"Welcome to LENTERA ISLAM" Semoga bermanfaat Happy Reading
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2015

PUASA SEBAGAI PENENTU DO'A

Banyak orang merasa do’anya tidak terkabul. Mereka memohon-mohon kepada Allah swt. tapi tidak juga dikabulkan. Akhirnya banyak orang yang putus asa dan tidak mau berdo’a lagi. Hidupnya terasa hampa, tak punya sandaran, tak ada lagi tempat mengadu atau sekedar tempat curhat ( curahan hati). Pada hal Islam mengajarkan banyak cara untuk terkabulnya do’a. Salah satunya dengan wasilah berpuasa.
Memang faktanya puasa itu tidak mudah. Karena tugas puasa adalah meninggalkan sesuatu yang sudah biasa menjadi kebiasaan manusia. Seperti kebiasaan makan kenyang di siang hari. Minum dengan banyak, sampai tidak haus. Berhubungan sex (suami-istri) kapan saja mau, bisa dilakukan dengan mudah. Apa lagi bagi pengantin baru yang sedang hot-hotnya. Untuk menghentikan aktifitas yang semacam itu terasa amat berat bagi sebagian besar orang. Maka Islam tidak memerintahkan puasa sepanjang hari (siang-malam), tapi cukup di siang hari saja ( sejak terbit fajar sampai dengan terbenam matahari). Sedangkan di malam hari halal melakukan segala larangan makan, minum dan menyalurkan nafsu biologisnya.
Read More..

PUASA DAN KEKUASAAN


Puasa merupakan salah satu cara untuk melatih diri. Melatih kekuatan yang ada di dalam diri manusia. Potensi yang ada di dalam diri manusia akan muncul, manakala sering dilatih. Misalnya otot yang kuat bisa muncul kalau sering dilatih dengan berolah raga. Lengan yang kuat bisa muncul jika sering dilatih dengan mengangkat beban. Olah Ragawan badannya kekar, karena sering berolah raga.
Demikian juga puasa. Orang yang sering berpuasa akan memiliki kekuatan batin lebih baik dibanding dengan orang yang tidak pernah berpuasa. Tradisi masyarakat tertentu, misalnya orang Jawa  biasa melakukan ”Tirakat” atau ”Tarak”. Ibu-ibu yang sedang hamil tidak mau banyak minum air Es, dengan tujuan agar bayinya tidak terlalu besar, sehingga lahirnya gampang. Orang yang takut Gemuk, mengurangi makan nasi (karbohidrat), dll. Itu semua disebut ”Tarak”.
Read More..

Minggu, 01 November 2015

MENG-IDAM-KAN PEMIMPIN YANG BERANI MENCINTAI RAKYAT

Oleh : A. Mahfudz Anwar

Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) yang serentak diselenggarakan oleh Pemerintah di Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia masih lima bulan lagi ( Desember 2015). Tapi tahapannya sudah dimulai dari sekarang. Mulai dari revisi Undang-undang, penjaringan calon dari berbagai Elemen, sampai tahap pendaftaran. Dan sudah mulai terasa gesekan-gesekan antar partai tentang jago nya masing-masing yang akan diusung. Mulai dari gesekan internal dalam partai, sampai gesekan antar partai satu dengan partai lainnya.
Hal ini turut memanaskan situasi Pemerintahan dan masyarakat luas pada umumnya yang sedang menghadapi tingginya harga-harga barang dan tingginya nilai Dolar terhadap Rupiah. Kalau saja tidak pandai-pandai mengelola Pemerintahan ini, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kerusuhan di mana-mana. Bisa saja kerusuhan itu bertajuk Agama, bertemakan Suku, ataupun tentang Budaya, tentang Ekonomi atau wujud kerusuhan lainnya. Maka diteksi dini yang diharapkan melalui peran Intelijen kita sangatlah wajar menjadi pengharapan semua rakyat Indonesia.
Read More..

Kamis, 14 Mei 2015

LP MA'ARIF NU - Konsisten Pada Pendidikan Akhlakul Karimah

 
http://www.nu.or.id/onefiles/nu_or_id/dinamic/mid/1372809801.JPG 



LP.Ma’arif NU Konsisten Pada Pendidikan Akhlakul Karimah

Fakta di lapangan menunjukkan betapa rawannya Pendidikan bangsa kita ini sedang di ambang batas ketidak sempurnaan. Banyaknya aksi kejahatan, aksi amoral yang terjadi di mana-mana mengingatkan kita pada masa-masa awal kemunculan Islam yang dihadapkan pada masyarakat Jahiliyah. Kini muncul Jahiliyah modern yang menjadi penghambat pembangunan manusia modern. Maka PB NU ( Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) melalui Badan otonomnya, L P. Ma’arif telah berpuluh-puluh tahun berjuang mendandani Pendidikan bangsa Indonesia. Bukan hanya melalui Pondok-Pondok Pesantren saja, tapi juga sekolah-sekolah umum yang di bawah naungan binaannya yang tersebar luas di penjuru Indonesia.
Berikut ini petikan wawancara Reporter Warta Al-Hamidiyah bersama Ketua LP Ma’arif Pusat K. H. Arifin Djunaidi, di suatu acara di kediaman Prof.Dr. K.H. Agil Siradj, MA, Ciganjur beberapa waktu lalu. 
Read More..

