"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh., semoga blog ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang sudah mampir., sebelum melanjutkan tekan ctrl+d untuk mem-Bookmark page ini. Trims. Wassalam."
Rabu, 02 Desember 2015
PUASA SEBAGAI PENENTU DO'A
PUASA DAN KEKUASAAN
Minggu, 01 November 2015
MENG-IDAM-KAN PEMIMPIN YANG BERANI MENCINTAI RAKYAT
![]() |
| Oleh : A. Mahfudz Anwar |
Kamis, 14 Mei 2015
LP MA'ARIF NU - Konsisten Pada Pendidikan Akhlakul Karimah
http://www.nu.or.id/onefiles/nu_or_id/dinamic/mid/1372809801.JPG
LP.Ma’arif NU Konsisten Pada Pendidikan Akhlakul Karimah
Rasul-ku, RASULULLAH SAW.
H.A.Mahfudz Anwar
Serpihan Cinta di Bandara "KING ABDUL AZIZ"
Jumat, 24 Mei 2013
Mir'at : "Udara"
Program Utama Islamic Value
Menanamkan Islamic Value di Sekolah
Hati
Seorang anak yang akan pergi berpamitan kepada kedua orang tuanya, maka dikatakan “Hati-hati, di jalan”. Seorang karyawan junior yang akan melakasanakan tugas baru di sebuah cabang perusahaan, dikatakan oleh seniornya : “Hati-hati di tempat barumu”. Seorang suami yang akan berangkat tugas jauh, dikatakan oleh istrinya :”Hati-hati ya Mas..”. Semua orang mengatakan hati-hati. Tidak mengatakan pikir-pikir –misalnya- atau mengatakan “kaki-kaki ya”, karena berjalan pakai kaki. Padahal setiap melangkah harus menggunakan akal pikirannya. Dan kalau berjalan kakinya yang harus waspada, agar tidak tersandung. Dan seterusnya. Mengapa Hati yang disebut-sebut? Karena hati adalah pusat segala kehidupan.
Senin, 22 Maret 2010
Menakar Efektifitas Beasiswa 2010 bagi Lulusan SMA sederajat
“Pemerintah menyediakan anggaran beasiswa sebesar Rp.200 miliar bagi lulusan SMA Sederajat yang akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Beasiswa ini diberikan mulai 2010 kepada 20.000 lulusan SMA sederajat yang berprestasi, tetapi kesulitan biaya untuk kuliah. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas di Jakarta, menjelaskan; lulusan SMA berprestasi tersebut mendapat beasiswa Rp. 10 juta per tahun untuk membiayai pendidikan dan bantuan hidup sehari-hari. Beasiswa itu dilanjutkan hingga mahasiswa lulus. Dari hasil penelitian Bappenas, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin rendah tingkat partisipasi masyarakat dari golongan miskin untuk melanjutkan pendidikan.” (red-kompas).
Program Pemerintah dalam pemberian beasiswa tersebut perlu mendapat respon positif dari masyarakat. Sebab dengan dana beasiswa tersebut selain dapat membantu masyarakat (khususnya orang tua siswa) dalam menghemat biaya hidup, sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lain, juga sangat bermanfa’at bagi para remaja lulusan SMA sederajat. Sebab dengan beasiswa itu anak-anak berprestasi dapat lebih meningkatkan prestasinya sehingga lebih produktif dan berdayaguna.
Sabtu, 05 Desember 2009
Munculnya Aliran Sempalan
Contoh kasus tentang aliran sesat ”Inkar Sunnah” yang sudah jelas-jelas telah dilarang dengan adanya Fatwa M U I (Majelis Ulama Indonesia) tanggal 27 Juni 1983 dan Surat Keputusan Jaksa Agung RI. Nomor : Kep-085/J-A/9/1985. Aliran yang secara formal pernah berkembang di Indonesia dengan tokoh intelektualnya Nazwar Samsu dan Dailami Lubis ( buku-bukunya juga sudah dilarang beredar di seluruh Indonesia ini).
