesuatu untuk tidak dimakan pada saat tertentu. Misalnya anak laki-laki yang baru saja dikhitan juga disuruh tarak oleh orang tuanya agar lukanya lekas sembuh. Dan masih banyak lagi kegiatan tarak. Dan itu sebenarnya sejalan dengan konsep puasa dalam Islam.
Read More..

Rabu, 10 Juli 2013

Makan sahur, agar tetap produktif


Puasa itu memang lapar dan haus. Karena menahan diri dari makan dan minum. Dan dampak dari itu maka orang yang berpuasa terasa lemas dan kurang bertenaga. Sehingga banyak orang Islam yang enggan berpuasa dengan alasan bekerja yang memang membutuhkan tenaga. Tapi di samping itu juga banyak orang yang mampu berpuasa walaupun mereka bekerja keras, baik kerja fisik maupun non fisik.
Pertanyaannya “mengapa ada orang yang kuat berpuasa dan ada yang tidak mampu berpuasa ?” Jawabnya terletak pada batin masing-masing orang. Orang yang tidak kuat berpuasa dengan alasan bekerja sebenarnya sah-sah saja. Tapi bukankah dari dulu orang sudah bekerja dan bisa berpuasa.? Tentu saja hal ini sangat tergantung pada sejauh mana kesetiaan seorang muslim kepada Tuhan dan Rasul-Nya.
Syari’at puasa bukan untuk memperberat beban mukallaf (Orang Islam, dewasa dan berakal sehat), tapi syari’at puasa sebenarnya merupakan proses penguatan psikis seseorang yang berpuasa. Karena dengan berpuasa itu seseorang dapat berlatih mengendalikan diri (nafs). Logikanya kalau makan dan minum yang halal saja dia mampu menahan diri, apalagi makan dan minum yang haram. Pasti dia akan lebih mampu menahan diri. Sebagaimana Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an :”Yuridullahu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul ‘usra  : Allah swt. (dengan berpuasa) menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan.”
Maka Rasulullah swt juga mengajarkan agar dalam berpuasa itu tidak meninggalkan sahur. Arti sahur adalah makan menjelang subuh/pagi. Mengapa orang berpuasa disuruh makan menjelang pagi ? Hal ini untuk meringankan beban ketika di siang hari. Karena sudah ada persiapan tenaga. Jika seseorang bekerja fisik, maka sahurnya banyak karbohidratnya, sedangkan orang yang bekerja non fisik, banyak makan proteinnya. Dengan demikian di siang hari walau berpuasa tetap kuat dan segar.
Dalam Hadits Sohih Bukhari-Muslim, Rasulullah saw. bersabda : “Tasahharuu  fainna fis sahuuri barakatan, bersahurlah kamu sekalian, karena sesungguhnya di dalam (makan) sahur itu terdapat barakah.”  Hadits ini jelas mengajarkan kepada kita agar makan sahur menjelang waktu fajar. Di mana waktu tersebut adalah waktu yang sangat mulia untuk ibadah. Dengan makan sahur, seseorang bisa bangun di akhir malam dan bisa melanjutkan kegiatan sahurnya dengan solat-solat sunnat, zikir, istighfar atau membaca Al-Qur’an. Seandainya tidak sahur, maka dimungkinkan tidak bisa beribadah di akhir malam tersebut.
Sungguh indah ajaran Islam. Berpuasa, tapi disuruh makan sahur. Maka walaupun siangnya tidak makan dan tidak minum, tapi shaim (orang yang berpuasa) tetap bisa bekerja dan produktif. Jadi sangat naïf, jika orang Islam tidak berpuasa di bulan Ramadlan ini dengan alasan takut tidak kuat bekerja. Dan sebaliknya, sungguh mulia orang Islam yang berpuasa walau kerjaan numpuk segudang. Perut boleh lapar, tenggorokan boleh haus, tapi jiwa tetap semangat. Insya Allah pahala akhirat didapat dan keuntungan dunia juga diperoleh. Dan itulah harapan kita semua, untung di dunia dan sukses di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang senang dengan ibadah puasa yang dijanjikan surga  oleh Allah swt. Amien.
Read More..