Rasul-ku, RASULULLAH SAW.


Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.
 H.A.Mahfudz Anwar
I. Pengantar
Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sudah lama dilaksanakan umat Islam di seluruh Dunia Islam. Sejak zaman Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi (Saladin) di Mesir yang menggelorakan semangat umat Islam untuk menghadapi tentara non muslim dari Eropa yang memerangi umat Islam. Setelah diadakan peringatan Maulid Nabi saw di seantereo negara Islam, maka bangkitlah semangat umat Islam untuk berani menghadapi serangan-serangan orang kafir yang datang dari Barat (Eropa). Sehingga kota Baitul Maqdis dapat dibebaskan dari cengekeraman kaum Kristen.(pada tanggal 2 Oktober 1187)  Dimana perang salib terjadi selama kurun waktu dua abad (1096-1291). Salahuddin wafat pada Februari 1193.
Salahuddin al-Ayyubi berhadapan dengan tentara salib yang dipimpin oleh Philip II Raja Perancis. Frederick I Kaisar dari Jerman, Richard I , Raja dari Inggris. Dan kemenangan selanjutnya di menangkan oleh umat Islam di bawah pimpinan wanita yang bernama “Syajar ad-Durr, yang berhasil mengalahkan pasukan Raja Louis IX dari Perancis. Akhirnya Raja Louis IX ini dibebaskan kembali ke negrinya, Perancis dengan membawa kekalahan yang memalukan umat Kristen.
Read More..

Serpihan Cinta di Bandara "KING ABDUL AZIZ"

Kisah ini saya tulis di Makkah, Oktober 2014
 Oleh :  A. M. Anwar

Awan putih bergulung-gulung. Seakan berkejaran satu sama lain. Berlari ke arah barat. Dari arah Syi’ib Amir menyeberangi Ka’bah menuju arah Aziziyah. Sesekali terlihat burung dara Fatimah berwarna megan melayang-layang di atas pusaran Ka’bah. Menambah cantiknya pemandangan Kota Mekah manakala Maghrib menjelang. Manusia berpakaian serba putih berbondong-bondong  memadati jalan raya dan gang-gang sempit di pasar Seng maupun pasar Halabi sekitar Masjidil Haram. Arahnya hanya satu, yaitu menuju masjid besar Kota Suci Mekah, Baitul Atiq.
Sementara di sekitar Ka’bah sudah dipadati lautan manusia berputar-putar mengelilingi Ka’bah. Kalau saja dilihat dari atas, maka akan tampak seperti kue bundar yang ditaburi susu kental putih melingkar. Atau seperti hamparan sajadah putih melingkupi Masjidil Haram. Begitu kumandang azan mengalun, tak lama kemudian solat Maghrib dimulai. Suara Imam besar Syekh Abdur Rahman Atsubaiti terdengar mengimami shalat yang terdengar di seantero Mekah.
Read More..

Jumat, 24 Mei 2013

Mir'at : "Udara"

      Udara adalah ruang di atas bumi yang berisi hawa. Benda yang tidak kelihatan oleh mata ini sangat dibutuhkan oleh manusia. Setiap orang selalu membutuhkan udara untuk bernafas. Tak ada udara, maka manusia akan mati. Ruang hampa udara menyebabkan dada sesak dan pengap. Biasa juga disebut oksigen. Udara semakin bagus, maka semakin nikmat udara dihirupnya. Dan tidak ada orang yang menginginkan hidup tanpa udara. Sebab itu sangat penting artinya udara bagi sebuah kehidupan.
      Polusi udara mengakibatkan hidup tidak nyaman. Dan orang yang mengotori udara berarti sama halnya membuat hidup tak nyaman. Membuat sesak nafas dan rentan terkena penyakit. Maka orang berbondong-bondong mencari udara segar. Seperti daerah Puncak, udaranya sangat sejuk dan segar. Apa lagi ditambah pepohonan yang masih rimbun menghijau. Udaranya segar sekali, dan membuat hidup senang. 

Read More..