Sekedar mengingatkan saja, bahwa sebagian ajaran pokok aliran Inkar Sunnah yang dianggap sesat adalah : mereka tidak percaya kepada semua sunnah/hadits Nabi saw; Dasar hukum Islam hanya Al-Qur’an saja, Mereka tidak wajib puasa Ramadlan kalau tidak melihat langsung tanggal satu/hilal (yang wajib hanya yang melihat saja) dll. Aliran semacam ini sekalipun sudah dilarang secara formal, tapi secara praktek di lapangan tidak menutup kemungkinan akan muncul dalam bentuk lain dan nama lain.
Peran Penyuluh Agama
Penyuluh Agama merupakan salah satu organ dari Departemen Agama yang dipandang sebagai wajah paling depan, karena tugas utamanya berhadapan langsung dengan masyarakat (wilayah publik). Oleh karena itu tampilan para penyuluh itu bisa menentukan citra baik atau buruknya Depag. di mata masyarakat luas. Penyuluh tidak hanya sekedar memberi ceramah di Majelis Taklim atau Khutbah jum’at di masjid. Tapi mereka juga ditunut lebih jauh dari itu, harus mampu dekat dengan umat dan mengambil hati masyarakat di sekitarnya. Pencitraan Depag. bisa dilakukan oleh para penyuluh, jika mereka memang capable dan mumpuni.
Untuk itu peran penyuluh agama sebagai penerang masyarakat juga sebagai guru yang bisa menyuarakan program-program Depag. Melalui edukasi publik. Terlebih Depag. mengemban amanat menjaga akidah dan moral umat. Paling tidak, dapat berperan sebagai pendamping umat dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahan dan keumatan secara bersamaan.
Peran penyelamatan akidah umat misalnya dapat dilakukan dengan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari melalui bimbingan dan pemantauan kegiatan ibadah. Baik di pusat-pusat peribadatan seperti mushalla, masjid atau majelis taklim. Bahkan kegiatan-kegiatan ibadah di padepokan-padepokan atau dari rumah ke rumah yang kini marak di lakukan di kota-kota.
Diteksi Dini
Untuk mencegah terjadinya aliran-aliran sempalan yang meresahkan masyarakat, maka perlu ada hal-hal yang harus dilakukan. Pertama, Pihak Depag, khususnya Penamas, hendaknya merekrut para penyuluh Agama yang memenuhi persyaratan minimal sebagai penyuluh di samping punya moral yang baik di depan masyarakat. Kedua, Pembekalan dengan juklak yang rinci yang dikeluarkan oleh Depag dan disosialisasikan secara berkesinambungan. Ketiga, Penyuluh Non PNS hendaknya dibekali dengan pembekalan yang sama dengan penyuluh PNS, agar dapat berjalan seiring dan saling memperkuat.
Di samping ketiga hal tersebut masih banyak hal yang harus dilakukan, misalnya berkoordinasi dengan pihak-pihak lain. Penyuluh di desa atau kelurahan hendaknya dikoordinasikan dengan program-program yang ada di kelurahan tersebut (tempat tugas/domisili Penyuluh). Program peningkatan mutu SDM (Sumber daya Manusia) bagi Penyuluh dilakukan secara berkelanjutan dan bisa bekerjasama dengan instansi terkait lainnya. Misalnya saja bekerja sama dengan Kejaksaan Negeri setempat dalam kaitan informasi tentang aliran-aliran sesat dari kacamata hukum. Juga bekerjasama dengan Kepolisian dalam kaitan informasi penyalah gunaan Narkotika/obat-obatan terlarang, penanganan/pencegahan prostitusi, penanggulangan traficking, KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), aborsi dan pelanggaran-pelanggaran susila lainnya.
Sinergi antara penyuluh Agama/Depag dengan pihak-pihak terkait lainnya, selain memudahkan beban tugas para penyuluh (karena adanya informasi yang akurat ), juga dapat meningkatkan confident (percaya diri) para penyuluh dan meningkatkan citra positif Departemen Agama di tengah-tengah masyarakat. Sekian . Wallahu a’lam.
