"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh., semoga blog ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang sudah mampir., sebelum melanjutkan tekan ctrl+d untuk mem-Bookmark page ini. Trims. Wassalam."
Kamis, 14 Mei 2015
Serpihan Cinta di Bandara "KING ABDUL AZIZ"
Sabtu, 09 April 2011
Menggambar Kelinci Kalkun
Sabtu, 02 April 2011
Berburu Semut
Sabtu, 26 Maret 2011
Tongkat Komando
Sabtu, 19 Maret 2011
Si Penggembala yang Beruntung
Sabtu, 12 Maret 2011
Potong Ayam
Senin, 03 Agustus 2009
Panggil Aku si Jawa
Postur simbah yang agak gemuk membuatnya awet muda. Walau mbah kangkung (kakek)sudah lama meningal,tapi si mbah putri tetap sabar merawat anak-anaknya hinga dewasa. Bahkan lima anak datujuh anaknya sudah menjadi orang-orang yang mandiri dan terpandang. Raut wajahnya yang selalu bersinarseri menjirat wajah keibuan yang penuh tanggun jawab. Sebentar-sebentar bergerak,berdiri dan berjalan. Dan tidak jarang turut menyapu dan beres-beres perabotan rumah yang kurang pada tempatnya. Padahal usianya sudah delapan puluhan atau lebih.
”orang jawa itu pantang menyerah,”kata siembah seatu saat,”mbah kangkung tudak mengenal leah,” lanjutnya. ”Pagi hinga siang sibuk mengurus sawah, tetpi tapi malam harinya ikut bergerliya bersama tentara rakyak melawan penjajah.
Menurut simbah, bahwa embah kangkung itu potret manusia jawa asli. Selain ciri-cirinya yang kekar, agak ketihitaman kulitnya. Tidak trlalu tampan,tetapi juga tidak jelek. Juga ciri-ciri yang wataknya yang sabar dan bersahaja. Sabar menjalani roda kehidupan. Hinga suatu saat terjadi paceklik, kalau istilah sekarang krismon,mahal beras,mahal pakaian dan semuanya serba mahal. Si embah kakung bilang: ”hidup itu harus seoerti air.”Fisolofi air itu yang prtama selalu mengalir ketempet rendah merendah (murah hati). Kedua,air itu patang menyerah. Ringtan apapun harus dilawan. Batu sebesar apapun bisa diterjang oleh air. Ktiga,air itu mencari temanya.mengunpal sesama air. Bersatu meng hadapi segala hambatan,kalau toh batu itu tidak hangat ,ya harus lewt celah-celahnya.yang penting air bisa berjalan bersama-sama.
Maka tidak aneh kalau simbah putri yang single parent itu tetap bisa berhasil menghartakan anak-anknya hing sukses. Padahal kalau dihitung-hitung dari segi harta tidak mungkin membiyayai anak-anaknya sampai ke peguruan tingi.apa lagi sampai S2atau S3. tapi mungkin berkat fisolofi jawayang dipengangi si mbah, mereka patuh pada orang tua,rajin belajar,rajin bekerja rajin dan ta’at beragama. Tidak diantara anak-anknya yang bandel.
Walaupun teman-temanku tahu namaku Ramadan, tapi lebih banyak memangil ku sijawa,dari pada ramadan. Suatu hari aku bertanding voly ball,teman-temanku menyorki aku :”jawa,jawa,jawa”. Bahkan pak stpam ikut memangil ku ”si Jawa”.”harusnya sorakn itu membuatku semakin semangat bertanding tapi pada sa’at itu. Sorakan mereka justru membuatku jatuh lemas dan tak bersemangat. Hampir saja aku keluar dari pertandingan. Ngmuk dan menojoki stu persatu temanku. Sebaba mereka itu mengolok–olok aku . bahkan menyajungku. Pada awal nya aku dongkol dan kesl jika dipangil si jawa.sakit sekali hatiku,jika mereka menmangilku sijawa. Namun lama-lama aku bisa menerimanya,wlau agk terpaksa.
Kenapa aku bisa menerima pangilan trsebut? padahal semula aku benci, sebab ketika aku teringat nasehat simbah putri yang mengatakan ”orang jawa itu ulet ”. Orang jawa itu rajin, dan sebagian lainya ”. Maka aku berbalik seratus delapan puluh derejat. Tadinya marah jika dengan kata jawa ,kini bangga dan senag. Panggilan itu justru mampu membakar semangatku. Semangt belajar dan semangat berkerja .