Membumikan Amalan Puasa

Ada tiga macam Ibadah dalam Islam. Pertama Ibadah dengan jiwa, kedua Ibadah dengan tenaga dan jiwa, ketiga ibadah dengan tenaga, jiwa dan harta. Berpikir positif adalah Ibadah dengan jiwa. Puasa dan shalat merupakan contoh ibadah dengan tenaga dan jiwa. Dan Ibadah haji/Umrah adalah Ibadah dengan tenaga, jiwa dan harta.
Orang puasa tidak membutuhkan harta. Karena puasa malah menahan agar tidak makan dan minum. Sedangkan berbuka dan sahur adalah pindahan dari kebiasaan makan saja. Dari siang dipindah ke malam hari. Jadi praktis orang yang berpuasa tidak membutuhkan modal sebagaimana Ibadah zakat ataupun haji.
Namun demikian syari’at tentang puasa bisa berdampak social yang tinggi. Betapa tidak, orang yang batal puasa karena hubungan suami-istri di siang hari misalnya, ia harus didenda membayar 60 mud (dibulatkan 60 liter) beras undtuk diberikan kepada fakir-miskin. Seorang Ibu yang tidak berpuasa karena hamil atau menyusui, kena denda membayar mud juga (atau seliter beras per hari). Seorang kakek yang sudah lanjut usia boleh tidak berpuasa dengan cara mengganti bayar mud seperti Ibu hamil tersebut.
Seperti dalam kisah Hadits Rasulullah riwayat Muslim, bahwa pernah ada seorang sahabat yang melapor kejadian di siang hari Ramadlan. Ia telah berhubungan suami-istri di siang hari, lantaran tidak tahan. Maka Rasulullah bertanya, al : Fa hal tajidu ma tut’imu sittina miskinan ? (Apakah kamu mempunyai makanan untuk diberikan kepada 60 orang miskin). Jadi orang tersebut dikenakan sanksi karena membatalkan puasanya dengan berhubungan suami – istri.
Pertanyaannya, apa hubungannya batal puasa dengan memberi makan orang miskin ? Hal ini seakan tidak nyambung. Tapi kalau kita renungkan lebih dalam, maka akan kita dapati bahwa puasa sasaran akhirnya adalah membentuk manusia-manusia yang tidak egois. Yaitu manusia yang mempunyai rasa empati terhadap kemiskinan atau kesusahan orang lain.
Dan hal ini sangat cocok dengan kondisi zaman sekarang. Betapa pincangnya antara kehidupan orang-orang kaya dengan orang miskin. Di samping gedung-gedung yang mewah dan menjulang, di sekelilingnya masih terdapat ribuan rumah-rumah reyot yang dihuni para fakir-miskin. Kehidupan yang amat timpang dari segi ekonomi. Semakin tak terkendalinya laju pertumbuhan kaya dan si miskin, seakan balapan. Si miskin bertambah miskin dan si kaya bertambah kaya.
Dan ibadah puasa inilah yang sebenarnya salah satu upaya dari Islam untuk menjembatani gep antara si kaya dan si miskin. Jadi Ibadah puasa bukan semata-mata ajaran langit, tapi juga ajaran bumi. Maksudnya Allah mengajak manusia agar mau hidup tolong-menolong di antara sesamanya. Al-Qur’an mengajarkan “Wa ta’awanuu alal birri wat taqwa.” Dan saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa.
Sikap saling tolong-menolong bisa tumbuh manakala seseorang telah merasakannya. Seperti puasa mengajarkan menahan lapar dan haus, sehingga mengajarkan rasa simpati kepada orang miskin yang lapar karena kurang makan. Dan orang yang mempunyai kelebihan makanan/harta  bisa berbagi kepada yang lebih miskin. Rasa simpatik dan empati inilah yang diharapkan tumbuh dalam setiap diri umat Islam yang berpuasa dengan benar. Dengan cara berbagi kail bukan berbagi ikan.
Selanjutnya orang-orang borjuis dapat berbagi permodalan kepada yang di bawah. Sehingga tata ekonomi kita bisa tumbuh bersama. Tidak hanya di kalangan si kaya saja, tapi juga kaum lemah bisa meningkat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Dan itulah yang sebenarnya diajarkan dalam ekonomi syari’ah. Yaitu pemberdayaan ekonomi umat dengan cara saling menopang, saling menguntungkan, bukan dengan cara menindas seperti renteneer. Dan kini telah tiba waktunya umat Islam untuk bangkit merakit persaudaan ekonomi. Di samping persaudaraan tauhid.
Ibadah puasa Ramadlan ini  hendaknya menjadi inspirasi bagi para aghniya’ (pengusaha) untuk meningkatkan kerjasama permodalannya kepada pelaku usaha kelas kecil dan menengah. Sehingga melahirkan manusia-manusia yang kuat ekonominya dan kuat Imannya. Amien.