Program Utama Islamic Value

Ada tiga program utama Islamic Value yang dapat dikembangkan, yang meliputi : 
1. Aplikasi Ibadah Diharapkan anak didik terbiasa menjalankan Ibadah mahdloh maupun ghair mahdloh, wajib maupun sunnah. Misal dengan pembiasaan shalat berjama’ah Dzuhur dengan para Guru. Shalat Dluha bersama-sama dengan para pembimbing/pendamping. 
2. Terampil membaca Al-Qur’an Diharapkan out put peserta didik mampu membaca Al-Qur’an ( 30 juz ) dengan baik dan benar sesuai dengan kaedah Tajwid. Dan mampu hafal dengan baik, sehingga dapat ditargetkan selama tiga tahun (sekurang-kurangnya) bisa menyelesaikan 37 surat – surat pendek (juz 30) dari tiga tahap (An-Naas s/d An-Naba’). 
3. Integrasi silabus Mata pelajaran 

     Diharapkan peserta didik mampu memahami dan mengaplikasikan setiap pelajaran dengan dua sisi, dari segi materi keilmuan ansich maupun dari sisi kaedah-kaedah Agama. Sehingga Guru mampu menjelaskan nilai-nilia ke Islaman dalam setiap materi pembelajaran yang ada pada silabus. Misalnya tema pembelajaran tentang/bab Ekonomi (mata pencaharian), maka nilai ke islamannya adalah mencari ekonomi (rizqi ) yang halal dan barakah. Ketika Pelajaran Bahasa Inggris, Tema tentang pertemuan, maka ucapan salam ala Islam “Assalamu alaikum wr. Wb.” di samping Good morning dsb. juga dijelaskan oleh Guru bersangkutan. 
       Disertai dalil Al-Qur’an or al-Hadits. Integrasi silabus tak terpisahkan dengan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Di mana dua langkah utama harus dilakukan. Pertama dengan mengoreksi ideologi sekuler yang bertentangan dengan Islam, yang kedua menyerap unsur-unsur utama Islam (Al-Qur’an dan al-Hadits). Di samping konsep dasar Islam seperti Konsep Tauhid, Syari’ah/Fiqih, dan syirah Nabawiyah (Akhlakul Kariemah). Juga hendaknya dikembangkan konsep universal seperti al-adalah ( adil ), al-musawah (egaliter), dll Dalam pengembangannya Kurikulum Islamic Value hendaknya berpijak pada konsep yang dikembangkan oleh Islam Ahlus sunnah wal jama’ah yang mengedepankan asas “Rahmatan lil ‘Alamin” pembawa rahmat bagi semua orang atau kebaikan untuk semua, tanpa membedakan (secara materi) tingkat dan kedudukan perseorangan. Yang akhirnya menjadi Muslim yang intelek dan Intelek yang muslim. Wallahu a’lam bis shawab.
Read More..

Menanamkan Islamic Value di Sekolah

     Tidak dipungkiri lagi bahwa fakta di masyarakat telah terjadi pergeseran nilai-nilai ke-Islaman yang sudah sangat menghawatirkan atas masa depan suatu bangsa. Bahkan nilai-nilai kemanusiaan secara Universal pun mulai tergerus oleh suatu budaya Gelobal yang tak mengenal batas. Sehingga batas antara norma-norma positif dengan norma-norma negatif tidak tampak jelas. Akhirnya masyarakat sulit membedakan antara kebenaran hakiki dengan kebenaran semu. Maka terjadilah kerancuan pandangan dan orientasi hidup atau disorientasi. Berangkat dari fakta itulah maka tokoh-tokoh muslim yang peduli akan dunia pendidikan mengambil peran penting untuk menyelamatkan umat dari tragedi kemanusiaan yang terlepas dari dasar-dasar keimanan dan keislaman. 
   Gagasan tersebut adalah mimpi besar yang tentunya memerlukan tenaga-tenaga yang terampil dan mampu mengimplementasikan dalam pengembangan silabus yang terprogram dan pola-pola hidup keseharian selama di sekolah, mulai dari jam 07.00 sampai dengan jam 15.00 WIB. Karena pembentukan karakter anak didik akan dihabiskan waktunya selama ia berada di lingkungan sekolah, sehingga kehidupan rumah hanyalah sebagai pendukung atas program-progarm sekolah. Jadi keberhasilan dan ketercapaian kognitif dan afektif sangat ditentukan oleh pihak/lingkungan sekolah. Sehingga kalau itu berhasil, maka sekolah-lah yang layak mendapatkan acungan jempol.

Read More..

Hati

     