”Akan aku berikan bahwa kepada meraka Si Jawa itu tidak hjelek,”bisik hatiku suatu sa’at.”aku harus menujukan pada dunia, bahwa aku bisa.”begitulah terus menerus pikiran ku terpenuhi oleh byangan wajah simbah yang penuh dedikasi ternadap keluarga dan juga terhadap bangsanya. Si mbah memang benar, bahwa keberhasilan tidak bisa dengan santai-santai. Tuhan juga tidak akan merubah nasib sekarang, jika orang itu tidak mau merobahnya.
Wah hasil kejuaraan yang digelar berbulan-bulan mulai tingkat kota sampai porvinsi dan nasional, selalu diliput oleh berbagi media masa cetak mupun elektronik.tentunya mendrokat nama baik sekolah,yang akhir-akhir ini sudah banyak anak-anak sekolah yang tawuran, kasus narkoba,geng-gengan dan berbagai kenakalan remaja lainya.
Tapi sebaliknya,disat-saat mereka bergembira-ria jusru semakin sedih, tak ter bendung air mataku lagi. Karena aku teringat simbah. ”Seandainya saja si mbah meliohat cucunya berhadil tentu dia senag dan bahagia.” begitu hatiku berbisik.
Sewaktu menjelang keberangkatan ke tanah suci mekah, untuk dihajikan oleh oleh anak-ankanya simbah sempat berpesan kepadaku lagi ,”kamu bukan jawa,kalau tidak pintar.” mungkin maksud simbah mungkin menghibur aku. Wajah tidak ganteng, harta tidak banyak. Lalu tidak apa dapat dibagakan. Hanya dengan ilmu dan kerja keras yang bisa mentupi kekuanganku.
Barang kali air mataku dan do’a dibalik kesukseskan ku dalam kejuaraan olimpiade fisika itulah yang bisa kupersembahkan buat simbah.” semoga nasihatmu menjadi jariah disisi tuhan yang meyngimu”.do’aku pelan ditengah keramaian teman-temanku yang lagi asik menyanjungku.
Selasa, 30 Juni 2009
Bunga Edelweis
Siang itu terik matahari menyengat sekali, serasa matahari tepat di atas kepala. Sampai akupun beberapa kali kehabisan tissue untuk menyeka keringat yang bercucuran di wajahku. Aku melihat Bang Toriq bersama tim relawan lainya .penuh semangat mempersiapkan barang-barang apa saja yang akan dibawa pergi. Tidak ketinggalan aku pun turut sibuk mepersiapkanya. Hanya saja aku dan teman-teman wanita semua tidak ikut mengurusi barang-barang berat. Cuma di bagian administrasinya saja dan penggalangan dana.
“Wati, kamu ambilkan kameraku di kantor sekretariat.” kata Bang Toriq sambil membuka-buka tas ransel yang dari tadi digemblokkan di badannya. Aku pun segera meluncur dengan motorku ke sekretariat untuk mengambil kamera yang dimaksud. Ternyata kamera itu sudah dibawa oleh Erna sepuluh menit yang lalu, kata penjaga kantor. Akupun tidak lama pergi lagi ke pelabuhan. Dan Erna sudah ada di pinggir pelabuhan bersama teman-teman akhawat lainya melambai-lambaikan tangannya.
Aku tidak sempat melihat Bang Toriq bersama teman-teman relawan ketika meninggalkan pelabuhan. Hanya bisa melihat dari kejauhan, kalau-kalau yang melambaikan tangan sambil membuka topi merah-hijaunya itu adalah Bang Toriq. “Selamat jalan, Bang Toriq.” kataku lirih. Tanpa disadari air mataku sudah membasahi pipi dan beberapa kali Erna sahabat karibku mengelap pipiku dengan sapu tangannya.
“Ikhlaskan, wati,” tutur Erna di sampingku.
”Ikhlaskan Bang Toriq dan teman-teman semua menuju medan juang,” lanjut Erna menasihatiku.
Tanpa jawaban sepatah katapun yang bisa aku ucapkan selain anggukan kepala yang diiringi dengan isak tangisku. Tak kuasa aku menahan tangis, bukan karena semata aku berpisah dengan Bang Toriq. Tapi aku tidak bisa ikut serta dalam medan juang yang menjanjikan pahala dan keuntungan akhirat yang luar biasa.