H. A. Mahfudz Anwar
(Penyuluh Agama Non PNS, Kota Depok)
Sabtu, 22 Agustus 2009
Ideologi Pancasila dalam Era Reformasi
Indonesia dalam perjalanannya yang panjang setelah menempuh perjalanan kemerdekaannya yang sudah mencapai usia 64 tahun, semakin banyak persoalan yang harus dihadapi. Di samping problem ekonomi yang menimpa bangsa ini, persoalan keamanan yang belum menentu terjaminnya, juga persoalan yang lebih menghawatirkan adalah persoalan Ideologi Negara.
Pancasila yang telah disepakati oleh Faunding Fathers negeri ini sebagai ideologi negara mulai mengalami getaran dan gesekan dalam cengkeraman ”Burung Garuda”. Kuku-kuku tajam burung Garuda mulai agak longgar dalam menggenggam tali buhul Pancasila. Telah banyak contoh yang bisa kita katakan di sini. Sebut saja kelalaian terhadap tegaknya nilai-nilai Pancasila yang ter-simbol-kan dalam lambang Burung Garuda atau Burung Elang Rajawali yang dimitoskan sebagai lambang perlindungan bangsa Indonesia.
Lagu-lagu kebangsaan-kepahlawanan banyak yang tidak lagi dihafal oleh anak-anak muda negeri ini. Tapi lagu-lagu cinta yang cengeng dan lebih menjurus ke arah seks lebih mudah populer dibanding lagu-lagu kebangsaan dan perjuangan tersebut. Seperti lagu Garuda Pancasila yang bernada heroik, lagu Indonesia Raya yang memupuk Sense of Belonging terhadap Indonesia dan sejenisnya tidak lagi bersarang di dada para kaum muda. Bahkan sampai acara kenegaraan pun bisa lupa dikumandangkan lagu wajib ini. Ironis ?
-Bukan sekedar Lambang
Garuda atau lebih tepatnya ”Garuda Pancasila” yang terpampang di setiap kantor-kantor baik Pemerintah maupun swasta selama ini lebih dipandang sekedar hiasan dinding. Tak ubahnya ibarat hewan-hewan Sirkus yang sudah tidak lagi mempunyai Yoni atau kekuatan magis bagi pemasangnya. Seperti kita ketahui bersama bahwa macan sirkus itu tidak galak lagi seperti ketika mereka masih ada di dalam hutan rimba. Ular yang besar sudah hilang bisa atau racunnya yang mematikan ketika dipermainkan Pawang dalam pertunjukan Sirkus. Demikian juga burung ”Garuda Pancasila” sekarang yang sepertinya tinggal tempelan dinding, tak lebih dari sekedar hiasan layaknya gambar-gambar burung lainnya.
Padahal Garuda Pancasila yang dipilih sebagai lambang negara semestinya mempunyai nilai-nilai luhur yang patut dan harus dipupuk terus menerus, tanpa terpengaruh oleh situasi apapun. Sebab nilai-nilai itu sifatnya universal dan kekal abadi. Sekedar membangkitkan kembali ingatan kita pada Pancasila dan nilai-nilainya yang mulai terpasung, maka mari bersama-sama kita simak sekilas.
Pertama : nilai historis yang tersimpan dalam tiap sayapnya ada 17 helai, pada ekor 8 helai, bulu kecil-kecil di bawah perisai ada 19 helai dan kecil-kecil di leher ada 45 helai. Ini melambangkan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) terjadi pada : 17 – 8 - 1945. Dan perisai yang tergantung di leher burung Garuda Pancasila berisi lima lambang atau lima Sila sbb : Bintang bersegi lima melambangkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, Rantai melambangkan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Pohon Beringin yang rindang melambangkan Persatuan Indonesia. Kepala Banteng melambangkan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dan Padi-kapas (pangan-sandang) yang melambangkan Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Kedua : Nilai politis yang ada pada tulisan ”Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti :berbeda-beda tetapi tetap satu. Ini adalah pengertian falsafah politik bagi ketatanegaraan Republik Indonesia yang lebih mencita-citakan Persatuan dan kesatuan bangsa. Suku boleh berbeda, ras boleh berbeda, agama boleh berbeda, tapi begitu menjadi warga negara Indonesia, maka yang ada hanyalah satu, yaitu Pancasila. Hal inilah yang jika nilai-nilainya kita pegangi dan kita perjuangkan secara terus menerus akan menjadi pemersatu bangsa ini.