Seorang anak yang akan pergi berpamitan kepada kedua orang tuanya, maka dikatakan “Hati-hati, di jalan”. Seorang karyawan junior yang akan melakasanakan tugas baru di sebuah cabang perusahaan, dikatakan oleh seniornya : “Hati-hati di tempat barumu”. Seorang suami yang akan berangkat tugas jauh, dikatakan oleh istrinya :”Hati-hati ya Mas..”. Semua orang mengatakan hati-hati. Tidak mengatakan pikir-pikir –misalnya- atau mengatakan “kaki-kaki ya”, karena berjalan pakai kaki. Padahal setiap melangkah harus menggunakan akal pikirannya. Dan kalau berjalan kakinya yang harus waspada, agar tidak tersandung. Dan seterusnya. Mengapa Hati yang disebut-sebut? Karena hati adalah pusat segala kehidupan.
        Manusia bisa selamat juga karena hati. Orang bisa tersesat juga karena hati. Orang bisa sukses memimpin dunia juga karena hati. Ibu berhasil mendidik anaknya juga karena dengan hati. Seorang pemuda berhasil memikat seorang Gadis, juga karena hati. Wal-hasil semua bisa diraih, dengan hati. Maka itulah mengapa Rasulullah saw. bisa berhasil dalam berdakwah? Karena beliau mendidik manusia dengan hati. Sebaliknya, jika seorang Penguasa ingin menundukkan hati rakyatnya dengan kekerasan (diktator), maka hasilnya akan menimpa balik pada dirinya sendiri. Jika seorang Ibu atau Bapak mendidik anak-anaknya dengan kekerasan, maka akan lahir anak-anak yang beringas. Jika seorang Guru mendidik anak muridnya dengan kekerasan, maka akan lahir murid-murid yang galak dan pemalak. Bila seorang suster merawat pasiennya dengan galak, maka bukannya sembuh, tapi semakin kambuh. 

Read More..

Senin, 22 Maret 2010

Menakar Efektifitas Beasiswa 2010 bagi Lulusan SMA sederajat


“Pemerintah menyediakan anggaran beasiswa sebesar Rp.200 miliar bagi lulusan SMA Sederajat yang akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Beasiswa ini diberikan mulai 2010 kepada 20.000 lulusan SMA sederajat yang berprestasi, tetapi kesulitan biaya untuk kuliah. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas di Jakarta, menjelaskan; lulusan SMA berprestasi tersebut mendapat beasiswa Rp. 10 juta per tahun untuk membiayai pendidikan dan bantuan hidup sehari-hari. Beasiswa itu dilanjutkan hingga mahasiswa lulus. Dari hasil penelitian Bappenas, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin rendah tingkat partisipasi masyarakat dari golongan miskin untuk melanjutkan pendidikan.” (red-kompas).

Program Pemerintah dalam pemberian beasiswa tersebut perlu mendapat respon positif dari masyarakat. Sebab dengan dana beasiswa tersebut selain dapat membantu masyarakat (khususnya orang tua siswa) dalam menghemat biaya hidup, sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lain, juga sangat bermanfa’at bagi para remaja lulusan SMA sederajat. Sebab dengan beasiswa itu anak-anak berprestasi dapat lebih meningkatkan prestasinya sehingga lebih produktif dan berdayaguna.

Read More..

Sabtu, 05 Desember 2009

Munculnya Aliran Sempalan

Di Indonesia pada umumnya dan Jawa Barat khususnya hingga hari ini masih sering dikagetkan berita munculnya aliran sempalan (sesat). Seperti sering munculnya Nabi-nabi palsu yang sangat menyesatkan dan menyita perhatian banyak orang. Dan beberapa aliran sesat lainnya yang mengatas namakan agama yang paling benar. Dan hal ini menjadikan citra Departeman Agama (Depag.) yang selalu disorot paling duluan. Misalnya dengan kata-kata sinis sebagian masyarakat :”Ngapain aja sih kerjaan Depag ?” atau ”Di mana sih peran Depag ?”. Hal demikian boleh saja membuat telinga kita merah, tapi tidak boleh terpancing marah. Introspeksi adalah salah satu langkah yang terbaik untuk dijadikan sebagai landasan penyusunan program yang lebih baik lagi.

Contoh kasus tentang aliran sesat ”Inkar Sunnah” yang sudah jelas-jelas telah dilarang dengan adanya Fatwa M U I (Majelis Ulama Indonesia) tanggal 27 Juni 1983 dan Surat Keputusan Jaksa Agung RI. Nomor : Kep-085/J-A/9/1985. Aliran yang secara formal pernah berkembang di Indonesia dengan tokoh intelektualnya Nazwar Samsu dan Dailami Lubis ( buku-bukunya juga sudah dilarang beredar di seluruh Indonesia ini).
Sekedar mengingatkan saja, bahwa sebagian ajaran pokok aliran Inkar Sunnah yang dianggap sesat adalah : mereka tidak percaya kepada semua sunnah/hadits Nabi saw; Dasar hukum Islam hanya Al-Qur’an saja, Mereka tidak wajib puasa Ramadlan kalau tidak melihat langsung tanggal satu/hilal (yang wajib hanya yang melihat saja) dll. Aliran semacam ini sekalipun sudah dilarang secara formal, tapi secara praktek di lapangan tidak menutup kemungkinan akan muncul dalam bentuk lain dan nama lain.