Aku ingat nasehat para pembimbingku selama ini di dalam setiap liqa’ : ”Hiduplah dengan mulia atau matilah dengan mati syahid.” Oleh sebab itu hidup adalah perjuangan. Berjuang untuk hidup yang bermartabat. Agar mulia di hadapan Tuhan dan terhormat di hadapan manusia. Apabila terpaksa ajal menjemput, kita pun siap. Sebab Tuhan telah menjanjikan kebahagiaan dan keindahan surgawi. Di dunia bergaul dengan orang yang baik dan di akhirat-pun dikumpulkan dengan para kekasih Tuhan: Anbiya’, Auliya’ dan para Syuhada’.
“Betapa bahagianya, jika aku bisa turut serta dalam rombongan para pejuang itu.” bisikku dalam hati. Tapi itulah keterbatasan sebagai seorang wanita. Tidak bisa ikut terjun langsung ke medan juang. Untungnya sahabatku Erna terus menerus mendanpingiku. ”wati,!” katanya.
”Ya, apa?”, sautku singkat. ”Berjuang itu ada porsi dan tugas masing-masing, tidak harus sama antara laki-laki dan perempuan,” lanjutnya.
“Yang penting kita terus berdo’a untuk keselamatan mereka.” kata Erna seperti suara orang tua yang sedang menasehati anaknya. Aneh, memang; padahal selama ini Erna adalah termasuk salah satu akhawat yang suka ngablak. Ngomong ceplas-ceplos seperti anak remaja gaul pada umumnya. Tapi kali ini bersikap sepeti orang dewasa. Barang kali baru saja dia mendapat hidayah. Persis seperti ustadzah, omongannya setiap kata yang keluar dari mulutnya mengandung hikmah. Sehingga kata-katanya sejuk aku dengar, terasa adem menghunjam ke dalam hatiku, bak disiram air dari kulkas.
”Oh ya, wati, ini ada titipan dari Bang Toriq”, tiba-tiba saja Erna menyodorkan bungkusan kertas warna krem. Tidak sabar lagi menunggu di rumah, bungkusan itupun lalu kubuka. Betapa kagetnya aku, ternyata di dalam bungkusan tersebut terdapat setangkai bunga Edelwis dan selembar surat. Tapi sayang bunga tersebut sudah tidak utuh lagi .
”Ma’af ya, Wati.” kata Erna setelah melihat bunga titipan Bang Toriq telah hancur. ”Saya tidak tahu kalau isinya bunga Edelwis. Mungkin terjepit di dalam tasku tadi,” lanjutnya. ”Ya, tidak apa-apa,” jawabku menghibur. Walaupun hatiku terasa agak kecewa ketika melihat bunga yang sudah agak remuk itu. Dan untung di dalam secarik kertas itu terdapat tulisan tangan Bang Toriq yang bisa menghibur hatiku. Mengurangi luka hatiku karena rontoknya bunga Edelwis.
”Watiku sayang, kukirim bunga edelwis ini untukmu.” kalimat pembukanya yang membuat jantungku berdebar. ”Bunga ini kubawa dari gunung Tengger, Jawa Timur, sewaktu aku ikut latihan relawan di sana,” lanjut tulisan itu. ”Edelwis adalah lambang cinta sejati, kata orang–orang di sana. Walaupun seperti mati, tapi ia tetap hidup.” ”Demikian juga cintaku padamu. Sekalipun kita berpisah sacara ragawi, tapi takkan ada kata berpisah secara nurani. Rinduku tak kan pernah pudar layaknya bunga edelwis ini.” Begitulah bunyi tulisan Bang Toriq yang sempat kubaca di atas kendaraan sepulang dari pelabuhan.
Dan sesampainya di rumah, bunga itu aku rawat dan aku tata kembali. Sedikit-demi sedikit aku sambung dengan lem, sehinga rekat dan utuh kembali. Sekalipun agak kesulitan, tapi akhirnya aku bisa merangkai kembali dan tegar seperti aslinya. Setiap hari aku semprot dengan parfum yang harum, sampai-sampai melebihi harumnya bunga aslinya ketika di tempat tumbuhnya. Kadang di malam haripun masih sempat kuciumi jika usai belajar. Bunga itu kusimpan di meja belajarku dekat lampu yang biasa menerangiku, jika aku sedang belajar atau menyelesaikan tugas-tugas organisasi.
Sementara secarik kertas yang mengiringi bunga edelwis itu aku laminating dan aku bingkai warna coklat muda serasi dengan warna bunganya. Kuletakkan berdampingan dengan bunga yang setiap sa’at aku memandangi bunga itu sekaligus terbaca tulisan Bang Toriq.