-Goncangan-goncangan
Goncangan Bom yang sempat mengoyak ketenangan hidup berbangsa dan bernegara merupakan salah satu gangguan terhadap nilai-nilai Pancasila. Hal ini kalau tidak ditangani secara bersungguh-sungguh dan berhati-hati, maka bisa-bisa akan menjadi persoalan yang melebar dan menjadi bom waktu runtuhnya burung Garuda Pancasila. Karena apapun alasannya, bahwa pengeboman yang dilakukan oleh orang-orang teroris merupakan pengejawantahan dari gejolak ingin keluar dari nilai-nilai Pancasila tersebut. .
Demikian juga gerakan sparatisme yang terjadi di tapal batas atau wilayah-wilayah seperti Papua, Maluku, Aceh dll. juga menjadi hambatan pembangunan nilai-nilai Pancasila. Karena nilai-nilai Persatuan yang dibangun dalam bingkai Pancasila bisa kabur dan hilang, jika peluang sparatisme tidak ditutup. Persoalan yang sesungguhnya berasal dari asas keadilan dan kesejahteraan, bisa beralih menjadi persoalan Ideologis. Oleh karena itu tugas Pemerintah yang baru nanti, yang paling utama dan mendasar adalah mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam gerak nyata yang tertuang dalam program.
Kerukunan antar umat beragama –misalnya- tidak hanya melalui dialog saja, tapi hendaknya menjadi agenda nyata dalam kerjasama yang saling mendekatkan. Baik kerjasama ekonomi maupun kerjasama saling menjaga keamanan di setiap jengkal wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Letupan-letupan kecil yang menyulut pertengkaran antar umat beragama hendaknya diselesaikan secara politis dan ideologis. Dan melibatkan unsur-unsur terkait seperti tokoh-tokoh politik dan tokoh-tokoh agama, yang selama ini kurang dilibatkan oleh Pihak pemerintah/aparat keamanan.
Pembinaan budaya antar suku yang akhir-akhir ini kurang terpelihara dengan baik juga bisa menjadi salah satu pemicu kurangnya rasa nasionalisme. Sebab suku-suku yang bernaung di bawah burung Garuda Pancasila akan merasa bangga jika dihargai eksistensinya. Seperti suku Betawi -misalnya- yang dinilai (sekurang-kurangnya dalam film ) mulai terpinggirkan baik secara geografis maupun secara ekonomis, semakin lama akan semakin merasa tertindas di negerinya sendiri. Hal seperti ini hendaknya secepatnya memperoleh perhatian Pemerintah yang lebih serius, sebelum menjadi ledakan emosional seperti suku Kurdi di belahan negeri lain. Dan suku-suku lainnya yang menanti perhatian dari Pemerintah Pusat, terutama di wilayah-wilayah terluar yang berdekatan dengan negara lain.
Gejolak para teroris, gangguan kaum sparatis dan gangguan-gangguan lainnya tidak akan menjadi kekuatan yang menggangu Ideologi Pancasila, manakala kita semua mengajak kembali kepada buku pedoman berbangsa dan bernegara (RI), yaitu Pancasila. Karena Pancasila ibarat Kitab Sucinya umat beragama. Kitab yang menjadikan bangsa ini bersatu berdaulat dan kokoh dalam wadah NKRI. Kokoh dalam arti mampu membangun negerinya sendiri (berdikari) dan kokoh menghadapi gangguan asing. Semoga Pancasila masih tetap bersarang di dalam sanubari kita semua.