Peran Penyuluh Agama

Penyuluh Agama merupakan salah satu organ dari Departemen Agama yang dipandang sebagai wajah paling depan, karena tugas utamanya berhadapan langsung dengan masyarakat (wilayah publik). Oleh karena itu tampilan para penyuluh itu bisa menentukan citra baik atau buruknya Depag. di mata masyarakat luas. Penyuluh tidak hanya sekedar memberi ceramah di Majelis Taklim atau Khutbah jum’at di masjid. Tapi mereka juga ditunut lebih jauh dari itu, harus mampu dekat dengan umat dan mengambil hati masyarakat di sekitarnya. Pencitraan Depag. bisa dilakukan oleh para penyuluh, jika mereka memang capable dan mumpuni.

Untuk itu peran penyuluh agama sebagai penerang masyarakat juga sebagai guru yang bisa menyuarakan program-program Depag. Melalui edukasi publik. Terlebih Depag. mengemban amanat menjaga akidah dan moral umat. Paling tidak, dapat berperan sebagai pendamping umat dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahan dan keumatan secara bersamaan.
Peran penyelamatan akidah umat misalnya dapat dilakukan dengan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari melalui bimbingan dan pemantauan kegiatan ibadah. Baik di pusat-pusat peribadatan seperti mushalla, masjid atau majelis taklim. Bahkan kegiatan-kegiatan ibadah di padepokan-padepokan atau dari rumah ke rumah yang kini marak di lakukan di kota-kota.

Diteksi Dini

Untuk mencegah terjadinya aliran-aliran sempalan yang meresahkan masyarakat, maka perlu ada hal-hal yang harus dilakukan. Pertama, Pihak Depag, khususnya Penamas, hendaknya merekrut para penyuluh Agama yang memenuhi persyaratan minimal sebagai penyuluh di samping punya moral yang baik di depan masyarakat. Kedua, Pembekalan dengan juklak yang rinci yang dikeluarkan oleh Depag dan disosialisasikan secara berkesinambungan. Ketiga, Penyuluh Non PNS hendaknya dibekali dengan pembekalan yang sama dengan penyuluh PNS, agar dapat berjalan seiring dan saling memperkuat.
Di samping ketiga hal tersebut masih banyak hal yang harus dilakukan, misalnya berkoordinasi dengan pihak-pihak lain. Penyuluh di desa atau kelurahan hendaknya dikoordinasikan dengan program-program yang ada di kelurahan tersebut (tempat tugas/domisili Penyuluh). Program peningkatan mutu SDM (Sumber daya Manusia) bagi Penyuluh dilakukan secara berkelanjutan dan bisa bekerjasama dengan instansi terkait lainnya. Misalnya saja bekerja sama dengan Kejaksaan Negeri setempat dalam kaitan informasi tentang aliran-aliran sesat dari kacamata hukum. Juga bekerjasama dengan Kepolisian dalam kaitan informasi penyalah gunaan Narkotika/obat-obatan terlarang, penanganan/pencegahan prostitusi, penanggulangan traficking, KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), aborsi dan pelanggaran-pelanggaran susila lainnya.

Sinergi antara penyuluh Agama/Depag dengan pihak-pihak terkait lainnya, selain memudahkan beban tugas para penyuluh (karena adanya informasi yang akurat ), juga dapat meningkatkan confident (percaya diri) para penyuluh dan meningkatkan citra positif Departemen Agama di tengah-tengah masyarakat. Sekian . Wallahu a’lam.




H. A. Mahfudz Anwar
(Penyuluh Agama Non PNS, Kota Depok)

Read More..

Sabtu, 22 Agustus 2009

Ideologi Pancasila dalam Era Reformasi


Indonesia dalam perjalanannya yang panjang setelah menempuh perjalanan kemerdekaannya yang sudah mencapai usia 64 tahun, semakin banyak persoalan yang harus dihadapi. Di samping problem ekonomi yang menimpa bangsa ini, persoalan keamanan yang belum menentu terjaminnya, juga persoalan yang lebih menghawatirkan adalah persoalan Ideologi Negara.


Pancasila yang telah disepakati oleh Faunding Fathers negeri ini sebagai ideologi negara mulai mengalami getaran dan gesekan dalam cengkeraman ”Burung Garuda”. Kuku-kuku tajam burung Garuda mulai agak longgar dalam menggenggam tali buhul Pancasila. Telah banyak contoh yang bisa kita katakan di sini. Sebut saja kelalaian terhadap tegaknya nilai-nilai Pancasila yang ter-simbol-kan dalam lambang Burung Garuda atau Burung Elang Rajawali yang dimitoskan sebagai lambang perlindungan bangsa Indonesia.


Lagu-lagu kebangsaan-kepahlawanan banyak yang tidak lagi dihafal oleh anak-anak muda negeri ini. Tapi lagu-lagu cinta yang cengeng dan lebih menjurus ke arah seks lebih mudah populer dibanding lagu-lagu kebangsaan dan perjuangan tersebut. Seperti lagu Garuda Pancasila yang bernada heroik, lagu Indonesia Raya yang memupuk Sense of Belonging terhadap Indonesia dan sejenisnya tidak lagi bersarang di dada para kaum muda. Bahkan sampai acara kenegaraan pun bisa lupa dikumandangkan lagu wajib ini. Ironis ?