Namun aku tetap saja was-was. Sebab sudah menjadi rahasia umum bahwa berita-berita di media massa sering tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Bahkan ada anekdot, “Kalau baca berita Koran, maka bacalah terbalik.” Maksudnya :kalau dikatakan aman, berati tidak aman. Kalu dikatakan tidak ada warga gizi buruk, berarti ada gizi buruk. Dan begitu seterusnya.
Baru setelah sebulan kemudian aku dapat berita bahwa Bang Toriq termasuk salah satu korban kerusuhan Malam Idul Fitri. Di mana tragedi bakar-bakaran rumah terjadi bukan hanya di kota saja, tetapi juga di kampung-kampung. Termasuk kampung Harukau. pusat markas relawan Anti Hura-Hura yang dipimpin oleh Bang Toriq.
“Syuhada’ yang gugur ada lima orang ,” kata ustadz Sarqon ketika berbicara di aula kantor relawan. ”Termasuk Bang Toriq yang waktu itu jenazahnya sempat di solatkan di sebuah Surau terdekat .” Ustadz Sarqon memberi penjelasan panjang lebar tentang tragedi tersebut, yang menurutnya dengan cepat dapat dikendalikan oleh pihak berwajib.
Semua yang hadir menundukkan kepala, pucat dan lesu. Bahkan Erna sahabatku menangis sampai pundaknya terguncang. Sesekali memadangiku sambil sesenggukan menghabiskan air matanya. Mungkin dia juga heran melihatku. Mengapa aku tidak tampak sedih, bahkan terseyum. Memang aku terseyum. Karena air mataku sudah terkuras habis setiap tahajud malam, sambil bermohon kepada Allah. Dalam do’aku yang selalu kupanjatkan : ”Yaa Allah, selamatkan para relawan-Mu. Para pembela-Mu” .”Termasuk Bang Toriq, jika memang harus Engkau panggil, maka tempatkanlah di tempat yang mulia di sisi-Mu.”
Benar juga, akhirnya do’aku dikabulkan oleh-Nya. Kini Bang Toriq menjadi syuhada’ yang insya Allah terseyum di depan malaikat Ridlwan yang menyapanya dengan ramah. Dan bunga edelwis yang pernah retak itu mungkin isyarat akan kepergiannya menghadap Sang Kholiq untuk selama-lamanya. ”Selamat jalan Bang Toriq,” ucapku pelan sesa’at usai mendengarkan kabar dan tausiyah dari ustadz Sarqon. ”Perjuanganmu tak kan sia-sia.Tuhan Maha Mengetahui terhadap perbuatan hamba-Nya, mana yang baik dan mana yang buruk. ”Selamat menikmati hasil perjuanganmu. Kau
memang layak menjadi kekasih Sang Maha Kasih ”, ucapku pelan hingga tak terdengar oleh semut sekalipun.
Selasa, 16 Juni 2009
Lampu Kristal
Hari itu Kamis malam Jum’at. Ya aku ingat betul hari itu tepatnya Kamis malam Jum’at Kliwon. Seperti adat kebiasaan orang kampungku, di setiap malam Jum’at Kliwon mengadakan ritual khusus. Tidak seperti malam-malam Jum’at lainya. Kalau malam Jum’at biasa, para jama’ah hanya membaca surat Yasin dan Tahlil atau Ma’tsurat sehabis shalat Maghrib. Tapi kalau malam Jum’at Kliwon, suasana masjid sangat berbeda. Terasa sangat sakral dan mistis. Dari Ashar sudah ada yang berdatangan di Masjid. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang membaca kalimat-kalimat toyyibah, tasbih. Dan ada juga yang sekedar duduk-duduk di depan masjid ngobrol sana-sini.
Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Jama’ah semakin banyak saja. Mereka memadati jalan-jalan kampung berbondong-bondong menuju masjid. Setiap orang laki-laki dewasa membawa makanan, ada yang di baskom, nampan, nyiru, dll. Beragam makanan dibawa ke masjid. Mulai dari nasi pecel, tahu-tempe, nasi ambeng padat sayur lodeh dan lauk ikan bandeng, sampai ada pula tumpeng lengkap dengan ayam wungkul (utuh) dengan bumbu gule atau kare.
Sesampai di masjid makanan itu dikumpulkan terlebih dahulu di rumah Tuan Guru untuk dihitung dan diatur. Kemudian usai acara ritual di masjid, makanan tersebut dibawa masuk ke dalam masjid bagian depan yang disebut jerambah. Mereka berjajar dan berbanjar seperti barisan tanaman singkong. Sambil duduk bersila saling berhadap-hadapan, menghadap makanan yang dibawa oleh para jama’ah. Mereka saling tukar, ada yang tadinya membawa nasi uduk, dapat nasi tumpeng. Ada yang membawa ambengan, dapat nasi pecel.