Selasa, 02 Juni 2009
IPNU tergantung GREEN-LIGHT NU


Cikal bakal NU diawali dari pertemuan-pertemuan anak-anak muda terpelajar yang mempunyai ghirah yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bermula dari Hadratus Syekh K.H.Abdul Wahab Chasbullah yang baru saja pulang dari studinya di Makkatul Mukarramah. Beliau bersama-sama dengan anak-anak muda muslim di Surabaya berkumpul untuk mendiskusikan berbagai persoalan umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Tepatnya pada tahun 1914 M. didirikanlah suatu perkumpulan majelis munadzarah yang diberi nama “Tashwirul Afkar”, artinya potret pemikiran. Tashwirul Afkar yang berawal dari pemikiran ilmiah keagamaan murni, akhirnya semakin lama semakin berkembang sesuai dengan tuntutan zaman pada sa’at itu. Di mana Bangsa Indonesia masih berada dalam cengkeraman penjajah Belanda yang konon beragama Nasrani dan Yahudi.
Dalam perkembangan selanjutnya diskusi-diskusi itu semakin menarik para cerdik cendekia muslim untuk membahas perkembangan perjuangan Syari’at Islam. Membahas bagaimana idealnya syari’at Islam bisa berjalan dengan baik sekalipun Negara berada dalam kungkungan penjajah.
Maka dengan kesepakatan mereka, Tashwirul Afkar dirubah menjadi Jam’iyah Nahdlatul Wathan. Dari nama yang diberikannya, maka bisa dilihat bahwa bermula dari kumpulan pengajian hingga menjadi perkumpulan atau organisasi yang menjurus politik Dan pada tahun 1916 M organisasi Nahdlatul Wathan ini baru mendapat pengesahan dari Pemerintah Belanda. Jam’iyah artinya : organisasi, al-Nahdlah artinya : kebangkitan, dan Wathan berarti : Tanah air. Jadi Jam’iyah Nahdlatul Wathan berarti : Organisasi Kebangkitan Tanah Air. Dari nama inilah dapat dipastikan bahwa kesadaran berpolitik kaum santri telah resmi menjadi perjoangan yang terorganisir untuk membela bangsa yang tertindas. Dan salah satu sikap tegasnya adalah penentangan terhadap “Guru Ordonantie” yang dibuat oleh Pemerintah Belanda. Yaitu suatu peraturan pembatasan kegiatan pengajaran Agama (Islam). Dan IPNU/IPPNU adalah salah satu Badan otonom dalam NU.
IPNU/IPPNUIPNU (Ikatan Putera Nahdlatul Ulama dan IPPNU (Ikatan Puteri-Puteri Nahdlatul Ulama), merupakan organisasi tempat berhimpun generasi muda pelajar yang berada dalam kibaran panji jam’iyah Nahdlatul Ulama. IPNU/IPPNU yang berawal dari organisasi pelajar setingkat SLTP dan SLTA ini berfungsi sebagai wadah penempaan jatidiri, interaksi sosial, kejuangan dengan sandaran nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan (ke-Indonesiaan). Secara kelembagaan IPNU/IPPNU memiliki kedudukan strategis sebagai wahana kaderisasi putera/puteri NU sekaligus alat perjuangan NU dalam pembinaan generasi muda. Agar menjadi generasi masa depan yang tangguh dalam memperjuangkan ajaran agamanya dan nilai-nilai kebangsaann-nya. Niali-nilai keagamaan yang diperjuangkan adalah nilai-nilai ajaran Islam Ahlus Sunnah wal-Jama’ah seperti yang diperjuangkan oleh Ulama-Ulama NU. Maka para pemuda/pemudi yang tergabung dalam IPNU/IPPNU berproses dalam kaderisasi formal maupun informal. Kegiatan informal ini sangat penting, karena mereka dihadapkan pada realitas sosial yang selalu berkembang dari waktu ke-waktu. Agar para kader IPNU/IPPNU terlibat langsung dalam segala aktifitas, sekaligus menjadi team work yang baik. Maka dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus NU selalu melibatkan kader-kader muda barisan IPNU/IPPNU. Hal ini dilakukan sebagai sosialisasi antara teori yang dikembangkan dalam pengkaderan formal juga diteruskan pada kehidupan nyata. Untuk