-Bukan sekedar Lambang

Garuda atau lebih tepatnya ”Garuda Pancasila” yang terpampang di setiap kantor-kantor baik Pemerintah maupun swasta selama ini lebih dipandang sekedar hiasan dinding. Tak ubahnya ibarat hewan-hewan Sirkus yang sudah tidak lagi mempunyai Yoni atau kekuatan magis bagi pemasangnya. Seperti kita ketahui bersama bahwa macan sirkus itu tidak galak lagi seperti ketika mereka masih ada di dalam hutan rimba. Ular yang besar sudah hilang bisa atau racunnya yang mematikan ketika dipermainkan Pawang dalam pertunjukan Sirkus. Demikian juga burung ”Garuda Pancasila” sekarang yang sepertinya tinggal tempelan dinding, tak lebih dari sekedar hiasan layaknya gambar-gambar burung lainnya.


Padahal Garuda Pancasila yang dipilih sebagai lambang negara semestinya mempunyai nilai-nilai luhur yang patut dan harus dipupuk terus menerus, tanpa terpengaruh oleh situasi apapun. Sebab nilai-nilai itu sifatnya universal dan kekal abadi. Sekedar membangkitkan kembali ingatan kita pada Pancasila dan nilai-nilainya yang mulai terpasung, maka mari bersama-sama kita simak sekilas.


Pertama : nilai historis yang tersimpan dalam tiap sayapnya ada 17 helai, pada ekor 8 helai, bulu kecil-kecil di bawah perisai ada 19 helai dan kecil-kecil di leher ada 45 helai. Ini melambangkan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) terjadi pada : 17 – 8 - 1945. Dan perisai yang tergantung di leher burung Garuda Pancasila berisi lima lambang atau lima Sila sbb : Bintang bersegi lima melambangkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, Rantai melambangkan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Pohon Beringin yang rindang melambangkan Persatuan Indonesia. Kepala Banteng melambangkan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dan Padi-kapas (pangan-sandang) yang melambangkan Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.


Kedua : Nilai politis yang ada pada tulisan ”Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti :berbeda-beda tetapi tetap satu. Ini adalah pengertian falsafah politik bagi ketatanegaraan Republik Indonesia yang lebih mencita-citakan Persatuan dan kesatuan bangsa. Suku boleh berbeda, ras boleh berbeda, agama boleh berbeda, tapi begitu menjadi warga negara Indonesia, maka yang ada hanyalah satu, yaitu Pancasila. Hal inilah yang jika nilai-nilainya kita pegangi dan kita perjuangkan secara terus menerus akan menjadi pemersatu bangsa ini.

-Goncangan-goncangan

Goncangan Bom yang sempat mengoyak ketenangan hidup berbangsa dan bernegara merupakan salah satu gangguan terhadap nilai-nilai Pancasila. Hal ini kalau tidak ditangani secara bersungguh-sungguh dan berhati-hati, maka bisa-bisa akan menjadi persoalan yang melebar dan menjadi bom waktu runtuhnya burung Garuda Pancasila. Karena apapun alasannya, bahwa pengeboman yang dilakukan oleh orang-orang teroris merupakan pengejawantahan dari gejolak ingin keluar dari nilai-nilai Pancasila tersebut. .


Demikian juga gerakan sparatisme yang terjadi di tapal batas atau wilayah-wilayah seperti Papua, Maluku, Aceh dll. juga menjadi hambatan pembangunan nilai-nilai Pancasila. Karena nilai-nilai Persatuan yang dibangun dalam bingkai Pancasila bisa kabur dan hilang, jika peluang sparatisme tidak ditutup. Persoalan yang sesungguhnya berasal dari asas keadilan dan kesejahteraan, bisa beralih menjadi persoalan Ideologis. Oleh karena itu tugas Pemerintah yang baru nanti, yang paling utama dan mendasar adalah mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam gerak nyata yang tertuang dalam program.

Kerukunan antar umat beragama –misalnya- tidak hanya melalui dialog saja, tapi hendaknya menjadi agenda nyata dalam kerjasama yang saling mendekatkan. Baik kerjasama ekonomi maupun kerjasama saling menjaga keamanan di setiap jengkal wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Letupan-letupan kecil yang menyulut pertengkaran antar umat beragama hendaknya diselesaikan secara politis dan ideologis. Dan melibatkan unsur-unsur terkait seperti tokoh-tokoh politik dan tokoh-tokoh agama, yang selama ini kurang dilibatkan oleh Pihak pemerintah/aparat keamanan.