”Silakan dibuka !”, kata Pak Ustadz Asnih yang setiap acara selalu bertindak aktif. Kebetulan dia juga pengurus masjid bagian peribadatan. ”Jangan langsung pulang, sebelum dimakan ambengnya.” katanya lagi. Dan orang-orang tua dan muda sibuk masing-masing menyerbu santapan yang sudah tersedia di hadapannya. Tapi ada juga yang hanya mencicipi sedikit, lalu nasi itu dibagi sesuai dengan jumlah peserta yang duduk di depan makanan tersebut. Lalu dibungkus dengan daun pisang yang memang semua makanan diserapi dan ditutup dengan daun pisang. Maklum di kampungku lebih
Mereka pulang dengan hati berbunga-bunga sambil membawa bungkusan nasi yang dibawa dari masjid. Sesampainya di rumah, makanan itu diserahkan kepada istri dan anak-anak perempuan mereka untuk disantap bersama. Sebab anak-anak perempuan mereka tidak ikut ke masjid, semuanya menunggu di rumah. Aku tidak tahu dengan pasti apakah ritual berjama’ah di masjid memang hanya untuk kaum laki-laki saja. Aku juga tidak tahu apakah hal itu memang mengikuti ajaran agama, atau hanya sekedar tradisi. Yang aku tahu sejak kecil hingga sekarang, memang tidak ada kaum hawa di kampungku yang turut serta berjama’ah di masjid. Sehingga masjid itu selalu penuh hanya dengan kaum pria saja.
***
Suatu hari masjid Tuan Guru dipasang lampu kristal yang sangat terang. Indahnya menghiasi masjid yang semakin megah dan mentereng. Dari kejauhan masjid itu terlihat seperti istana. Dari celah kaca-kaca jendela dan kaca atas dekat atap tampak menyorotkan sinar putih kemerah-merahan. Sampai-sampai ada yang berkomentar : ”kaya lampu surga saja”.
Tepat di hari Milad Tuan Guru yang ke-tujuh puluh dirayakan sangat meriah. Selain dihadiri oleh jama’ah sekampung, juga ada pejabat tingginya. Bahkan berhembus kabar kalau lampu kristal yang ada di masjid itu pemberian dari seorang pejabat tinggi yang sedang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di negri ini.
”Mari kita berdo’a bersama untuk tamu kita hari ini, yang mulia Bapak Juhari yang mencalonkan diri sebagai presiden.” Ajak Tuan Guru kepada para jama’ah. Lantas do’a-pun dipanjatkan dan diamini oleh seluruh jama’ah yang hadir. Tidak terkecuali aku pun ikut serta berdo’a. Hanya saja dalam benakku berkata :”mengapa Tuan Guru mau mendo’akan Pak Juhari yang mencalonkan presiden .” Batinku terasa berkecamuk di tengah-tengah berdo’a yang dipimpin Tuan Guru yang selama ini terkenal sangat alim dan wa’ra. Pertanyan yang semakin tak terjawb adalah: ”apa Tuan Guru tidak lagi melihat sesuatu dengan ilmunya yang objektif ?”
Bukanlah Pak Juhari selama ini dikenal orang yang banyak noda hitamnya di tengah-tengah masyarakat. Dia terkenal kaya-raya, tapi juga sejalan dengan itu terkenal
Tuan Guru terus menerus berbicara menasehati para jama’ah. Isinya tentang hidup zuhud atu menjauhi dunia. ”Hidup itu jangan terlalu memanjakan diri dengan bergelimang harta,” katanya. Sebab harta yang melimpah bisa menyebabkan tumpulnya hati. Apa lagi kelak di padang mahsyar, akan menghambat perjalanan menuju surga. Begitu salah satu isi nasihat Tuan Guru.
Aku lihat orang-orang banyak yang manggut-manggut, petanda setuju. Tapi Pak Sutrisno yang duduk di sampingku dari tadi terlihat bengong saja. Tidak menunduk sedikitpun. Matanya mengarah tajam kepada Tuan Guru. Tiba-tiba dia bicara sambil menengok kepadaku: ”Aku tidak percaya lagi dengan Tuan Guru.” ”Masak orang lain disuruh hidup miskin, sementara dia semakin menumpuk kekayaan .” katanya nerocos dan tampak kurang sopan.