Read More..

Rabu, 16 Juni 2010

Puasa Tarwiyah : Ragu ??


Hari gene masih ragu puasa Tarwiyah ….…? Kenapa nggak mau nanya …? Emang udah pada tahu dalilnya ?  And Manfa’atnya ?
Katanya , santri !
Gini loo  cerita singkatnya………
Read More..

Minggu, 20 September 2009

Puasa Syahwat



Ketika Rasulullah saw. menjelaskan manfa’at puasa di antaranya disebutkan bahwa puasa itu berfungsi sebagai perisai bagi seorang muslim. Meskipun - asal sasaran hadits tersebut adalah pemuda yang belum mampu menikah, Beliau sarankan agar hari-harinya diisi dengan berpuasa untuk memecah sahwat. Namun ketentuan ini berlaku umum. Artinya puasa bisa menjadi benteng pertahanan bagi siapa saja yang mau berpuasa.
Tentu saja yang dimaksud oleh Rasulullah saw. tersebut adalah menahan sahwat (nafsu birahi) terhadap wanita atau lawan jenis. Sebab puasa pada dasarnya tidak hanya menahan nafsu makan dan minum, tapi juga nafsu berhubungan sebadan. Hal ini jelas bahwa puasa tidak hanya melatik ketahanan fisik saja, tapi juga melatih pertahanan mental spiritual.
Kontemplasi yang dilakukan dalam peribadatan puasa diharapkan dapat mencapai tujuan akhir puasa, yaitu menjadi manusia yang bertaqwa ( Q.S.Al-Baqarah: 183). Dan manusia bertaqwa adalah manusia yang mantab keyakinannya dan benar amal perbuatannya. Atau dalam kata lain, yaitu orang yang beriman dan beramal shaleh. Maka dari pada itu Imam besar Al-Ghazali Guru Besar Sufi dalam kitabnya Ihyau Ulumid Dien menjelaskan bahwa puasa itu identik dengan sabar, sedangkan sabar itu setengah dari pada Iman.

Maka jelaslah bahwa orang berpuasa dengan niat yang benar (ikhlas semata-mata karena Allah swt), akan memiliki sifat dan sikap yang penyabar dan penyayang. Karena hati mereka sudah biasa terlatih dalam kesabaran. Sabar menunda tidak makan walau lapar, sabar tidak minum meskipun haus dan sabar menunda tidak menggauli istrinya sekalipun punya hasrat –libido- di siang hari.

-Syahwat Terkontrol

Syahwat ingin makan pada sa’at berpuasa bisa dicegah dengan melakukan berbagai aktifitas baik bersifat rohani maupun bersifat jasmani. Dan sahwat ingin minum bisa juga ditahan dengan mengurangi kegiatan yang menguras energi fisik. Apa lagi nafsu biologis ingin bersebadan dengan perempuan atau istri bisa ditahan dengan mengurangi asupan yang berkolesterol tinggi yang membuat darah menjadi hot (tegangan tinggi) seperti konsumsi daging kambing dan sejenisnya.

Jadi dengan berpuasa seseorang bisa mengontrol tiga nafsu keinginan sekali gus, makan, minum dan berhubungan sebadan. Dan ini sesuai dengan tu7ntunan Rasulullah saw yang membebaskan konsumsi segala jenis makanan dan minuman, kecuali yang diharamkan. Maka seseorang yang berpuasa mengendalikan nafsu makan di siang hari yang memang kebiasaan itu dilakukan di siang hari. Sedangkan di malam hari digunakan untuk istirahat atau tidur. Dampak dari latihan itu akan menjadi terlatih mampu menahan diri dari makanan yang tidak baik dan tidak halal. Sebagaimana Allah swt. melarang secara umum kepada kita untuk tidak makan makanan secara batil /proses yang tidak halal. (Q.S. An-Nisa’:29).