Pembinaan budaya antar suku yang akhir-akhir ini kurang terpelihara dengan baik juga bisa menjadi salah satu pemicu kurangnya rasa nasionalisme. Sebab suku-suku yang bernaung di bawah burung Garuda Pancasila akan merasa bangga jika dihargai eksistensinya. Seperti suku Betawi -misalnya- yang dinilai (sekurang-kurangnya dalam film ) mulai terpinggirkan baik secara geografis maupun secara ekonomis, semakin lama akan semakin merasa tertindas di negerinya sendiri. Hal seperti ini hendaknya secepatnya memperoleh perhatian Pemerintah yang lebih serius, sebelum menjadi ledakan emosional seperti suku Kurdi di belahan negeri lain. Dan suku-suku lainnya yang menanti perhatian dari Pemerintah Pusat, terutama di wilayah-wilayah terluar yang berdekatan dengan negara lain.


Gejolak para teroris, gangguan kaum sparatis dan gangguan-gangguan lainnya tidak akan menjadi kekuatan yang menggangu Ideologi Pancasila, manakala kita semua mengajak kembali kepada buku pedoman berbangsa dan bernegara (RI), yaitu Pancasila. Karena Pancasila ibarat Kitab Sucinya umat beragama. Kitab yang menjadikan bangsa ini bersatu berdaulat dan kokoh dalam wadah NKRI. Kokoh dalam arti mampu membangun negerinya sendiri (berdikari) dan kokoh menghadapi gangguan asing. Semoga Pancasila masih tetap bersarang di dalam sanubari kita semua.

Read More..