”Karuan aku ini kan sudah miskin dari dulu,” kata Pak Sutrisno yang nampak mulai ada penetangan kepada Tuan Guru. Pada hal selama ini aku tahu Pak Sutrisno itu adalah termasuk jama’ah yang paling rajin dan setia menghadiri acara kemasjidan. Sangat jauh berbeda dengn aku yang sering bolos tidak hadir ngaji karena sibuk kerja. Maklum kerjaku juah di kota.
Sepulang dari masjid ternyata banyak orang-orang yang berkata mirip ucapan Pak Sutrisno di masjid tadi. Bahkan ada yang lebih keras setengah mengejek dan profokatif. ”Tidak pantas lagi Tuan Guru berbicara seperti itu ,” kata mereka sambil berjalan menuju rumah masing-masing. Dan tidak itu saja, bahkan ada yang mengancam keluar dari pengajian Tuan Guru. Alasan mereka ; ”Tuan Guru sudah terkontaminasi dengan kehidupan glamour.”
Ada yang beranggapan kalau Tuan Guru sekarang sudah terlalu banyak menerima upeti dari pejabat atau calon pejabat. Sehinga hartanya melimpah, bergaya borjuis mirip
***
Kini semakin hari semakin berkurang yang datang ke masjid Tuan Guru. Kalau toh ada yang datang, tidak sampai setengah masjid. Paling banter hanya di sepuluh baris pertama. Selebihnya kosong tak terisi jama’ah.
Sebagian orang-orang ada yang tidak lagi beribadah sepeti dulu, sebagian ada yang pindah ke tempat lain. Dan yang lebih parah lagi malah ada yang setiap malam hanya menghabiskan waktunya di Pos Ronda atau di taman-taman tengah kampung. Mereka main kartu remi/domino, catur dan lain-lainya. Sementara para remaja hanya main gitar, main tabuh-tabuhan lain sambil teriak-teriak menyanyi tak tahu ujung pangkalnya.
Lebih tragis lagi sandal di depan masjid sering hilang, bahkan tidak sedikit motor yang hilang tanpa bisa diketemukan malingnya. Sekarang masjid dikelilingi oleh orang-oran yang lupa ibadah.
”Kini malam Jum’at, tidak sakral lagi,” kata Ustadz Asnih yang mengeluhkan kekosongan masjid. Tiba-tiba Tuan Guru muncul melewati Pos Kamling penuh dengan orang-orang yang sedang main kartu sambil mabuk-mabukan. Dan seperti biasanya Tuan Guru tidak bisa diam kalau melihat kemungkaran .
Kontan Tuan Guru menegur, ”Bubar-bubar, sudah malam ,” katanya kepada orang-orang yang sedang asyik-masyuk di Pos tersebut. Bukannya mendapat respon yang baik, tapi justru balasan yang sangat tidak wajar. Mereka mengamuk memukuli Tuan Guru sambil mengeluarkan kata-kata keji. Kekuatan yang tak seimbang sempat membuat Tuan Guru jatuh terpelanting. Untung saja para jama’ah yang lewat menolong Tuan Guru hinga terselamatkan dari amukan yang lebih parah.
Keesokan harinya orang-orang yang terlibat dalam penganiayaan Tuan Guru dicokok oleh pihak berwajib. Satu persatu ditangkap dan dijebloskan ke dalam sel kantor Polisi. Meskipun situasi dapat diatasi dengan cepat, namun situasi kampung tidak kondusif lagi. Semakin menambah deretan alasan orang untuk tidak hadir di masjid.
”Gara-gara lampu kristal ini barangkali penyebab hilangnya wibawa masjid Tuan Guru,” pikirku nakal. Lambat laun lampu-lampu penerang di depan masjid-pun dikurangi satu persatu dengan alasan meghemat listrik. Akupun prihatin, dan turut berduka cita atas kosongnya masjid ini.”Mungkinkah masjid ini akan ramai kembali seperti sedia kala?” ,begitu terus ucapan lirih di dalam hatiku.
Tuan Guru yang dulu alim dengan redupnya lampu masjid, tapi membawa cahaya terang buat penduduk sekitar. Kini Tuan Guru yang alim dengan megahnya masjid, tapi tak mampu lagi menyelamatkan cahaya batin masarakat .”Oalaah.....zaman edan ngkali’.”
Senin, 13 April 2009
Dosenku Killer
Malam itu sepulang kuliah semuanya bertangisan. Juga aku tak kuasa menahan air mata. Entah berapa banyak tissue yang aku lempar ke keranjang sampah. Rumah kos yang biasanya ramai dengan canda-tawa mahasiswa dan hilir mudik cewek-cewek kuliahan, kini terlihat sepi. Lampu-lampu neon yang menerangi sekitar taman Rumah Kos seakan tak berarti. Apa lagi langit tak menampakkan sinar terangnya sedikitpun. Awan mendung yang menggelantung sepertinya akan menjatuhkan air dengan derasnya.