Korupsi yang marak akhir-akhir ini merupakan bagian dari cara memperoleh harta/makan barang secara batil/tidak halal. Dan prosesnya yang tidak benar itulah yang dilarang agama seperti dalam ayat tersebut. Hal itu karena akan menimbulkan penindasan dan pemiskinan bagi orang lain. Juga akan memunculkan sifat serakah bagi pelakunya. Dan itu akan berdampak dicabutnya berkah dari muka bumi, seperti yang terjadi pada umatnya Nabi musa yang serakah terhadap makanan Manna dan Salwa. Maka orang yang berpuasa akan melahirkan sifat qana’ah (tidak serakah), sebab ia merasa cukup dengan rizki yang ia peroleh dengan cara yang halal saja.

Sedangkan syahwat biologis bisa lebih terkontrol dengan menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas karena Allah swt. Sebab puasa tidak bisa dilihat/diawasi oleh siapapun(manusia) kecuali oleh Allah swt. Dan penyaluran sahwat biologis biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi yang tidak bisa dilihat oleh siapapun kecuali Allah Yang Maha Melihat di kala terang maupun gelap. Itulah sebabnya orang yang rajin berpuasa Senin-Kamis di samping puasa wajib bulan Ramadlan, akan lebih bisa menjaga diri (iffah) dibanding orang yang tidak atau jarang berpuasa.
-Persoalan dan Solusi

Persoalannya sekarang adalah mengapa fakta di lapangan masih banyak - bahkan semakin bertambah- terjadi perselingkuhan dan perzinahan baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi ? Hal ini kalau kita kaji lebih mendalam, maka akan kita dapati kesimpulan bahwa ternyata akibat minimnya pelaku perzinahan tersebut dalam ibadah puasa. Sebab tidak mungkin orang rajin berpuasa, tapi masih mau berbuat zina atau perselingkuhan. Bukankah puasa bisa memecahkan / mengurangi syahwat ?

Maka akar persoalan yang terjadi di masyarakat baik itu berupa penyakit korupsi (musuh KPK), maupun perzinahan (penghancur tatanan hidup berumah tangga) adalah berasal dari persoalan pemahaman dan pelaksanaan ibadah puasa. Jadi selagi masih banyak orang yang tidak memahami dan tidak melaksanakan ibadah puasa, maka penyakit masyarakat (korupsi dan prostitusi) yang menjadi momok dewasa ini akan tetap terjadi. Berapapun anggaran yang dihabiskan oleh Pemerintah untuk memberantasnya , tetap tidak akan mampu menanggulanginya dengan tuntas..


Dari kenyataan tersebut, maka lebih baik anggaran yang besar itu dibagi menjadi dua. Setengah anggaran untuk tindakan prefentif (pencegahan) secara rohani, misalnya untuk memfasilitasi orang-orang agar mudah melaksanakan ibadah puasa. Untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pelaksanaan ibadah puasa. Mendorong masyarakat terlebih para birokrat dan pejabat agar menjadi contoh teladan bagi rakyatnya dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadlan. Mubtilat (penghancur) puasa seperti warung-warung penyaji makanan yang siap santap juga dibatasi untuk meminimalisir pelanggar-pelanggar puasa.

Dana setengahnya lagi diperuntukkan tindakan kuratif (penyembuhan). Seperti memberi sanksi (takzir) bagi pelanggar puasa bagi orang yang ber-KTP – Islam. Dan pemrosesan hukum bagi para koruptor dan pe-zina dengan tindakan nyata. Misal dengan hukuman penjara yang bisa menjadikan para pelaku benar-benar jera / kapok atas perbuatannya yang kotor. Memang itu semua membutuhkan keberanian dan dana yang cukup. Tapi insya Allah hasilnya akan bisa dirasakan oleh umat secara umum. Rakyat terlindungi dari penindasan ekonomi dan penindasan terhadap perlindungan keluarga.

Semoga kita dapat berpuasa dengan baik dan benar, sehingga memperoleh keberkahan hidup. Berkah sehat jasmani dan rohani, serta berkah rizki buat mengabdi pada Ilahi Rabbi. Dan menjadi teladan bagi setiap diri yang ingin berbenah hati di bulan suci. Wallahu a’lam bis shawab.


Read More..