"Welcome to LENTERA ISLAM" Semoga bermanfaat Happy Reading

Rabu, 16 Juni 2010

Kaum Pesantren



Seperti diketahui dalam sejarah Islam Indonesia bahwa penyebar utama ajaran Islam di bumi Indonesia adalah para Masya yih dan para Wali , khususnya Wali Songo (Sembilan). Mereka itu dikenal dengan penganut Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang arif dan konsisten (teguh pendirian). Sehingga mendakwahkan Islam dengan moderat, kearifan, dan mereka lakukan dengan tadrij/bertahap atau evolusi bukan revolusi. Hasilnya, Islam di Indonesia menjadi agama yang merakyat, dianut oleh banyak orang tanpa melakukan pemaksaan kehendak, apa lagi pertumpahan darah.  Islam dibawa dengan damai (Rahmatan lil ‘Alamien).
Para Wali dan Ulama berdakwah di Indonesia tidak dengan menghancurkan candi-candi orang Hindu/Budha atau menghancurkan patung serta berhala, tapi dengan cara akulturasi. Pembauran budaya dan tradisi. Dan Tradisi lama yang tidak sesuai dengan Islam diberantas dengan bertahap, sedangkan tradisi yang tidak bertentangan dengan Islam dibiarkan terus keberadaannya dan diberi nafas Islam.

Read More..

Senin, 14 Juni 2010

Tawakal itu TIDAK Lemah


Ketika jatuh miskin tidak punya apa-apa, tidak mau usaha dan bekerja. Alasannya ”Ya, aku tawakal saja”. Ketika sakit, tidak mau ke dokter untuk berobat. Alasannya, ya aku tawakal saja. Kalau memang Allah menghendaki saya sembuh, kan sembuh sendiri.” Aku berserah saja kepada Allah.” Pernyataan semacam ini nampaknya seperti benar dan sangat baik dalam beragama. Padahal pada hakekatnya pernyataan tersebut sangat menyesatkan. Menjadikan orang malas dan tidak kreatif.

Lalu bagaimana tawakal yang benar ? Islam melarang manusia diam tak berusaha. Apalagi menyerah pada nasib. ”Sungguh Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga mereka yang merubah nasibnya sendiri.” Jadi meninggalkan usaha atau bekerja itu tak sejalan dengan ajaran Islam. Sebab tawakal itu adalah justru merupakan buah dari usaha dan bekerja. Setelah berusaha semaksimal mungkin, maka seseorang akan mencapai derajat tawakal.
Read More..

Minggu, 13 Juni 2010

Cinta di Gedung Tua



         Awan putih bergulung-gulung. Seakan berkerja satu sama lain. Berlari ke arah barat. Dari Syi’eb Amer menyeberangi Ka’bah menuju arah Aziziyah. Sesekali melihat burung Dara Fatimah melayang-layang diatas Ka’bah. Menambah cantiknya pemandangan kota Mekah manakala Maghrib menjelang. Manusia berpakaian serba putih berbondong-bodong melewati jalan raya dan gang-gang sempit di pasar Seng. Arahnya satu, yaitu mendatangi masjid besar, kota Mekah.
        Sementara disekitar ka’bah sudah dipenuhi dengan hantaran manusia berputar-putar mengilingi Ka’bah. Kalau dilihat dari atas, maka akan tampak seperti kue bundar yang ditabuhi susu putih melingkar. Atau seperti hamparan sajadah putih melingkupi Masjidil Haram. Begitu kumandang adzan mengalun, tak lama kemudian shalat Maghrib dimulai. Suara imam besar Syekh Abdurahman terdengar merdu mengimami shalat yang terdengar di seantero kota mekah.
Read More..

Jumat, 21 Mei 2010

Kerudung Warna Jingga

*dimuat di koran Monitor Depok


            Seperti biasanya setiap malam jum’at para remaja puteri berkumpul di surau pak Tohari. Mereka memang rutin membaca riwayat Nabi SAW. yang diistilahkan sebagai diba’an. Demikian juga aku malam itu aku turut serta datang ke surau untuk Jam’iyah Diba’an. Sampai pukul sembilan malam acara sudah selesai. Tapi setelah itu aku dan kawan–kawan tidak boleh langsung pulang oleh pak Tohari. “Anak-anak, jangan pulang dulu,” katanya sambil berdiri di pintu Surau.
           Aku sudah merasa tak enak antara berani dan tidak untuk bertanya kepada pak Tohari. Semua menyimpan tanda Tanya. Sampai-sampai ketan bungkusan daun pisang yang dihidangkan kepada peserta diba’an tak ada yang membuka. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kalau selesai diba’an langsung berebut duluan membuka bungkusan untuk dimakan sampai habis. Terkadang malah ada yang saling minta punya temannya. Dan itu biasa bagi teman-teman seperkumpulan diba’an, untuk saling berbagi konsumsi. Pertanda keakraban.
Read More..

Tawakal itu Indah



           Tidak semua orang bisa merasakan keindahan bertawakal. Sebab hidup ini memang terkurung oleh berbagai kemewahan dunia. Dan terpasung oleh keinginan nafsu serakah. Hidup banyak tergantung pada dunia ibarat bayi netek Ibunya. Tak mau dilepas sebelum kenyang, dan menagis menjerit-jerit jika haus sebelum disusui oleh Sang Ibunya.
          Begitulah kehidupan manusia pada umumnya. Tapi jika kita mau sedikit membongkar-bongkar jati diri kita, maka kita akan temukan rahasia tawakal yang penuh dengan keindahan. Setiap hari orang yang bertawakal akan selalu memuji-muji Tuhannya. Mengucap sukur Al-Hamdulilah, yang berarti segala puji bagi Allah. Mengapa demikian ? Sebab orang yang beriman akan selalu merasakan getaran dan keindahan wujud Ilahi.

Read More..