“Kalian makan dulu!”, kata ibu kos sambil mundar-mandir mempersiapkan makan malam. ”Ini loh makannya sudah siap,”lanjutnya. ”Ada pepes jamur, kesukaan kalian,”kata Ibu Kos setengah merayu. Tapi tidak seorang pun yang bergegas nyamperi meja makan. Tidak seperti biasanya. Belum selesai Ibu Kos menata makanan di meja sudah diserbu. Maklum sepulang kuliah perut-perut sudah lapar. Apa lagi musim hujan, jika di kampus, ingin cepat-cepat berlari menyantap makanan.
Begitu selesai menata makanan, Ibu Kos menanti kedatangan para mahasiswa. ”Ada apa sih, kok pada gak datang ke meja makan,” bisik ibu Kos lirih, sambil berjalan menuju kamarku. Di mana teman-teman sedang berkumpul seperti halaqah atau diskusi, semua duduk di atas kasur, saling menatap satu sama lain.
Tiba-tiba Ibu Kos muncul di pintu kamar. ”Rahwat !”, panggilnya. ”Ayo makan, entar keburu dingin loh makannya,” sambil memandangiku yang sedang tertunduk lesu dengan teman-teman sekamar. Di kamarku sebenarnya hanya berempat. tapi malam itu teman-teman kamar sebelah pada datang, ngumpul saling curhat.
“Ada apa sih, kalian?. Kok nggak buru-buru makan?,” tanya Ibu Kos agak penasaran.
“Nggak kok bu, nggak ada apa-apa,” kataku menutupi kesedihanku. Aku berusaha tersenyum walaupun hati terasa teriris-iris.
”Itu Bu, gara-gara Si Dosen Killer,” kata Wardah setengah sewot.
”Emang kenapa Pak Dosen?”, tanya Ibu Kos.
“Masa kami semua dapat nilai C, Bu”, timpal heti.
”Ya Bu”, kata Wardah menimpali.
”Itu Pak Dosen Killer, tidak menghargai belajar kami. Empat bulan kami berlajar”, sambungnya. ”Tapi giliran ulangan, nilainya C semua. itu kan jatuh banget.”
Bukan nilai C-nya yang aku sesali, tapi seakan usahaku dan teman-teman selama ini sia-sia. Belajar siang-malam tak membuahkan hasil. Apalagi setiap ujian lembar koreksiannya tak pernah dibagikan lagi kepada mahasiswa. Tahu-tahu nilai sudah ditempel di papan pengumuman.sehingga aku curiga, jangan-jangan lembar jawaban itu tak pernah dikoreksi oleh Pak Dosen.
Jadi, mungkin kalau hatinya senang, dia beri nilai baik. Kalau hatinya lagi nggak enak, memberi nilai kepada mahasiswa jelek-jelek. Jadi ya nilai itu seenaknya saja. Suka-suka, tergantung hatinya. Tidak lagi berstandar, apalagi rasional.
***
Seminggu kemudian aku dan teman-teman iseng-iseng berusaha mencari tahu, kenapa nilai anak-anak sekelas jeblok semua. Kebetulan kuliah sudah libur, aku dan
teman-teman mencoba datang ke rumah Pak dosen. Ternyata sulitnya minta ampun mencari tempat tinggal Pak Dosen Killer itu. Alamatnya jelas, RT dan RW-nya jelas, nomor rumahnya pun jelas. Tapi tidak banyak warga yang tahu di mana rumah Pak Dosen itu tinggal.
Setelah pencarian yang memakan waktu berhari-hari, akhirnya ketemu juga. Ternyata tinggal di gang kecil. Tepat di belakang gedung tinggi, di rumah kontrakan berlantai dua. Dan Pak Dosen itu tinggal di lantai atas. Tetangga kanan – kirinya tidak banyak yang tahu dengan kehidupan Pak Dosen. Mereka hanya tahu bahwa rumah itu ditempati oleh seorang laki-laki setengah tua yang tidak berkeluarga. Hidup sendirian, tanpa istri, tanpa anak dan tanpa pembantu. Hanya sesekali ada orang yang datang mengecat pagar atu tembok rumah.
Kebetulan pagi itu Pak Dosen lagi duduk-duduk di kursi putih yang ada di teras rumahnya. Memakai kaos oblong putih bercelana hitam. Rupanya baru saja selesai mencuci mobil coklatnya yang biasa dipakai ke kampus.