itu para anggota IPNU/IPPNU yang secara optimal melibatkan diri dalam proses-proses kegiatan ke-NU-an, baik dalam bentuk kegiatan pengajian keagamaan maupun kegiatan sosial mabarrat akan menjadi kader yang militant. Tapi sebaliknya , anggota IPNU/IPPNU yang hanya mengikuti kegiatan pengkaderan formal saja, akan kering makna. Hanya tahu teoritis, tapi tidak kenal watak NU secara utuh. Sehingga character building dalam ke-IPNU-an kurang dapat dirasakan. Maka dari itu IPNU/IPPNU harus bergerak sesuai dengan green light dari Petinggi-petinggi NU. Dan maju mundurnya IPNU/IPPNU tergantung maju dan mundurnya para petinggi NU. Selanjutnya, tujuan IPNU/IPPNU selain memperjuangkan dan mempertahankan ajaran Islam menurut faham Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, juga membentuk kader-kader bangsa yang berilmu dan berwawasan nasional (NKRI). Dan yang lebih penting lagi adalah terbentuknya kader-kader yang mempunyai kemandirian dan pemberdayaan ekonomi. Jadi jelaskan bahwa IPNU/IPPNU merupakan organisasi kader yang bertugas mengantarkan anggotanya menjadi manusia-manusia yang memiliki karakter yang jelas sesuai dengan karakter yang dibangun oleh NU.
Orientasi EkonomiSeperti diketahui bahwa pengkaderan IPNU/IPPNU yang disebutkan di atas adalah mengharuskan kepada aktifis/pengurus IPNU/IPPNU untuk memahami karakter dirinya baik secara kelembagaan maupun secara individu. Terutama untuk mengembangkan organisasi baik kuantitas maupun kualitas. Dari segi kuantitas, diharapkan setiap pelajar yang berjiwa Ahlus Sunnah wal-jama’ah dapat ter-rekrut menjadi anggota IPNU/IPPNU secara sadar. Sedangkan dari segi kualitas, mampu melahirkan kader-kader mandiri, loyal dan militant. Dan yang lebih penting lagi mampu mengimplementasikan konsep Tawazun (keseimbangan), Tasamuh (toleran), I’tidal dan amar ma’ruf-nahi munkar yang dikembangkan oleh Syuriah NU. Dengan paradigma yang terpateri dalam konsep tawazun dan sebagainya itu diharapkan IPNU/IPPNU mampu menjadi kader-kader generasi muda ke depan yang mampu ambil bagian dalam membangun bangsa, menuju pada kehidupan sejahtera lahir dan batin. Dan persoalan bangsa yang paling mendasar pada dekade terakhir ini adalah persoalan ekonomi. Betapa setruktur masyarakat muslim banyak mengalami perubahan dari komunitas pengajian, menjadi komunitas ekonomi, bahkan komunitas politik. Hal ini merupakan salah satu dampak dari sistem pendidikan yang berkembang di sekolah maupun madrasah pada akhir-akhir ini. Kini kaum santri terpelajar tidak hanya bergerak dalam dakwah bil-lisan (pengajian dan zikir lisan), tapi juga merambah pada perjuangan ekonomi syari’ah. Yaitu perjuangan melawan hegemoni Barat yang secara tidak sadar menjajah ekonomi bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia ini. Maka dengan sadar kader IPNU/IPPNU mulai menyelesaikan tugas-tugas team work yang mengarah pada pengembangan ekonomi ke-umatan. Baik melalui koperasi bersekala kecil maupun Baitul mal wat tamwil yang sedikit demi sedikit mulai menterapkan sistem syari’ah. Bahkan tidak sedikit kini Perguruan Tinggi di negeri ini yang mengembangkan kurikulum berbasis ekonomi syari’ah. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para Aktifis IPNU/IPPNU. Sehubungan dengan pelantikan Pengurus Cabang IPNU/IPPNU kota Depok pada hari : Ahad, 31 Mei 2009 oleh Wakil Walikota Depok; diharapkan terjadi penyegaran pada Pengurus, juga terjadi perubahan pengkaderan yang signifikan dalam menghadapi tantangan generasi muda yang semakin komplek dan melelahkan. Selamat dan sukses.Amien.