Selasa, 02 Juni 2009

IPNU tergantung GREEN-LIGHT NU
















Cikal bakal NU diawali dari pertemuan-pertem
uan anak-anak muda terpelajar yang mempunyai ghirah yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bermula dari Hadratus Syekh K.H.Abdul Wahab Chasbullah yang baru saja pulang dari studinya di Makkatul Mukarramah. Beliau bersama-sama dengan anak-anak muda muslim di Surabaya berkumpul untuk mendiskusikan berbagai persoalan umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Tepatnya pada tahun 1914 M. didirikanlah suatu perkumpulan majelis munadzarah yang diberi nama “Tashwirul Afkar”, artinya potret pemikiran. Tashwirul Afkar yang berawal dari pemikiran ilmiah keagamaan murni, akhirnya semakin lama semakin berkembang sesuai dengan tuntutan zaman pada sa’at itu. Di mana Bangsa Indonesia masih berada dalam cengkeraman penjajah Belanda yang konon beragama Nasrani dan Yahudi.
Dalam perkembangan selanjutnya diskusi-diskusi itu semakin menarik para cerdik cendekia muslim untuk membahas perkembangan perjuangan Syari’at Islam. Membahas bagaimana idealnya syari’at Islam bisa berjalan dengan baik sekalipun Negara berada dalam kungkungan penjajah.
Maka dengan kesepakatan mereka, Tashwirul Afkar dirubah menjadi Jam’iyah Nahdlatul Wathan.
Dari nama yang diberikannya, maka bisa dilihat bahwa bermula dari kumpulan pengajian hingga menjadi perkumpulan atau organisasi yang menjurus politik Dan pada tahun 1916 M organisasi Nahdlatul Wathan ini baru mendapat pengesahan dari Pemerintah Belanda. Jam’iyah artinya : organisasi, al-Nahdlah artinya : kebangkitan, dan Wathan berarti : Tanah air. Jadi Jam’iyah Nahdlatul Wathan berarti : Organisasi Kebangkitan Tanah Air. Dari nama inilah dapat dipastikan bahwa kesadaran berpolitik kaum santri telah resmi menjadi perjoangan yang terorganisir untuk membela bangsa yang tertindas. Dan salah satu sikap tegasnya adalah penentangan terhadap “Guru Ordonantie” yang dibuat oleh Pemerintah Belanda. Yaitu suatu peraturan pembatasan kegiatan pengajaran Agama (Islam). Dan IPNU/IPPNU adalah salah satu Badan otonom dalam NU.
IPNU/IPPNU
IPNU (Ikatan Putera Nahdlatul Ulama dan IPPNU (Ikatan Puteri-Puteri Nahdlatul Ulama), merupakan organisasi tempat berhimpun generasi muda pelajar yang berada dalam kibaran panji jam’iyah Nahdlatul Ulama. IPNU/IPPNU yang berawal dari organisasi pelajar setingkat SLTP dan SLTA ini berfungsi sebagai wadah penempaan jatidiri, interaksi sosial, kejuangan dengan sandaran nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan (ke-Indonesiaan). Secara kelembagaan IPNU/IPPNU memiliki kedudukan strategis sebagai wahana kaderisasi putera/puteri NU sekaligus alat perjuangan NU dalam pembinaan generasi muda. Agar menjadi generasi masa depan yang tangguh dalam memperjuangkan ajaran agamanya dan nilai-nilai kebangsaann-nya. Niali-nilai keagamaan yang diperjuangkan adalah nilai-nilai ajaran Islam Ahlus Sunnah wal-Jama’ah seperti yang diperjuangkan oleh Ulama-Ulama NU. Maka para pemuda/pemudi yang tergabung dalam IPNU/IPPNU berproses dalam kaderisasi formal maupun informal. Kegiatan informal ini sangat penting, karena mereka dihadapkan pada realitas sosial yang selalu berkembang dari waktu ke-waktu. Agar para kader IPNU/IPPNU terlibat langsung dalam segala aktifitas, sekaligus menjadi team work yang baik. Maka dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus NU selalu melibatkan kader-kader muda barisan IPNU/IPPNU. Hal ini dilakukan sebagai sosialisasi antara teori yang dikembangkan dalam pengkaderan formal juga diteruskan pada kehidupan nyata. Untuk itu para anggota IPNU/IPPNU yang secara optimal melibatkan diri dalam proses-proses kegiatan ke-NU-an, baik dalam bentuk kegiatan pengajian keagamaan maupun kegiatan sosial mabarrat akan menjadi kader yang militant. Tapi sebaliknya , anggota IPNU/IPPNU yang hanya mengikuti kegiatan pengkaderan formal saja, akan kering makna. Hanya tahu teoritis, tapi tidak kenal watak NU secara utuh. Sehingga character building dalam ke-IPNU-an kurang dapat dirasakan. Maka dari itu IPNU/IPPNU harus bergerak sesuai dengan green light dari Petinggi-petinggi NU. Dan maju mundurnya IPNU/IPPNU tergantung maju dan mundurnya para petinggi NU. Selanjutnya, tujuan IPNU/IPPNU selain memperjuangkan dan mempertahankan ajaran Islam menurut faham Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, juga membentuk kader-kader bangsa yang berilmu dan berwawasan nasional (NKRI). Dan yang lebih penting lagi adalah terbentuknya kader-kader yang mempunyai kemandirian dan pemberdayaan ekonomi. Jadi jelaskan bahwa IPNU/IPPNU merupakan organisasi kader yang bertugas mengantarkan anggotanya menjadi manusia-manusia yang memiliki karakter yang jelas sesuai dengan karakter yang dibangun oleh NU.
Orientasi Ekonomi
Seperti diketahui bahwa pengkaderan IPNU/IPPNU yang disebutkan di atas adalah mengharuskan kepada aktifis/pengurus IPNU/IPPNU untuk memahami karakter dirinya baik secara kelembagaan maupun secara individu. Terutama untuk mengembangkan organisasi baik kuantitas maupun kualitas. Dari segi kuantitas, diharapkan setiap pelajar yang berjiwa Ahlus Sunnah wal-jama’ah dapat ter-rekrut menjadi anggota IPNU/IPPNU secara sadar. Sedangkan dari segi kualitas, mampu melahirkan kader-kader mandiri, loyal dan militant. Dan yang lebih penting lagi mampu mengimplementasikan konsep Tawazun (keseimbangan), Tasamuh (toleran), I’tidal dan amar ma’ruf-nahi munkar yang dikembangkan oleh Syuriah NU. Dengan paradigma yang terpateri dalam konsep tawazun dan sebagainya itu diharapkan IPNU/IPPNU mampu menjadi kader-kader generasi muda ke depan yang mampu ambil bagian dalam membangun bangsa, menuju pada kehidupan sejahtera lahir dan batin. Dan persoalan bangsa yang paling mendasar pada dekade terakhir ini adalah persoalan ekonomi. Betapa setruktur masyarakat muslim banyak mengalami perubahan dari komunitas pengajian, menjadi komunitas ekonomi, bahkan komunitas politik. Hal ini merupakan salah satu dampak dari sistem pendidikan yang berkembang di sekolah maupun madrasah pada akhir-akhir ini. Kini kaum santri terpelajar tidak hanya bergerak dalam dakwah bil-lisan (pengajian dan zikir lisan), tapi juga merambah pada perjuangan ekonomi syari’ah. Yaitu perjuangan melawan hegemoni Barat yang secara tidak sadar menjajah ekonomi bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia ini. Maka dengan sadar kader IPNU/IPPNU mulai menyelesaikan tugas-tugas team work yang mengarah pada pengembangan ekonomi ke-umatan. Baik melalui koperasi bersekala kecil maupun Baitul mal wat tamwil yang sedikit demi sedikit mulai menterapkan sistem syari’ah. Bahkan tidak sedikit kini Perguruan Tinggi di negeri ini yang mengembangkan kurikulum berbasis ekonomi syari’ah. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para Aktifis IPNU/IPPNU. Sehubungan dengan pelantikan Pengurus Cabang IPNU/IPPNU kota Depok pada hari : Ahad, 31 Mei 2009 oleh Wakil Walikota Depok; diharapkan terjadi penyegaran pada Pengurus, juga terjadi perubahan pengkaderan yang signifikan dalam menghadapi tantangan generasi muda yang semakin komplek dan melelahkan. Selamat dan sukses.Amien.
Read More..