”Selamt pagi Pak ”, kataku serempak dengan teman-teman ketika membuka pintu pagar besi yang pendek sekitar satu meter.
”Pagi”, jawabnya singkat. Lalu aku dipersilakan duduk, dan Pak Dosen buru-buru masuk rumah ganti baju. Keluar-keluar sudah pakai baju hem biru warna kesukaanya.
”Ada apa ini, kok pagi-pagi sudah datang?”, tanya Pak Dosen setengah kaget.
”Nggak, kebetulan liburan, kami jalan-jalan aja ingin tahu rumah Pak Dosen,” kata Rahwat.
Setelah ngobrol sana-sini Pak Dosen pamit bergegas pergi, karena ada telepon dari seseorang. Nampaknya dia sangat sibuk, sekalipun hari itu libur. Sehingga akupun terpaksa minta pamit, walau niatku belum tercapai.yaitu ingin tahu alasan jebloknya nilai mata kuliah Penelitian yang diajar oleh Pak Dosen killer ini. Dengan langkah gontai aku meningalkan rumah Pak Dosen bersama teman-teman yang senasib.
***
Sebulan kemudian di kampus gempar.terdengar berita tak mengenakkan. Yaitu kabar meningalnya Pak Dosen Killer. Di seantero kampus, membicarakan kematian Dosen itu. Di kantin, di halte dan di sudut-sudut taman para mahasiswa sibuk berbicang tentang meninggalnya sang Dosen killer. Ada yang sedih dan ada yang tampak senang. Terutama anak-anak mahasiswa yang merasa dijatuhkan nilainya oleh Dosen tersebut.
Pasalnya berita kematian tersebut tidak sewajarnya. Issue yang beredar, Pak Dosen sudah lama tidak datang mengajar di kampus. Menurut pihak sekretariat akademik, telepon Pak Dosen tidak bisa dihubungi. Jadi pihak kampus kehilangan kontak dan putus komunikasi.
Akhirnya waktu itu bagian Rektorat mengutus salah seorang petugas untuk mengecek keberadaan Pak Dosen di rumahnya. Barulah petugas kampus tersebut mengetahui kalau Pak Dosen sudah meninggal tiga hari yang lalu.
”Waktu itu, masyarakat sekitar rumah Pak Dosen dibuat geger,” kata petugas kampus. Sebab mereka tahu kalau Pak Dosen meninggal, setelah tercium bahu busuk yang sangat menyengat datang dari rumah Pak Dosen.
Dan Pak Dosen meniggal tanpa diketahui oleh seorang wargapun. Tidak tahu sakit apa, kalu dia sakit. Juga tidak tahu apakah dia meninggal secara wajar atau tidak. Namun secara kasat mata, tak ada tanda-tanda penganiayaan sedikitpun.
Hanya saja menjadi aneh, mengapa seorang intelek dan berilmu tinggi , tetapi meniggal tanpa diketahui oleh masyarakat. Apakah karena terlalu sibuk, sehinga pergi pagi pulang petang ? Dan tak sempat kenal dengan warga sekitar tempat tinggalnya?” Atau karena kehidupan masyarakat kota besar seperti jakarta ini memang sudah demikian individuialisnya,?” pikiranku terus mereka-reka. Aku dan teman-teman tidak henti-hentinya baca istighfar. Membayangkan diriku yang kelak hidup di kota besar juga.
Akhirnya, untung Pak Ustadz membuka pikiranku. Ketika halaqah di masjid kampus, dia bilang: ”Orang itu ditentukan oleh temannya .”Artinya, jika berteman dengan orang baik, maka akan memperoleh kebaikanya. Dan jika berteman orang jahat, akan terimbas jahatnya. Kalau tidak berterman, maka tak ada orang yang menolong nya walau ia butuh pertolongan.
”Kini kematian Pak Dosen Killer itu telah meninggalkan pelajaran berharga,” kata Rahwat di sela obrolannya di kantin. Ganasnya kota besar ternyata mampu melumpuhkan kekuatan intelektualitas yang tidak dibarengi dengan terangnya pelita nurani. Sehingga hidup menjadi egois dan individualis. Dan tak berdaya melawan kepongahan tatanan sosial yang serba materialistis. ”Selamat jalan Pak Dosen Killer! Semoga lakonmu membuka kunci nurani nan beku!”, begitu kira-kira kalau ditulis dalam papan nisan atau bunga ucapan duka cita di pusaranya.




